Bimbingan Kelompok

Bimbingan Kelompok

Bimbingan Kelompok
Bimbingan Kelompok
A.      Pengertian bimbingan kelompok
Beberapa pengertian tentang bimbingan kelompok menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1.       Prayitno (1995: 178) mengemukakan bahwa Bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.
2.       Sementara Romlah (2001: 3) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencagah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.
3.       Sedangkan menurut (Sukardi, 2003: 48) Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat.
4.       Wibowo (2005: 17) menyatakan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan kelompok dimana pimpinan kelompok menyediakan informasi-informasi dan mengarahkan diskusi agar anggota kelompok menjadi lebih sosial atau untuk membantu anggota-anggota kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
Dari beberapa pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.

Penyelnggaraan Bimbingan dan Konseling

Penyelnggaraan Bimbingan dan Konseling

Penyelnggaraan Bimbingan dan Konseling
Penyelnggaraan Bimbingan dan Konseling

Nama asli buku ini adalah Rambu-rambu Penyelnggaraan Bimbingan dan Konseling Dalam Jalur Formal, diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidkan Depatemen Pendidikan 2007. Dalam perkembanqgannya buku ini, masih sangat relevan untuk membantu menerjemahkan Permendikbud No. 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling. Dan disebut buku biru karena sampul cetakan berwarna biru.

Sehingga terbitan buku tersebut, hingga sekarang masih terus saja berjalan. Jika tertarik mendapatkan naskah asli buku terbaru dengan penyempurnaan isi, silakan untuk menghubungi rekan kita pejuang BK bapak Pandowo, M.Pd, Kons di contact person 081323035946.

Buku biru secara garis besar, menjelaskan tentang kinerja teknis kita sebagai guru Bimbingan dan Konseling. Selain itu yang tidak kalah penting payung hukum mendasari kita bekerja tercakup dalam literatur isi serta lampiran. Amat di sayangkan, dalam hal ini versi PDF yang saya miliki untuk berbagi pada teman-teman seprofesi adalah langsiran tahun 2007.

Memang sudah tercakup semua isi, akan tetapi dalam kurun waktu sekarang seiring lahirnya Permendikbud No. 111 tahun 2014  ada penambahan-penambahan materi penyempurnaan. Intinya teman-teman diharapkan memiliki naskah aslinya dan edisi yang terbaru tentunya.

Mari sejenak mengintip, seperti apakah bahasan dalam buku biru? Disini akan dipaparkan gambar DAFTAR ISI (ingat ini versi 2007)

Menarik bukan kawan? Buku biru memang disiapkan untuk praktisi dilapangan (guru BK) mengarah pada profesional kerja, akan tetapi dalam buku biru sendiri juga terdapat beberapa tinjauan akademis sehingga tidak menutup kemungkinan para akademisi (dosen) menggunakan sebagai literatur materi keilmuan di BK. Semoga saja kehadiran buku biru ini menambah manfaat, untuk kita, untuk sesama dan mewujudkan BK Makin Jaya.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/

Model Prototipe

Model Prototipe

Model Prototipe
Model Prototipe

Prototyping paradigma dimulai dengan pengumpulan kebutuhan. Pengembang dan pelanggan bertemu dan mendefinisikan obyektif keseluruhan dari software, mengidentifikasi segala kebutuhan yang diketahui, dan area garis besar diman definisi lebih jauh merupakan keharusan kemudian dilakukan “perancangan kilat”. Perancangan kilat berfokus pada penyajian dari aspek – aspek software tersebut yang akan nampak bagi pelanggan atau pemakai (contohnya pendekatan input dan format output). Perancangan kilat membawa kepada konstruksi sebuah prototipe. Prototipe tersebut dievaluasi oleh pelanggan/pemakai dan dipakai untuk menyaring kebutuhan pengembangan software. Iterasi terjadi pada saat prototipe disetel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, dan pada saat yang sama memungkinkan pengembang untuk secara lebih baik memahami apa yang harus dilakukannya.

Secara ideal prototipe berfungsi sebagai sebuah mekanisme untuk mengidentifikasi kebutuhan software. Bila prototipe yang sedang bekerja dibangun, pengembang harus mempergunakan fragmen – fragmen program yang ada atau mengaplikasikan alat –alat bantu (contohnya report generator, window manager, dll) yang memungkinkan program yang bekerja untuk dimunculkan secara cepat.

Baca Juga : 

Pemeliharaan Software

Pemeliharaan Software

Pemeliharaan Software
Pemeliharaan Software

Pemeliharaan

Software akan mengalami perubahan setelah disampaikan kepada pelanggan (perkecualian yang mungkin adalah software yang dilekatkan). Perubahan akan terjadi karena kesalahan – kesalahan ditentukan, karena software harus disesuaikan untuk mengakomodasi perubahan – perubahan di dalam lingkungan eksternalnya (contohnya perubahan yang dibutuhkan sebagai akibat dari perangkat peripheral atau sistem operasi yang baru), atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional atau unjuk kerja. Pemeliharaan software mengaplikasikan lagi setiap fase program sebelumnya dan tidak membuat yang baru lagi.

trio2
[gambar 2]

Masalah yang kadang terjadi ketika model sekuensial linier diaplikasikan adalah:

1. Jarang sekali proyek nyata mengikuti aliran sekuensial yang dianjurkan oleh model. Meskipun model linier bisa mengakomodasi iterasi, model ini melakukannya dengan cara tidak langsung. Sebagai hasilnya, perubahan – perubahan dapat menyebabkan keraguan pada saat tim proyek berjalan.

2. Kadang – kadang sulit bagi pelanggan untuk menyatakan semua kebutuhannya secara eksplisit. Model linier sekuensial memerlukan hal ini dan mengalami kesulitan untuk mengakomodasi ketidakpastian natural yang ada pada bagian awal beberapa proyek.

3. Pelanggan harus bersifat sabar. Sebuah versi kerja dari program – program kerja itu tidak akan diperoleh sampai akhir waktu proyek dilalui. Sebuah kesalahan besar, jika tidak terdeteksi sampai program yang bekerja tersebut dikaji ulang, bisa menjadi petaka.

4. Pengembang sering melakukan penundan yang tidak perlu. Sifat alami dari siklus kehidupan klasik membawa kepada blocking state di mana banyak anggota tim proyek harus menunggu tim yang lain untuk melengkapi tugas yang saling memiliki ketergantungan. Blocking state cenderung menjadi lebih lazim pada awal dan akhir sebuah proses sekuensial linier.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Model Proses Perangkat Lunak

Model Proses Perangkat Lunak

Model Proses Perangkat Lunak
Model Proses Perangkat Lunak

Model – Model Proses Perangkat Lunak

Untuk menyelesaikan masalah didalam suatu industri, rekayasa perangkat lunak atau tim perekayasa harus menggabungkan strategi pengembangan yang melingkupi lapisan proses, metode, dan alat – alat bantu serta fase – fase generik yang telah dijelaskan sebelumnya. Strategi ini sering diacukan sebagai model proses atau paradigma rekayasa perangkat lunak. Model proses untuk rekayasa perangkat lunak dipilih berdasarkan sifat aplikasi dan proyeknya, metode dan alat – alat bantu yang akan dipakai, dan kontrol serta penyampaian yang dibutuhkan.

Racoon (RAC95) mengusulkan sebuah model “chaos” yang menggambarkan “perkembangan perangkat lunak sebagai sebuah kesatuan dari pemakai ke pengembang dan ke teknologi”. Pada saat kerja bergerak maju menuju sebuah system yang lengkap, keadaan yang digambarkan di atas secara rekursif diaplikasikan kepada kebutuhan pemakai dan spesifikasi teknis perangkat lunak pengembang.

Model Sekuensial Linear (Water Fall)

Model sekuensial linier untuk software engineering, sering disebut juga dengan siklus kehidupan klasik atau model air terjun. Model ini mengusulkan sebuah pendekatan kepada perkembangan software yang sistematik dan sekuensial yang mulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan. Dimodelkan setelah siklus rekysa konvensional, model sekuensial linier melingkupi aktivitas – aktivitas sebagai berikut :

1. Rekayasa dan permodelan sistem

Karena sistem merupakan bagian dari sebuah sistem yang lebih besar, kerja dimulai dengan membangun syarat dari semua elemen sistem dan mengalokasikan beberapa subset dari kebutuhan ke software tersebut. Pandangan sistem ini penting ketika software harus berhubungan dengan elemen-elemen yang lain seperti software, manusia, dan database. Rekayasa dan anasisis system menyangkut pengumpulan kebutuhan pada tingkat sistem dengan sejumlah kecil analisis serta disain tingkat puncak. Rekayasa informasi mancakup juga pengumpulan kebutuhan pada tingkat bisnis strategis dan tingkat area bisnis.

2. Analisis kebutuhan software

Proses pengumpulan kebutuhan diintensifkan dan difokuskan, khusunya pada software. Untuk memahami sifat program yang dibangun, analis harus memahami domain informasi, tingkah laku, unjuk kerja, dan interface yang diperlukan. Kebutuhan baik untuk sistem maupun software didokumentasikan dan dilihat lagi dengan pelanggan.

3. Desain

Desain software sebenarnya adalah proses multi langkah yang berfokus pada empat atribut sebuah program yang berbeda, struktur data, arsitektur software, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural. Proses desain menterjemahkan syarat/kebutuhan ke dalam sebuah representasi software yang dapat diperkirakan demi kualitas sebelum dimulai pemunculan kode. Sebagaimana persyaratan, desain didokumentasikan dan menjadi bagian dari konfigurasi software.

4. Generasi kode

Desain harus diterjemahkan kedalam bentuk mesin yang bisa dibaca. Langkah pembuatan kode melakukan tugas ini. Jika desain dilakukan dengan cara yang lengkap, pembuatan kode dapat diselesaikan secara mekanis.

5. Pengujian

Sekali program dibuat, pengujian program dimulai. Proses pengujian berfokus pada logika internal software, memastikan bahwa semua pernyataan sudah diuji, dan pada eksternal fungsional, yaitu mengarahkan pengujian untuk menemukan kesalahan – kesalahan dan memastikan bahwa input yang dibatasi akan memberikan hasil aktual yang sesuai dengan hasil yang dibutuhkan.

6. Pemeliharaan

Software akan mengalami perubahan setelah disampaikan kepada pelanggan (perkecualian yang mungkin adalah software yang dilekatkan). Perubahan akan terjadi karena kesalahan – kesalahan ditentukan, karena software harus disesuaikan untuk mengakomodasi perubahan – perubahan di dalam lingkungan eksternalnya (contohnya perubahan yang dibutuhkan sebagai akibat dari perangkat peripheral atau sistem operasi yang baru), atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional atau unjuk kerja. Pemeliharaan software mengaplikasikan lagi setiap fase program sebelumnya dan tidak membuat yang baru lagi.

Sumber : https://forbeslux.co.id/

Tv Transparan dari Samsung

Tv Transparan dari Samsung

Tv Transparan dari Samsung
Tv Transparan dari Samsung

Transparent Samsung Smart Windows telah diperkenalkan di Event CES (Consumer Electronic Show), yang merupakan sebuah Smart Windows yang dapat difungsikan sebagai jendela, TV dan komputer. Samsung Smart Window ini didesain berbentuk layar monitor transparan yang mempunyai ukuran 46 inch (1366×768) dengan memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber energi sehingga perangkat ini hanya mengkonsumsi 10% listrik.

Selain dapat digunakan sebagai jendela, Samsung Smart Windows bisa diletakkan dimanapun sesuai dengan keinginan penggunanya. Perangkat ini serupa dengan Smart TV, seperti yang kita ketahui Smart TV merupakan sebuah perangkat yang dapat melakukan melakukan banyak hal, selain menonton TV, bisa browsing Internet, dan semua hal yang pada umumnya bisa dilakukan pada sebuah Smart TV.

Perbedaan Smart Windows dengan Smart TV adalah menggunakan layar transparan pada Smart Windows, dimana penggunanya dapat mengalihkan fungsi perangkat ini sebagai jendela rumah.

Baca Juga : 

Windows Xp Dengan menggunakan Group Policy Editor

Windows Xp Dengan menggunakan Group Policy Editor

 Windows Xp Dengan menggunakan Group Policy Editor
Windows Xp Dengan menggunakan Group Policy Editor

Pernahkah kita merasa kesal jika Koneksi internet kita tidak cepat atau lambat????Apalagi saat kita ingin buka Facebook malah lelet,download file di 4shared lama,dan semua yang akan kita lakukan saat berada di dalam dunia maya menjadi terganggu,dan jadinya bikin kita bete abis kan.Koneksi internet cepat itulah keinginan semua orang atau semua pengguna internet.,Kecepatan atau speed yang mumpuni akan membuat browsing alias berselancar didunia maya akan terasa nikmat,mau Fban juga gak akan lelet lagi.
Secara default, sistem pada komputer kita akan memotong sebesar 20% dari total bandwidth yang kita miliki untuk tujuan tersendiri.Dan tanpa kita sadaripun kekuatan internet yang kita pakai selama ini hanyalah sebesar 80% dari yang seharusnya. Apalagi jika kita menggunakan modem GSM atau CDMA.
Dan disini saya mempunyai sebuah trik bagaimana cara mempercepat koneksi internet yang bisa dicoba dan untuk kamu yang ingin memperoleh bandwith lebih untuk dioptimalkan dari koneksi kamu,baik itu dari modem CDMA atau GSM,maupun dari broadband macam speedy.

Koneksi intenet bisa kita tingkatkan ,setidaknya dengan cara dibawah ini seperti yang akan saya sampaikan berikut ini,yaitu melalui:

A. Local Group Policy Editor
1. Langkah pertama yaitu Klik Start pada kotak search programs and files
kemudian ketik gpedit.msc

2.kemudian akan muncul jendela group policy editor seperti dibawah kemudian kamu bisa Klik Administrative Templates pada bagian Computer Configuration.

3. Setelah muncul tampilan dibawah ini lalu Double klik Network

4. Lalu Double klik QoS Packet Scheduler

Sumber : https://bingo.co.id/

Menjaga facebook dari tautan Hacker

Menjaga facebook dari tautan Hacker

Menjaga facebook dari tautan Hacker

ook saat ini bisa jadi merupakan situs yang paling populer. Secara alexa, situs ini menempati ranking kedua setelah Google. Facebook menempati urutan teratas sebagai situs social networkingdengan 350 juta anggota mengalahkan twitter, plurk dan friendster. Dengan jumlah yang begitu besar, muncullah keinginan jahat untuk mencuri data-data pribadi dari user Facebook. Facebook Login Phising dan Hack Fb adalah kegiatan jahat yang sering dilakukan.
Facebook login phising dilakukan dengan cara mengirimkan link halaman website palsu yang tampilannya benar-benar mirip Facebook. Bergitu pengguna Facebook terjebak dan dengan sukarela memasukkan nama login dan password, otomatis informasi tersebut akan masuk ke data pelaku hack fb dan akan dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri seperti menyebar spam alias iklan sampah ke akun-akun lain yang saling terkait.

Tanda-tanda Facebook Login phising cukup mudah dikenali. User menerima pesan dari contact list yang biasanya berisi kata-kata “Check this out”. Kemudian pelaku hack fb mengundang korban untuk meng-klik link yang akan membawa mereka kepada halaman palsu yang menyerupai login facebook.Ketika kita memasukkan username dan password pada halaman tersebut, maka pada hakekatnya kita sudah menyerahkan username dan password pada pelaku.
http://abuaufa.com/wp-content/images/FakeFacebookLogin.jpg
Berikut 10 tips Kaspersky Lab untuk mencegah dari serangan Facebook Login phising dan hack Fb:
1. Untuk situs sosial seperti Facebook, buat bookmark untuk halaman login atau mengetik URL www.facebook.com secara langsung di browser address bar.
2. Jangan mengklik link pada pesan email.
3. Hanya mengetik data rahasia pada website yang aman.
4. Mengecek akun bank Anda secara regular dan melaporkan apapun yang mencurigakan kepada bank Anda.
5. Kenali tanda giveaway yang ada dalam email phising:
6. Menginstall software untuk kemanan internet dan tetap mengupdate antivirus.
7. Menginstall patch keamanan.
8. Waspada terhadap email dan pesan instan yang tidak diminta.
9. Berhati-hati ketika login yang meminta hak Administrator. Cermati alamat URL-nya yang ada di address bar.
10. Back up data anda.
Yang paling penting adalah anda senantiasa harus berhati-hati terhadap link-link mencurigakan yang tidak anda kenali, pastikan ketika login facebook, anda melakukannya dihalaman asli facebook

Sumber : https://apartemenjogja.id/

Fungsi TIK dalam Bimbingan dan Konseling

Fungsi TIK dalam Bimbingan dan Konseling

TIK dalam Bimbingan dan konseling
TIK dalam Bimbingan dan konseling
Fungsi dari penggunaan teknologi informasi dan komunikasi atau TIK dalam dunia pembelajaran atau layanan bimbingan dan konseling akan melihat dari dibermaanfaatkannya untuk apakah perkembangan dari TIK itu sendiri. Seperti halnya apa yang disampaikan Koesnandar (2008:7) bahwa fungsi dari TIK dapat dibagi menjadi 3 hal yaitu :
(1)   TIK sebagai gudang ilmu pengetahuan, dapat berupa referensi berbagai ilmu pengetahuan yang tersedia dan dapat diakses melalui fasilitas TIK, pengelolaan pengetahuan, jaringan pakar, jaringan antara institusi pendidikan, dll.
(2)   TIK sebagai alat bantu pembelajaran dapat berupa alat bantu mengajar bagi guru, alat bantu belajar bagi siswa, serta alat bantu interkasi antara guru dengan siswa.
(3)   TIK sebagai fasilitas pendidikan, TIK di sekolah dapat berupa pojok internet, perpustakaan digital, kelas virtual, lab multimedia, papan elektronik, dll.
Pendapat yang lain disampaikan oleh Siahaan (2010:25)
Secara sederhana dapatlah dikemukakan bahwa pada umumnya fasilitas/peralatan TIK  dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran karena potensinya antara lain:
(1)       membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah;
(2)       membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar, seperti: binatang-binatang buas, atau penguin dari kutub selatan;
(3)       menampilkan obyek yang terlalu besar, seperti pasar, candi borobudur;
(4)       menampilkan obyek yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, seperti: mikro organisme;
(5)       mengamati gerakan yang terlalu cepat, misalnya dengan slow motion atau time-lapse photograhy;
(6)       memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkungannya;
(7)       memungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa;
(8)       membangkitkan motivasi belajar siswa;
(9)       menyajikan informasi belajar secara konsisten, akurat, berkualitas dan dapat diulang penggunaannya atau disimpan sesuai dengan kebutuhan; atau
(10)   menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak untuk lingkup sasaran yang sedikit/kecil atau banyak/luas, mengatasi batasan waktu (kapan saja maupun ruang di mana saja).
Melihat kedua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa penggunaan Teknologi informasi dan komunikasi atau TIK dalam dunia pendidikan baik itu pembelajaran kelas maupun layanan bimbingan dan konseling akan dapat membantu mempermudah dan memaksimalkan pembelajaran atau layanan yang ada. Kebermanfaat TIK tidak hanya akan dirasakan oleh murid malainkan oleh guru dan seluruh komponen di sekolah.

TIK dalam Bimbingan dan konseling

TIK dalam Bimbingan dan konseling

TIK dalam Bimbingan dan konseling
TIK dalam Bimbingan dan konseling
Dalam proses belajar mengajar ada dua unsur yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan proses belajar mengajar, yakni metode mengajar dan media pembelajaran. Metode mengajar yang dipilih akan menentukan jenis media pembelajaran yang akan digunakan. Hal ini sama dengan apa yang disampaikan Arsyad (2003:15) bahwa “Jenis media pembelajaran selain ditentukan oleh metode pengajaran juga dipengaruhi oleh tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan dari siswa”.
Dalam dunia pendidikan yang semakin berkembang saat ini kita telah dikenalkan dengan banyak tentang aplikasi-aplikasi media pembelajaran berbasis TIK, mulai dari penggunaan media internet (website), aplikasi belajar, kamus elektronik, media flash, film/video dan lain sebagainya hinga yang paling sering dijumpai yaitu power point. Berbicara tentang penggunaan TIK sebagai media layanan dalam bimbingan dan konseling tidak jauh beda dengan TIK sebagai media pembelajaran pada umumnya yaitu tentang bagaimana seorang tanaga pendidik dalam memanfaatkan media TIK sebagai fasilitas dalam pengoptimalan tujuan dan program layanan yang ada. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Wahidin (2009:5)  tentang fungsi TIK dalam pembelajaran yaitu :
“agar siswa dapat dan terbiasa menggunakan perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya”
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan tantangan baru bagi praktisi bimbingan dan konseling. Seperti halnya yang telah kita ketahui bahwa model pendekatan baru cybercounceling mulai sering diminati oleh para praktisi bimbingan dan konseling baik disekolah atau di luar sekolah. Berdasarkan hal diatas maka TIK bagi dunia bimbingan dan konseling adalah tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program-progam pendidikan dan layanan yang ada. Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan oleh Susanto (2008) bahwa “Dalam bimbingan dan konseling, teknologi informasi dan komunikasi merupakan  media dalam pelaksanaan program layanan bukan tujuan layanan, maka pemanfaatannya hanya sebagai media untuk melakukan pendekatan-pendekatan, pemberian informasi, promosi, konsultasi dan masih banyak lagi”. Teknologi interaktif ini memberikan  katalis bagi perubahan mendasar terhadap peran guru dari informasi ke tranformasi. Penerapan TIK menjadi fasilitator yang utama sebagai pemerata dunia pendidikan, dan tentunya memperkaya wawasan siswa secara lebih kompleks.
Dalam dunia bimbingan dan konseling penggunaan media dalam pemberian layanan dirasa lebih efektif dan menarik bagi siswa sehingga ketercapaian layanan dirasakan lebih optimal, karena dengan berbasis TIK berbagai tampilan layanan dapat diperoleh dan dibermanfaatkan dengan lebih baik seperti media  flashebook, artikel internet dan tentunya masih banyak aplikasi TIK lainnya. Dengan  begitu baik guru pembimbing maupun siswa nantinya dapat memperoleh dan memanfaatkan segala media yang ada dalam mencapai tujuan layanan yang diinginkan.