pengertian taubat nasuha

Pengertian Taubat

Taubat berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali. Menurut istilah, taubat adalah kembali dari perbuatan dosa dan salah kepada perbuatan yang terpuji. Adapun secara terminologis, Imam an-Nawawi mengatakan, taubat adalah raja’a ‘an al-itsmi (kembali dari dosa) (Syarah Shahih Muslim, XVII/59). Dengan kata lain, taubat adalah kembali dari meninggalkan segala perbuatan tercela (dosa) untuk melakukan perbuatan yang terpuji (‘Atha, 1993).
Taubat tersebut adalah suatu keniscayaan bagi manusia, sebab tidak satu pun anak keturunan Adam AS di dunia ini yang tidak luput dari berbuat dosa. Semua manusia, pasti pernah melakukan berdosa. Hanya para nabi dan malaikat saja yang luput dari dosa dan maksiyat. Manusia yang baik bukan orang yang tidak berdosa, melainkan manusia yang jika berdosa dia melakukan taubat.

2. Pengertian Raja’

Pengertian raja’ secara bahasa, berasal dari bahasa arab, yaitu “rojaun” yang berarti harapan atau berharap. Raja’ adalah perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Secara terminologi, raja’ diartikan sebagai suatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-hambaNya yang shaleh.
Imam Qusyairy memberikan pengertian raja’ sebagai keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana halnya khauf berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa datang.
Raja’ termasuk akhlakul karimah terhadap Allah SWT, yang manfaatnya dapat mempertebal iman dan mendekatkan diri kapada Allah SWT. Muslim yang mengharapkan ampunan Allah, berarti ia mengakui bahwa Allah itu maha Pengampun. Muslim yang mengharapkan agar Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, berarti ia meyakini bahwa Allah itu maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Recent Posts

adab menjenguk orang sakit akidah akhlak

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Diantara sekian banyak amal shaleh yang ditekankan oleh syari’at kita serta dijanjikan bagi para pelakunya dengan ganjaran yang besar ialah menjenguk orang sakit. Yang paling jelas adalah sebuah sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
« أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perkara: ‘Beliau memerintahkan kami supaya mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terdhalimi, membantu melepas (kafarah) sumpah, menjawab salam dan mendo’akan orang yang bersin”. HR Bukhari no: 1239. Muslim no: 2066.

Adab bagi yang menjenguk:

Sunah yang dianjurkan bagi orang yang sedang menjenguk ialah mendo’akan orang yang sedang sakit dengan rahmat dan ampunan, penghapus dosa, keselamatan dan kesembuhan. Salah satu do’a beliau ialah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Adalah kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila datang pada orang yang sedang sakit beliau mendo’akan orang tersebut dengan do’a: “Hilangkanlah sakit, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan -Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. HR Bukhari no: 5675. Muslim no: 2191.

Dalam menjenguk orang sakit ada beberapa pelajaran yang bisa kita raih diantaranya:

Pertama: Pahala yang besar dari Allah azza wa jalla, sebagaimana telah lewat penjelasannya dalam hadits-hadits terdahulu.
Kedua: Akan menguatkan kondisi si sakit dikarenakan dikunjungi oleh orang yang dicintainya.
Ketiga: Mendo’akan pada orang yang sakit. Atau merasa kehilangan kabar tentangnya sehingga hal tersebut tidak mungkin bisa diketahui kecuali bila dirinya datang menjenguknya.
Keempat: Mengingatkan bagi pengunjung akan nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang sangat besar padanya yaitu nikmat sehat, dimana hal tersebut tidak diperoleh sama saudaranya.
Kelima: Mengajak untuk masuk ke dalam Islam jika yang dijenguknya adalah non muslim.
Keenam: Terkadang dirinya bisa menyarankan bagi si sakit untuk mengkonsumsi obat tertentu yang telah ia ketahui, sehingga hal tersebut memberi manfaat untuknya dan dirinya.
Ketujuh: Memasukan rasa senang pada hati orang yang sedang sakit dengan menyebutkan kabar gembira padanya.
Kedelapan: Akan menumbuhkan rasa saling menyayangi, mencintai serta mengasihi dilingkungan muslim. Yaitu dengan cara memotivasi orang yang sedang sakit sehingga dirinya serta keluarganya merasa tidak sendirian merasakan musibah yang sedang dideritanya, bersama-sama merasakan beban dan musibahnya.


Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/

nama nabi ulul azmi

Rasul-rasul Ulul Azmi dan Mu’jizatnya

Ulul Azmi artinya seorang Rasul Allah yang memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Dari 25 Rasul Allah yang meraih derajat Rasul Ulul Azmi ada lima.

Rasul-rasul yang meraih derajat Ulul Azmi tersebut yaitu:

Nabi Nuh AS
Nabi Ibrahim AS
Nabi Musa AS
Nabi Isa AS
Nabi Muhammad AS
Mu’jizat Nabi-nabi Ulul Azmi
Yang dimaksud dengan Rasul Ulul Azmi adalah para Rasul yang mempunyai keistimewaan atau kelebihan, serta tabah dalam menghadapi cobaan.
Mu’jizat adalah semacam kejadian atau kepandaian yang luar biasa pada diri seorang Nabi atau Rasul, yang datangnya dari Allah SWT.
Mu’jizat Nabi Nuh AS
Kemampuan membuat perahu
Ketika perahu Nabi Nuh dibakar oleh umatnya tidak bisa terbakar
Dengan perahu itu pula, Nabi Nuh dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari bencana banjir
Mu’jizat Nabi Ibrahim AS
Ketika masih bayi ibu jarinya bisa mengeluarkan madu
Peristiwa penyembelihan Ismail, yang kemudian digantikan gibas (domba)
Ketika dibakar oleh Raja Namrud, tidak terbakar.
Mu’jizat Nabi Musa AS
Tongkat yang dimilikinya bisa berubah menjadi ular yang besar, sehingga bisa mengalahkan ular ciptaan tukang sihir Raja Fir’aun
Dengan tongkat itu pula Nabi Musa bisa membelah lautan, ketika Nabi Musa dan pengikutnya di kejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya.
Ketika pengikut Nabi Musa kehausan, tongkat beliau dipukulkan ke batu, kemudian memancar- kan air untuk di minum.
Mu’jizat Nabi Isa AS
Bisa berbicara ketika masih bayi
Menjadikan burung dari tanah
Dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan, seperti lepra, buta dan lain-lain
Dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal atas ijin Allah.
Mu’jizat Nabi Muhammad SAW
Dengan menunjukkan telunjukknya, beliau bisa membelah bulan dan merapatkannya kembali
Ketika umatnya kekurangan air, dari sela-sela jari beliau dapat mengeluarkan air yang cukup untuk di minum dan untuk berwudlu oleh banyak orang
Peristiwa Isra’ Mi’raj, jakni diperjalankannya Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke Sidratul Muntaha
Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang paling besar bagi Nabi Muhammad SAW. Karena Al-Quran sangat universal di sepanjang zaman, yang memuat berbagai hal yang menyangkut kehidupan seluruh makhluq, baik di dunia maupun di akhirat, juga berbagai macam ilmu pengetahuan.


Sumber: https://pengajar.co.id/jasa-penulis-artikel/

macam-macam santri

Keberagamaan Santri Jawa

Greag Fealy dalam artikelnya mencatat bahwa variasi tradisi santri jawa populer yang terus dikokohkan dikalangan mereka adalah praktik-praktik lokal, seperti ritual lingkaran hidup, ritual slametan, ziarah kubur, muludan, tahlil dan sebagainya. Greag Fealy hanya mengambil satu sempel yaitu praktik ziarah kubur.
Ziarah kubur telah diajarkan oleh Nabi Muhammad yang menganjurkan untuk berziarah kubur walaupun sebelumnya dilarang karena dikhawatirkan merusak akidah umat yang masih rentan. Ziarah kubur dalam Islam faedahnya antara lain agar mengingatkan kepada orang yang hidup akan kematian sehingga dapat diambil peajaran darinya selain itu juga mempunyai tempat tersendiri di dalam kultur Jawa, yaitu kebiasaan orang Jawa yang selalu menaruh hormat kepada leluhur-leluhurnya. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, seperti datangnya bulan Ramadan, berziarah ke makam leluhur menjadi bagian integral tradisi orang jawa yang disebut megengan, yaitu ritual khusus untuk mempersiapkan diri (raga) dalam rangka memasuki bulan suci Ramadan. Bulan suci Ramadan yang penuh “rahmat dan ampunan” dalam ajaran Islam tidak bisa diraih jika tidak dengan jiwa-raga yang bersih, salah satunya dengan cara memohon maaf kepada para leluhur melalui tradisi ziarah kubur.[3]
Menurut Clifford Greetz, secara geografis golongan santri biasanya berada dalam wilayah disekitar pesisir pulau Jawa, yang menjadi titik tolak penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah. Pemahaman mereka terhadap Islam cukup mendalam bahkan dalam pengamalan tergadap syari’at Islam lebih murni. Itu sebabnya banyak muncul pesantren disepanjang pantura pulau Jawa. Dengan demikian, santri kategorinya adalah orang yang melaksanakan kewajiban agama secara cermat dan teratur, dalam hal ini juga sesuai apabila disematkan pada masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pedagang karena interaksinya dengan dunia luar sangat intens. Clifford Greetz menggambarkan bahwa inilah masyarakat Islam yang tinggal di Jawa yang memadukan Islam dengan budaya lokal.[4]

E. Kesimpulan

Santri adalah peserta didik yang belajar atau menuntut ilmu di pesantren. Pola kehidupan pesantren termenifestasikan dalam istilah “pancajiwa” yang didalamnya memuat “lima jiwa” yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri yaitu meliputi: Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Kemandirian, Jiwa Ukhuwah Islamiah, Jiwa Kebebasan. Bagi kaum santri dalam beribadah lebih pada penghayatan nilai-nilai ketuhanan tidak hanya ikut-ikutan dan lebih bertoleran dalam menghadapi berbagai macam perbedaan/persoalan dalam kaitannya dengan peribadatan.

Recent Posts

skripsi tentang santri

Pengertian Santri

Istilah santri pada mulanya dipakai untuk menyebut murid yang mengikuti pendidikan Islam. Istilah ini merupakan perubahan bentuk dari kata shastri (seorang ahli kitab suci Hindu). Kata Shastri diturunkan dari kata shastra yang berarti kitab suci atau karya keagamaan atau karya ilmiah.[1]
Santri adalah peserta didik yang belajar atau menuntut ilmu di pesantren. Jumlah santri biasanya menjadi tolak ukur sejauh mana pesantren telah bertumbuh kembang. Manfred Ziemek mengklarifikasikan istilah santri ini kedalam dua kategori, yaitu santri mukim (santri yang bertempat tinggal di pesantren) dan santri kalong (santri yang bertempat tinggal diluar pesantren yang mengunjungi pesantren secara teratur untuk belajar agama).

C. Pola Kehidupan di Pesantren

Pola kehidupan pesantren termenifestasikan dalam istilah “pancajiwa” yang didalamnya memuat “lima jiwa” yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri. Kelima jiwa ini adalah sebagai berikut :
a. Jiwa Keikhlasan
Jiwa ini tergambarkan dalam ungkapan “sepi ing pamrih”, yaitu perasaan semata-mata untuk beribadah yang sama sekali tidak termotivasi oleh keinginan keuntungan-keuntungan tertentu. Jiwa ini terdapat dalam diri kiai dan jajaran ustadz yang disegani oleh santri dan jiwa santri yang menaati-suasana yang didorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa hormat.
b. Jiwa Kesederhanaan
Kehidupan di pesantren diliputi suasana kesederhanaan yang bersahaja yang mengandung kekuatan unsur kekuatan hati, ketabahan, dan pengendalian diri didalam menghadapi berbagai macam rintangan hidup sehingga dapat membentuk mental dan karakter dan membentuk jiwa yang besar, berani, dan pantang mundur dalam segala keadaan.
c. Jiwa Kemandirian
Seorang santri bukan berarti harus belajar mengurus keperluan sendiri, melainkan telah menjadi menjadi semacam prinsip bahwa sedari awal pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak pernah menyandarkan kelangsungan hidup dan perkembangannya pada bantuan dan belas kasihan orang lain, kebanyakan pesantren dirintis oleh kiai dengan hanya mengandalkan dukungan dari para santri dan masyarakat sekitar.
d. Jiwa Ukhuwah Islamiah
Suasana kehidupan di pesantren selalu diliputi semangat persaudaraan yang sangat akrab sehingga susah senang dilalui bersama, tidak ada pembatas antara mereka meskipun sejatinya mereka berbeda-beda dalam berbagai hal.
e. Jiwa Kebebasan
Para santri diberi kebebasan dalam memilih jalan hidup kelak di tengah masyarakat. Mereka bebas menentukan masa depan dengan berbekal pendidikan selama berada di pesantren.[2]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

sejarah perkembangan tasawuf abad 5

Jurnal Tokoh Sufi Abad V dan Gerakan Pembaharuan Tasawuf

Al-Qur’an dan As-sunnah.

Pembahasan :
Dalam perkembangan tasawuf abad ke-lima sendiri dipengaruhi oleh perkembangan sebelumnya. Dimana pada saat kematian al-Hallaj di atas tiang kayu menimbulkan kesan yang tidak baik terhadap pandadangan tasawuf waktu itu.[1] Setelah beliau menjalani hukum mati pada tahun 922 M. Tahun-bertahun bertambahlah perbedan antara pandangan ilmu fiqih dengan tasawuh hingga puncaknya pada abad ke-lima yang membahas permasalahan mtafisika yang tinggi. Pada waktu itu terkenal tujuan dari tasawuf yaitu mencapai kebahagian jiwa dengan mencari tuhan.
Abad ke-empat berkembang tiga ilmu dalam Islam, yaitu ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fiqih. Dan berkembanglah pada waktu itu Madzhab Isma’illyah suatu Mazdhab yang mengembangkan ideologi mengagungkan keturunan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya ke atas singgah sana kerajaan. Dalam Madzhab ini terkenal akan ajaranya yang keras dalam kaum syi’ah. Yang dipercayai bahwa adanya 12 imam ghaib yang mendiami suatu bukit bernama Ridwan, yang di tunggu kehadirannya. Kepercayaan tersebut memiliki pengertian sama dengan kaum sufi yang meyakini adanya “wali-ullah” sebagai kekasih Allah Swt.
Pada waktu itu ada beberapa sufi yang menjalankan ajaran tasawuf yang dalam upaya membangun mental-spiritual mendekatkan diri kepada Allah Swt, bahkan pula untuk menyatukan dirinya dengan sang pencipta. Dalam pengajaran ini menggunakan pengasingan diri yang lebih cenderung mempunyai kesan anti sosial. Dan abad ke-tiga dan ke-empat munculah dua kelompok dalam pengajaran tasawuf. Golongan pertama adalah orang yang memiliki paham moderat, yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits. Yang menganut pentingnya akan moralitas. Sedangkan golongan yang kedua lebih cenderung ke arah yang menjauhkan diri dari segala hiruk-piruk akan kehidupan sosial dan anti sosial. Menekan ke arah kefana-an (menghilang dengan tuhan). Dengan sifat anti sosial tersebut yang menghambat atau menolak sama sekali dari pembaharuan yang ada dan tidak mengikuti perkembangan yang ada, sehingga pada waktu itu perkembangan Islam mengalami kemunduran dan di dahului oleh perkembangan Barat.
Melihat beberapa pristiwa tersebut akhirnya timbulah kesadaran akan pengajaran tasawuf yang kurang tepat, sehingga pada abad ke-lima lahirlah tasawuf sunni yang penyandarannya pada Al-qur’an dan As-sunnah. Dinamakan sunni karena tasawuf ini di dasarkan kepada Sunnah Rosulullah dan para sahabat. Lalu munculah imam al-Ghazali pelopor dari ajaran ini. Imam al-Ghazali hanya meneriman tasawuf bedasar pada Al-Qur’an dan As-sunnah serta bertujuan sektisme (zuhud), kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang kajian tasawuf yang mendalam. Disisi lain, beiau juga melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum muktazilah dan batiniyah. Al-Ghazali berhasil menggunakan prinsip-prinsip tasawuf moderat, yang seiring dengan aliran Ahlussunnaah wal jama’ah yang bertentangan dengan prinsip Al-Hallaj dan Al-Bustami, terutama tentang karakter manusia.[2]
Tokoh lainnya yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf pada abad ke-lima adalah Al-Qusyairi yang dengan bukunya yang bejudul Ar-Risalah Al-Qursyairi yang mengembalikan pemahaman tasawuf ke Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau menentang tentang ajaran yang mengajarkan syathahat, yang memadukan antra sifat-sifat tuhannya yang terdahulu dengan sifat-sifat manusia yang baru.
Abu Isma’il Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan Al-Harawi. Sama dengan Al-Qusayari beliau juga berlandaskan kepada Ahlussunnah wal Jama’ah dan bahkan beliau dikenal sebagai pengasas pembaheuan dalam tasawuf dan menentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapan seperti Albustami dan Al-Hallaj.


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

sumber sejarah kerajaan mataram kuno

sumber sejarah kerajaan mataram kuno

Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Mataram periode Jawa Timur

Mataram Jawa Timur (Medang Kamulan) berdiri pada abad 10 atau setelah runtuhnya Mataram periode Jawa Tengah. Berdirinya kerajaan ini diawali dengan adanya Wangsa Isana. Istilah Wangsa Isana di temukan dalam prasasti Pucangan di bagian yang berbahasa Sansekerta pada tahun 963 Saka. Bagian yang berbahsa Sansekerta itu dimulai degan penghormatan kepada Brahmana, Wisnu, dan Siwa kemudian penghormatan kepada Raja Airlangga. Selanjutnya dilanjutkan dengan silsilah kerajaan dimulai dari Raja Isanatunggaatau Pu Sindok. Sri Isanatungga mempunyai putri Sri Isanatunggawijaya dan menikah dengan Sri Loka Pala kemudian mempunyai anak Sri Makutawangsawarddhana keturunan Wagsa Isana.[1]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Wangsa Isana didirikan oleh Pu Sindok atau Sri Isanawikramma Dharmmotunggadewa yang masih menjadi keturunan dari Wangsa Syailendra.Namun, kedudukan Pu Sindok masih diberdebatkan. Ada yang berpendapat bahwa Pu Sindok adalah menantu Wawa (raja terakhir Mataram Jawa Tengah ), selain itu ada yang berpendapat bahwa Pu Sindok bergelar abhiseka yang mengandung unsur kata dharma menunjukkan bahwa raja yang bergelar itu naik tahta karena perkawinan.[2]
2. Masa pemerintahan Pu Sindok
Berdirinya Mataram periode Jawa Timur adalah lanjutan dari keruntuhan kerajaan Mataram periode Jawa Tengah.Dalam anggapan para pujangga hal ini adalah sebagai pralaya atau kehancuran dunia pada akhir masa Kaliyuga. Maka, sesuai dengan landasan kosmologis, kerajaan kuno tersebut harus mendirikan kerajaan lagi. Kemudian, Pu Sindok membangun kerajaan di Jawa Timur dan sebagai cikal bakal Wangsa Isana namun dengan nama yang sama, Mataram.
Ibu kota kerajaan Mataram terletak di Tamwlang dengan bukti yang terdapat pada prasasti Turryan ( tahun 851 Saka / 929 M ), dengan kemungkinan sekarang dekat Jombang, tepatnya desa Tambelang. Tetapi, dalam prasasti Paradah dan Anjukladang juga disebutkan bahwa ibu kota kerajaan terletak di Watugaluh, sekarang desa Watugaluh dekat Jombang tepi kali Brantas. Prasasti Anjukladang dibuat seabagai anugerah dari Pu Sindok kepada penuduk desa Anjukladang. Namun, karena pada bagian atasnya using menyebabkan ketidak jelasan apa penyebab dari anugerah yang diberkan tersebut.
3. Masa Pemerintahan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh
Setelah pemerintahan Pu Sindok berakhir (929 M-948 M) dapat dikatakan terjadinya masa gelap pemerintahan selama 70 tahun atau sebelum sampai kepada pemerintahan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh. Hal ini dikarenakan hanya 3 prasasti yang berangka tahun yang tercacat dan sampai kepada kita, yaitu prasasti Hara-Hara tahun 888 Saka (966M), prasasti Kawambang Kulwan tahun 913 Saka (992M), dan prasati Lucem tahun 934 Saka (1012-1013 M). Namun dalam prasasti Pucang dapat diketahui bahwa Pu Sindok mempunyai seorang putri yang jelita bernama Sri Isana Tunggawijaya dan memerintah sebagai ratu dengan suaminya Lokapala. Dari pernikahannya, lahirlah putra Sri Makutawangsawarddhana.Mengenai nama Makutawangsawarddhana perlu diketahui bahwa secara harfiyah yaitu sebagai pelanjut wangsa yang bermahkota atau pelanjut wangsa raja. Ditambah dengan penekanan bahwa ia “putra wangsa Isana” menunjukka bagaimnanpu anak laki-laki dari pramesawari(istri pertama raja) merupakan pewaris tahta yang ideal.[3] Kemudian dari Sri Makutawangsawarddhana lahirlah purti Gunapriyadharmapatni atau Mahendratta yang kemudian menikah dengan Udayana dan berputra Erlanggadewa.
Abad X M muncul beberapa keterangan sejarah,diantaranya dalam kitab Wirataparwwa salinan dalam bahasa Jawa Kuno dari bahasa Sansekerta. Dalam kitab tersebut dituliskan nama-nama raja yang memerintah yaitu Sri Dharmmawangsa Teguh Anantawikrama. Dalam prasasti raja Jayawarsa Digwijaya Sastraprabhumenyebutkan bahwa ia adalah cucu dari Sri Isana Dharmmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa. Hal ini membuktikan kbenaran dari masa pemerintahan Sri Isana Dharmmawangsa Teguh. Selanjutnya yang diperkuat dalam kitab Wirataparwa, yang memerintah pada abad X M sampai tahun 1017 M. Kemungkinan besar ia adalah anak dari Makutawangsawarddhana.
Dalam pemerintahannya, Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh sangat berambisi untuk meluaskan kekuasaannya sampai keluar pylau Jawa. Dalam prasasti Pucangan yang berbahAS Sansekerta disebutkan bahwa beberapa waktu setelah perkawinan Airlangga dengan putri Dharmmawangsa Teguh kerajaan itu hancur karena ulah dewi Kali.Selanjutnya Airlangga melarikan diri ke hutan engan hanya didampingi Narottama. Dalam prasati yang berbahasa Jawa Kuno juga disebutkan dan lebih banyak memberikan keterangan bahwa, akhir dari masa Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh adalah serangan dari raja bawahan Wurawari yang berambisi mendampimgi putri mahkota menggantikan Teguh di atas tahta kerajaan(pralaya). Namun setelelah berhasil melakukan serangan dan menewaskan Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh, Haji Wurawari kembali ke tempat asalnya karena karena ia cukup puas melampiaskan sakit hatinya karena tidak berhasil menjadi menantu Teguh.
Sri Maharaja Dharmmawangsa Teguh kemudian di candikan di Wwtan pada bulan Caitra tahun 939 Saka.

Recent Posts

istri gajah mada

istri gajah mada

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai kemerdekaan sejumlah tokoh besar menjadi pahlawan bangsa karena dedikasi dan perjuangan yang tak kenal henti untuk Bangsa Indonesia. Sebut saja dua tokoh besar perjuangan bangsa yaitu Ir. Sukarno dan Mohh. Hatta yang dikenal sebagai pahlawan proklamator. Namun dalam mencapai kemerdekaan bangsa ini, tentu masih banyak orang-orang lain yang memiliki jiwa dan rasa nasionalisme yang begitu besar sehingga rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa ini.
Jauh sebelum perjuangan Bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya, negeri ini pernah menikmati masa-masa kejayaan ketika masa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit. Banyak ahli yang berpendapat bahwa Indonesia saat ini adalah Indonesia ke tiga setelah masa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit.
Di dalam sejarah Indonesia ada dua buah kerajaan kuno yang selalu disebut-sebut sebagai kerajaan-kerajaan yang megah dan jaya, yang melambangkan kemegahan dan kejayaan bangsa Indonesia di zaman purba. Kedua kerajaan itu adalah Sriwijaya dan Majapahit.[1]
Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan besar yang mampu menguasai beberapa wilayah seperti, Semenanjung Malaya, Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Indonesia timur dan beberapa wilayah dikawasan Asia Tenggara.
Seperti telah dijelaskan diatas, bahwa Kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan ketika di perintah oleh Raja Hayam Wuruk pada 1350 hingga 1389. Namun kejayaan dan kebesaran Majapahit kala itu juga tidak dapat dilepaskan dari tangan dingin kepemimpinan Mahapatih Majapahit kala itu yaitu Patih Hamangkubhumi Gajah Mada.
Gajah Mada adalah seorang panglima perang dan tokoh yang sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, dan prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, dan semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yang mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan kemudian sebagai Amangkubhumi (Perdana Menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya.[2]
Sorotan terhadap kesuksesan Gajah Mada dalam mengantarkan masa kejayaan untuk Kerajaan Majapahit begitu tajam dikarenakan Gajah Mada hanya merupakan seorang Patih atau dapat dikatakan hanya membantu raja saat itu. Perannya sebagai seorang Patih yang merupakan orang kepercayaan raja dijalankan dengan begitu baik dan begitu membanggakan. Wajar kiranya bila nama Gajah Mada tidak pernah bisa dipisahkan dari masa jaya Kerajaan Majapahit dan keharuman namanya setara dengan raja dan pembesar-pembesar Kerajaan Majapahit lainnya.
Dalam menjalankan pemerintahannya Hayam Wuruk didampingi oleh Gajah Mada yang menduduki jabatan Patih Hamangkubhumi. Jabatan ini sebenarnya sudah diperoleh ketika ia mengabdi kepada raja Tribhuwanottunggadewi, yaitu setelah ia berhasil menumpas pemberontakan Rakuti di Sadeng. Dengan bantuan Patih Hamangkubhumi Gajah Mada raja Hayam Wuruk berhasil membawa kerajaan Majapahit ke puncak kebesarannya.[3]


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

mengapa pengaruh india mudah diterima masyarakat indonesia pada masa itu

mengapa pengaruh india mudah diterima masyarakat indonesia pada masa itu

Di Benua Asia terdapat dua negeri besar yaitu India dan Cina. Kedua negeri ini menjalin hubungan ekonomi dan perdagangan yang baik. Arus lalu lintas peragangan dan pelayaran berlangsung melalui jalur darat dan laut. Salah satu jalur laut yang dilewati India-Cina adalah Selat malaka. Indonesia yang terletak di jalur posisi silang dua benua dan dua samudera, serta berada di dekat Selat Malaka memiliki keuntungan:
1. Sering dikunjungi bangsa-bangsa asing, seperti India, Cina, Arab, dan Persia
2. Kesempatan melakukan hubungan perdagangan internasional terbuka lebar
3. Pergaulan dengan bangsa-bangsa lain semakin luas
4. Pengaruh asing masuk ke Indonesia, seperti Hindu-Budha

Keterlibatan bangsa Indonesia dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran internasional menyebabkan timbulnya percampuran budaya. India merupakan negara pertama yang memberikan pengaruh kepada Indonesia, yaitu dalam bentuk budaya Hindu.

Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan para ahli tentang masuknya budaya Hindu-Budha ke Indonesia:

1. Hipotesis Brahmana
Hipotesis ini mengungkapkan bahwa kaum brahmana amat berperan dalam upaya penyebaran budaya Hindu di Indonesia. Para Brahmana mendapat undangan dari penguasa Indonesia untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan. Pendukung hipotesis ini adalah Van Leur.
2. Hipotesis Ksatria
Pada hipotesis ksatria, peranan penyebaran agama dan budaya Hindu dilakukan oleh kaum ksatria. Menurut hipotesis ini, dahulu di India sering terjadi peperangan antargolongan di masyarakat. para prajurit yang kalah atau jenuh menghadapi perang, lantas meninggalkan India. Rupanya, diantara mereka ada pula yang sampai ke wilayah Indonesia. Mereka inilah yang kemudian berusaha mendirikan koloni-koloni baru sebagai tempat tinggalnya. Di tempat itu pula terjadi proses penyebarab agama dan budaya Hindu. F.D.K. Bosch adalah salah seorang yang mendukung hipotesis ksatria.
3. Hipotesis Waisya
Menurut para pendukung hipotesis waisya, kaum waisya yang berasal dari kelompok pedagang telah berperan dalam menyebarkan budaya Hindu ke Nusantara. Para pedagan banyak berhubungan dengan para penguasa beserta rakyatnya. Jalinan hubungan itu telah membuka peluang bagi terjadinya proses penyebaran budaya Hindu. N.J.Krom adalah salah satu pendukung dari hipotesis waisya.
4. Hipotesis SudraVon van Faber
Bahwa peperangan yang terjadi di India telah menyebabkan golongan Sudra menjadi orang buangan. Mereka kemudian meninggalkan India dengan mengikuti kaum Waisya. Dengan jumlah yang besar golongan Sudra diduga sebagai penyebar budaya Hindu ke Nusantara.

Selain pendapat di atas, para ahli menduga banyak pemuda di wilayah Indonesia yang belajar agama Hindu dan Budha ke India. Di sana mereka mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Setelah memperoleh ilmu yang banyak mereka kembali untuk menyebarkannya. Pendapat ini disebut juga teori arus balik


Sumber: https://robinschone.com/

Ada dua hal penting yang berkenaan dengan kondisi dunia Islam pada masa hidup Ibnu Taimiyah

Latar Belakang Pemikiran Ibnu Taimiyah

Ada dua hal penting yang berkenaan dengan kondisi dunia Islam pada masa hidup Ibnu Taimiyah yang merupaka dampak nyata kehancuran Baghdad. Pertama adalah semakin nyata diintegrasi dan pertikaian internal umat islam yang dikarenakan tidak adanya satu otoritas dalam hal ini bisa sudur spiritual yang menjadi benteng kekuatan dunia Islam. Kedua adalah hadirnya kekuatan asing yang tidak bisa dibendung lagi.[8]

Dampak dari kondisi tersebut dibidang sosial adalah semakin meruncingnya perpecahan dan fanatisme dikalangan umat Islam. Selain itu banyak juga umat Islam yang memilih bersikap apatis dan memilih lepas tangan. Akhirnya mereka memilih untuk memfokuskan diri pada batiniah dengan meninggalkan segala hal yang berbau duniawi. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya stagnasi didunia Islam.[9]

Kondisi inilah yang menjadi gambaran latar belakang pemikiran Ibnu Taimiyah. Beliau muncul dalam situasi sosial politik Islam yang telah mencapai titik kronis. Berikut adalah latar belakang pemikiranya, yaitu :

1. Latar Belakang

a. Politik
Ditandai dengan hegemoni Islam di Baghdad yang mulai melemah sehingga banyak proponsi-propinsi yang membangun otonominya sendiri dan terlepas dari kekuasaan sentral Baghdad. Hal inilah yang mempelopri terbentuknya dinasti kecil baik di Timur dan Barat sehingga kekuatan Islam terpecah. Namun begitu, dinasti-dinasti kecil ini ternyata menajdi piar-pilar kekuatan politik Islam.
Dalam situasi politik yang memanas ini Ibnu Taimiyah lahir. Kota yang dipimpin oleh seorang Sultan yang sangat mementingkan ilmu pengetahuan yang bahkan Sultan memberika penghargaan bagi para pelajar yang telah berkontribuso nyata dalam ilmu pengetahuan. Pada masa Sultan Nasir inilah Ibnu Taimiyah memperoleh beberapa kesempatan akademik yang luas serta kedudukan penting dalam pemerintahan.

b. Kondisi Sosial Ekonomi
Dalam sosial, di Dinasti Mamalik terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Mamalik dan non-Mamalik. Golongan Mamalik adalah mereka yang menguasai pemerintahan. Mereka adalah golongan elit. Ulama dan pelajar adalah golongan non Mamalik. Mereka sangat berpengaruh dimasyarakat, penguasa mamalik sangat menghormati mereka namun mereka juga khawatir dengan keberadaan mereka karena merekalah yang akan menjadi terdepan dalam mngkritik kebijakan pemerintah. Kaum pedagang dan borjuis merupakan golongan non-mamalik yang memiliki pengaruh di masyarkat. Namun mereka tidak mendapatkan perlakuan seperti yang diterima dari kaum ulama dan pelajar. Strata terbawah dari demografi penduduk Dinasti Mamalik adalah kaum petani dan buruh. Kaum inilah yang mendapat kerugian dari arogansi kaum Mamalik. Mereka tidak memperoleh kesempatan sebagaimana kelompok lain, mereka pun menjadi sasaran pungutan pajak tinggi dari penguasa.[10]
Kalur perdaganan laut merah merupakan andil terbesar yang dimiliki Dinasti Mamalik untuk menguatkan perekonomianya. Hubungan dagang dengan Eropa dijalin dengan baik dan semakin dioptimalkan.
Dampak dari strata sosial inilah yang menimbulkan fanatisme golongan yang cukup kronis dalam hal agama. Hal inilah yang menjadi alasan ibnu Taimiyah untuk berusaha melepaskan masyarakat dari belenggu fanatisme golongan.
c. Kondisi pendidikan
Pemerintahan Mamalik juga mendidirikan lemabaga-lembaga pendidikan yang mana hal ini menjadi alasan pesatnya ilmu pengetahuan di dinasti ini. Perbedaan pandangan tentang keilmuan malah memperruncing keadaan yang sudah ada sebelumnya.

Recent Posts