Pengolahan Tanah

Pengolahan Tanah

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah pada sistem tapin sama dengan pengolahan tanah. Namun, tabela menghendaki kondisi permukaan tanah yang rata agar air irigasi mudah didrainase. Pengolahan tanah dapat dilakukan secara kering maupunbasah/melumpur. Pada pengolahan tanah secara kering, penanaman dilakukan dengan sistem tabela kering (dry seeding), sedangkan pada pengolahan tanah melumpur, benih ditanam dengan system tabela basah (wet seeding). Pengolahan tanah yang sempurna akan menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi perkecambahan benih padi sehingga pertumbuhannya lebih seragam. Namun, umumnya petani mengolah lahan secara borongan atau terburu-buru, sehingga kualitas pengolahan tanah kurang baik. Tanah masih berbongkah-bongkah dan tidak rata sehingga terdapat genangan air. Selain itu, rimpang dan biji gulma cepat bertunas dan tumbuh kembali untuk bersaing dengan tanaman.

2.)    Sistem Drainase

Sistem tabela basah sangat sesuai diterapkan pada lahan sawah beririgasi teknis karena pemasukan dan pengeluaran air mudah diatur. Pada 7−10 hari pertama setelah benih ditabur, petakan harus didrainase agar air tidak menggenang (Moorthy dan Dubey 1979) dan benih padi tidak mati/busuk. Karena tidak semua petakan bisa dibuat rata, umumnya petani membuat saluran cacing di dalam petakan untuk mengalirkan air yang tergenang. Sebenarnya genangan air diperlukan untuk mencegah berseraknya benih yang ditabur apabila hujan datang, atau untuk mencegah benih dimakan burung atau tikus. Genangan air juga berfungsi untuk menekan perkecambahan biji-biji gulma. Oleh karena itu, para pemulia diharapkan dapat menciptakan varietas padi yang toleran genangan (submergence) yang mampu berkecambah meskipun kondisi air tergenang (anaerobic condition).

https://radiomarconi.com/