Ada dua hal penting yang berkenaan dengan kondisi dunia Islam pada masa hidup Ibnu Taimiyah

Latar Belakang Pemikiran Ibnu Taimiyah

Ada dua hal penting yang berkenaan dengan kondisi dunia Islam pada masa hidup Ibnu Taimiyah yang merupaka dampak nyata kehancuran Baghdad. Pertama adalah semakin nyata diintegrasi dan pertikaian internal umat islam yang dikarenakan tidak adanya satu otoritas dalam hal ini bisa sudur spiritual yang menjadi benteng kekuatan dunia Islam. Kedua adalah hadirnya kekuatan asing yang tidak bisa dibendung lagi.[8]

Dampak dari kondisi tersebut dibidang sosial adalah semakin meruncingnya perpecahan dan fanatisme dikalangan umat Islam. Selain itu banyak juga umat Islam yang memilih bersikap apatis dan memilih lepas tangan. Akhirnya mereka memilih untuk memfokuskan diri pada batiniah dengan meninggalkan segala hal yang berbau duniawi. Hal inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya stagnasi didunia Islam.[9]

Kondisi inilah yang menjadi gambaran latar belakang pemikiran Ibnu Taimiyah. Beliau muncul dalam situasi sosial politik Islam yang telah mencapai titik kronis. Berikut adalah latar belakang pemikiranya, yaitu :

1. Latar Belakang

a. Politik
Ditandai dengan hegemoni Islam di Baghdad yang mulai melemah sehingga banyak proponsi-propinsi yang membangun otonominya sendiri dan terlepas dari kekuasaan sentral Baghdad. Hal inilah yang mempelopri terbentuknya dinasti kecil baik di Timur dan Barat sehingga kekuatan Islam terpecah. Namun begitu, dinasti-dinasti kecil ini ternyata menajdi piar-pilar kekuatan politik Islam.
Dalam situasi politik yang memanas ini Ibnu Taimiyah lahir. Kota yang dipimpin oleh seorang Sultan yang sangat mementingkan ilmu pengetahuan yang bahkan Sultan memberika penghargaan bagi para pelajar yang telah berkontribuso nyata dalam ilmu pengetahuan. Pada masa Sultan Nasir inilah Ibnu Taimiyah memperoleh beberapa kesempatan akademik yang luas serta kedudukan penting dalam pemerintahan.

b. Kondisi Sosial Ekonomi
Dalam sosial, di Dinasti Mamalik terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan Mamalik dan non-Mamalik. Golongan Mamalik adalah mereka yang menguasai pemerintahan. Mereka adalah golongan elit. Ulama dan pelajar adalah golongan non Mamalik. Mereka sangat berpengaruh dimasyarakat, penguasa mamalik sangat menghormati mereka namun mereka juga khawatir dengan keberadaan mereka karena merekalah yang akan menjadi terdepan dalam mngkritik kebijakan pemerintah. Kaum pedagang dan borjuis merupakan golongan non-mamalik yang memiliki pengaruh di masyarkat. Namun mereka tidak mendapatkan perlakuan seperti yang diterima dari kaum ulama dan pelajar. Strata terbawah dari demografi penduduk Dinasti Mamalik adalah kaum petani dan buruh. Kaum inilah yang mendapat kerugian dari arogansi kaum Mamalik. Mereka tidak memperoleh kesempatan sebagaimana kelompok lain, mereka pun menjadi sasaran pungutan pajak tinggi dari penguasa.[10]
Kalur perdaganan laut merah merupakan andil terbesar yang dimiliki Dinasti Mamalik untuk menguatkan perekonomianya. Hubungan dagang dengan Eropa dijalin dengan baik dan semakin dioptimalkan.
Dampak dari strata sosial inilah yang menimbulkan fanatisme golongan yang cukup kronis dalam hal agama. Hal inilah yang menjadi alasan ibnu Taimiyah untuk berusaha melepaskan masyarakat dari belenggu fanatisme golongan.
c. Kondisi pendidikan
Pemerintahan Mamalik juga mendidirikan lemabaga-lembaga pendidikan yang mana hal ini menjadi alasan pesatnya ilmu pengetahuan di dinasti ini. Perbedaan pandangan tentang keilmuan malah memperruncing keadaan yang sudah ada sebelumnya.

Recent Posts