Alasan Mengapa Mac Pro Dibuat di AS, Bukan di Cina

Alasan Mengapa Mac Pro Dibuat di AS, Bukan di Cina

 

Alasan Mengapa Mac Pro Dibuat di AS, Bukan di Cina
Alasan Mengapa Mac Pro Dibuat di AS, Bukan di Cina

November lalu, sebagaimana dilaporkan The Verge, Apple membuka keran pemesanan Mac Pro terbaru dengan berjanji bahwa produk akan dikirimkan pada “musim gugur” nanti. Tanggal resminya tidak disebutkan. Mac Pro adalah varian tertinggi dari lini komputer Mac buatan Apple yang varian terendahnya menggunakan prosesor Intel Xeon, GPU Radeon Pro 580X, serta RAM berukuran 32GB.

Untuk versi terendahnya, spesifikasi yang tinggi itu mesti ditebus dengan uang senilai $5.999 atau lebih dari Rp80 juta. Itu hanya untuk unit komputer, belum termasuk layar dan berbagai perangkat pendukung lainnya.

Dengan tingginya spesifikasi yang sebanding dengan harga, CEO Apple Tim Cook sesumbar bahwa Mac Pro merupakan komputer hebat “yang sanggup melakukan 56 triliun per detik pemrosesan data”. “Inilah contoh dari (produk) rancangan orang Amerika yang dirakit di Amerika, dan terlebih lagi, inilah kecerdikan Amerika,” ucapnya.

Mac Pro memang lain dibandingkan produk Apple lainnya. Jika MacBook atau iMac atau iPhone dirakit di luar Amerika Serikat, khususnya Cina, Mac Pro tidak. Ia benar-benar dibuat di Amerika, tepatnya di Austin, Texas.

Tapi, apa pentingnya?

Pada Februari 2011, dalam acara makan malam antara Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan tokoh-tokoh Silicon Valley, yang berlangsung di Woodside, California, Obama sempat bertanya kepada pendiri Apple Steve Jobs. “Mengapa pekerjaan (merakit produk-produk Apple, khususnya iPhone) tidak dilakukan di sini (di Amerika Serikat)?”

Jobs, yang tengah asyik makan bersama bos-bos perusahaan teknologi seperti Eric Schmidt, pemimpin eksekutif pertama Google, hingga Mark Zuckerberg, pencipta platform yang sering digunakan menyebar hoaks dan meme, menjawab tegas dengan mengatakan: “Pak Presiden, pekerjaan seperti itu tidak akan pernah dapat dilakukan di Amerika Serikat.”

Waktu berlalu. Penerus Jobs, Tim Cook, juga penerus Obama, selebtwit @realDonaldTrump, membalikkan fakta pahit itu. Bulan lalu, Trump meresmikan pabrik perakitan Mac Pro dari Apple di Austin, Texas. Kata Trump via Twitter, pembukaan pabrik Apple di AS itu “akan mengembalikan pekerjaan berupah tinggi kembali ke Amerika.”

Baca juga: Apple Batal Produksi Mac Pro Terbaru di Cina

Di bawah kepemimpinan Trump, Apple seakan dipaksa untuk mengubah “Designed by Apple in California. Assembled in China” menjadi “Designed by Apple in California. Assembled in USA.” Cook menyebut secara tersirat bahwa pabrik perakitan Apple di Amerika itu terjadi atas bantuan Trump. Katanya, “(sebagai pemimpin Apple) saya sangat bersyukur atas dukungan Pemerintah AS. Pabrik perakitan ini tidak akan ada tanpa bantuan pemerintah (Trump).”

Slogan “make america great again” yang diumbar Trump seolah lahir via Apple.

Namun, sebagaimana dilaporkan The New York Times, pabrik perakitan Mac Pro, yang sebetulnya dimiliki sebuah perusahaan bernama Flex, yang diresmikan Trump bukanlah barang baru. Pendirian pabrik tersebut mulai direncanakan sejak 2012 dan benar-benar beroperasi sejak 2013, tatkala Obama masih berkuasa.

Masih menurut laporan New York Times, sebelum pabrik itu lahir, Apple melakukan “perakitan virtual” melalui fasilitasnya di Cina untuk membuat Mac Pro. Lalu, pabrik yang dimiliki Flex itu mengambil alih proses perakitan. Sialnya, karena masalah pasokan, Apple berpikir ulang tentang keberadaan fasilitasnya di Austin tersebut. Dalam laporan The Wall Street Journal Juni lalu, Apple berkomitmen untuk memindahkan secara total produksi Mac Pro ke Cina, dengan bekerjasama dengan perusahaan bernama Quanta Computer Inc.

Keputusan Apple dibuat salah satu alasannya atas imbas perang dagang AS-Cina. Kala itu, untuk membendung keperkasaan ekonomi Cina, Trump memberlakukan tarif impor 25 persen atas barang-barang Cina. Sialnya, komponen pembuat Mac Pro yang hendak dibuat di Austin terkena pula. Namun, pada Juli, 2019 Trump memberi keistimewaan pada Apple dengan membebaskan tarif bagi komponen pendukung Mac Pro.

Akhirnya, Mac Pro tetap dibuat di pabrik berukuran 22,6 ribu meter persegi itu, dengan melibatkan lebih dari 500 pekerja.

Seolah-olah dengan membebaskan tarif Trump sukses membuka pabrik Apple di tanah airnya.

Apple menilai penting produk-produknya yang lahir di AS. Jason Snell, dalam tulisannya di MacWorld, menyebut bahwa bagi Apple, Mac Pro adalah simbol. Mac Pro merupakan komputer yang mendefinisikan siapa Apple. Dalam pernyataannya di situs resmi Apple, Tim Cook tegas menyatakan bahwa Mac pro adalah “bukti abadi dari kecerdikan Amerika”. Maka, memang sudah semestinya simbol itu dirancang dan lahir di Amerika.

Secara keseluruhan Apple menjual 18,21 juta Mac pada 2018. Setahun sebelumnya, Apple menjual 19,25 juta Mac. Merujuk Laporan Fiskal 2019 Apple, diprediksi sebagian besar penjualan tersebut disumbang oleh MacBook Air, varian terpopuler dan termurah dari lini Mac. Mac Pro menyumbang sangat kecil dari angka itu, karena produk ini berstatus simbol, sebagai barang yang dihargai selangit oleh Apple. Maka, karena sedikit, Apple “mudah” merealisasikan Mac Pro menjadi produk yang seutuhnya dibuat di Amerika, tidak seperti iPhone atau iPad.

Menjurut klaim Apple sendiri, Mac Pro yang dirakit di Austin memperoleh dukungan dari sekitar 9.000 perusahaan asal Amerika.

Baca juga: Di Balik Sukses Bisnis Steve Jobs: Ada Anak & Istri yang Diabaikan

Nampaknya, Mac Pro hanya akan menjadi satu-satunya produk Apple yang dibuat di AS. Alasannya, pertama, merujuk laporan Apple sendiri, Apple sangat tergantung pada pabrik-pabrik di berbagai belahan dunia dari berbagai perusahaan yang memasok bahan baku untuk berbagai produk Apple. Hingga saat ini, 381 pabrik di Cina menjadi pemasok kebutuhan Apple. Lalu, ada 67 pabrik lainnya asal Taiwan. Jepang sendiri memiliki 135 pabrik yang mendukung operasional Apple. Meski tidak banyak, ada lima pabrik di Indonesia yang dibutuhkan Apple untuk mendukung operasionalnya.

Terpusatnya pabrik-pabrik yang memasok kebutuhan Apple di Asia membuat Apple sukar pindah. Alasan terakhir,

sebagaimana pernah diucap tim Cook, adalah “kemampuan para pekerja” di Cina. Sebagaimana dilaporkan Inc, “Cina memiliki pekerja dengan kemampuan luar biasa” yang sukar ditandingi orang Amerika.

Dua alasan itulah yang nampaknya membuat label “Assembled in USA” hanya akan menempel pada Mac Pro.

Bagi pemerintah, lahirnya produk Apple yang seutuhnya dibuat di Amerika adalah kemenangan politik. Selain Obama, Trump juga gencar meminta Apple mendirikan pabrik di AS sejak 2016. Bahkan, pada 2017 lalu, ia sesumbar bahwa Tim Cook berjanji akan membuka tiga pabrik di AS.

Dengan tidak mengoreksi kekeliruan Trump, Cook nampak memenuhi janjinya melalui pabrik perakitan Mac Pro di Austin. Hal ini diklaim oleh Trump sebagai kesuksesannya membuka lapangan kerja yang membutuhkan kemampuan tinggi untuk warga Amerika di tanah air.

Melalui akun Twitternya, Trump selalu menggaungkan bahwa ia akan sukses menyediakan lapangan pekerjaan bagi

rakyat Amerika. Sebagaimana dilansir ProPublica, hingga pertengahan 2019, Trump telah mengklaim ada 35 perusahaan yang berinvestasi di AS dan melahirkan 8,9 juta lapangan kerja bagi rakyat AS.

Padahal, menurut hitung-hitungan ProPublica, Trump hanya sukses melahirkan 154.000 lapangan kerja..

Baca Juga: