Varietas/Jenis Padi Tabela

Varietas/Jenis Padi Tabela

Hingga kini Indonesia belum mempunyai varietas padi yang khusus untuk tabela. Karakteristik padi tabela adalah mampu

berkecambah dalam kondisi anaerob, perakaran dalam sehingga tidak mudah rebah, serta jumlah anakan sedikit tetapi mempunyai malai yang panjang dengan jumlah gabah bernas tinggi. Apabila tipe benih ini tersedia maka beberapa masalah dalam pengembangan usaha tani padi tabela dapat diatasi. Karakteristik lain yang diinginkan adalah dapat memperbaiki seedling anchorage, mengurangi kemampuan bertunas (anakan), umur lebih panjang dengan daun bendera yang lebih luas, serta malai besar dengan kapasitas sink yang lebih tinggi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa padi unggul tropis secara teoritis masih dapat diperbaiki dengan menghasilkan padi tipe baru (PTB) yang lebih produktif dan masa panen lebih lama. Peningkatan hasil diperkirakan dapat mencapai 25%, namun masih diperlukan penelitian fisiologis dan analisis terhadap sifat genetik padi yang tersedia (Dingkuhn et al. 1991; Vergara et al. 1991). Untuk system tabela, postur tanaman yang dikendalikan adalah tidak terlalu tinggi agar tidak mudah rebah. Gabah juga tidak mudah rontok sehingga kehilangan hasil rendah 174 Jurnal Litbang Pertanian, 22(4), 2003 terutama bila panen dilakukan dengan menggunakan mesin.

4.)    Gulma

Pengendalian gulma merupakan salah satu kendala dalam pengembangan teknologi padi tabela (Bernasor dan De Datta 1983). Infestasi gulma pada padi tabela lebih padat daripada padi tapin karena genangan air tidak ada pada awal pertumbuhan (Moorthy dan Dubey 1979). Apabila tanaman tidak disiang sampai umur 6 minggu maka kehilangan hasil sangat nyata (Dubey et al. 1977), padahal pada umur tersebut, bibit gulma rumput dan padi sukar dibedakan. Penyiang juga sukar lewat di antara barisan tanpa merusak tanaman padi yang baru tumbuh, apalagi bila benih ditabur rata. Alternatif pengendalian gulma yang paling tepat dan praktis adalah dengan menggunakan herbisida. Masalahnya, herbisida yang banyak dijual di pasaran hanya cocok untuk padi tapin dan kurang 0822 425 99 141 sesuai untuk padi tabela karena tingkat selektivitasnya rendah. Herbisida yang bersifat toleran pada padi tapin dapat menimbulkan keracunan pada padi tabela. Selektivitas tersebut muncul karena perbedaan umur bibit. Menurut De Datta dan Bernasor (1971), pada sistem tapin, bibit yang ditanam telah berumur 21 hari sehingga lebih kuat menyaingi gulma dan lebih tahan terhadap keracunan herbisida. Pada tabela, tanaman padi dan gulma, terutama rumput, mempunyai umur dan morfologi yang relatif sama. Tanaman padi yang masih muda lebih peka terhadap keracunan herbisida. Pemakaian herbisida sejenis secara terus menerus juga dapat member peluang terjadinya pergeseran spesies gulma dominan atau peledakan populasi spesies gulma yang tahan. Dikhawatirkan gulma baru ini justru lebih kompetitif, berkembang biak lebih cepat sehingga lebih sukar dikendalikan disbanding gulma sebelumnya. Mansor et al. (1997) melaporkan bahwa pada padi tabela, gulma rumput Echinochloa crusgalli, E. oryzicola, Leptochloa chinensis dan Ischaemum rugosum yang sebelumnya hanya gulma minor berubah menjadi gulma dominan. Gulma rumput ini tergolong tumbuhan C4, sedangkan padi C3, meskipun keduanya termasuk family Poaceae/Gramineae. Tumbuhan C4 lebih efisien dalam menggunakan air maupunberfotosintesis sehingga daya saingtumbuhan C4 lebih tinggi dari tumbuhan C3.

5.)    Hama dan Penyakit

Penanaman padi dengan sistem tabela memerlukan varietas yang tahan hama/ penyakit seperti sheat blight, busuk batang, tungro, wereng, dan penggerek batang. Ketahanan suatu varietas terhadap serangan hama/penyakit merupakan faktor pendukung keberhasilan usaha tani padi. Selain itu, pengendalian hama terpadu perlu dilakukan untuk menciptakan lingkungan tumbuh yang optimal bagi tanaman padi tabela.

6.)    Panen

Cara panen padi tabela juga menjadi salah satu masalah bagi petani karena mereka belum terbiasa. Pada sistem sonor misalnya, batang padi tumbuh berserakan, bukan merumpun sehingga sulit dipotong dengan sabit. Petani umumnya lebih menyukai panen padi tapin daripada pada tabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila sistem tabela akan diintensifkan pengembangannya, khususnya di daerahdaerah yang sukar dan mahal tenaga kerja, maka mesin pemanen perlu tersedia di tingkat petani. Apabila mesin tidak tersedia, biaya panen akan tetap mahal sehingga efisiensi biaya produksi tidak tercapai.

Hamdan Pane (Balai Penelitian Tanaman Padi, Jalan Raya 9, Sukamandi, Subang 41256).http://pustaka.litbang.pertanian.go.id/publikasi/p3224036.pdf. diakses pada 25 September 2016 pukul 18.17 WIB.

https://9apps.id/