Masyarakat Indonesia Minim Konsumsi Buah dan Sayur

Masyarakat Indonesia Minim Konsumsi Buah dan Sayur

Masyarakat Indonesia Minim Konsumsi Buah dan Sayur
Masyarakat Indonesia Minim Konsumsi Buah dan Sayur

Prof. Slamet Susanto, Ketua Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI) periode 2017 – 2021 menyampaikan berdasarkan data Balitbangkes 2016 konsumsi masyarakat Indonesia masih didominasi sereal dan umbi-umbian mencapai 300 ton per tahun, sementara untuk sayur-sayuran dan buah konsumsinya masih di bawah 100 ton per tahunnya.

“Kebalikan dari Indonesia, konsumsi buah masyarakat Singapura di atas 300 ton per tahun. Tentu saja kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat serta penyakit yang ditimbulkan diantaranya: stroke, penyakit jantung, diabetes dan penyakit degeneratif lainnya,” kata Prof. Slamet dalam Seminar Internasional “Horticulture for The Quality of Life”, Senin (10/12), IPB International Convention Center, Bogor.

Lebih lanjut Prof. Slamet menyampaikan usia harapan hidup masyarakat

Indonesia pun mencapai 70,1 tahun. Hal ini termasuk rendah diantara Malaysia 74,9 tahun, Thailand 74,3 tahun, Singapura 82, 2 tahun dan Jepang, 87,2 tahun.

“Ini terjadi karena kita banyak mengonsumsi lebih banyak karbohidrat, minyak, sedikit mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan, sehingga berdampak kurang baik bagi kesehatan. Produk hortikultura memberikan manfaat untuk kesehatan masyarakat Indonesia,” kata Prof. Slamet.

Menurut Prof. Slamet, belum lagi income per capita masyarakat Indonesia pun masih berada di level di bawah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Untuk itu perlunya meningkat income per kapita untuk meningkatkan daya beli masyarakat terhadap produk hortikultura.

“Untuk itu butuh strategi untuk memperbaiki produktivitas dan kualitas produk hortikultura, meningkatkan konsumsi buah dan sayur, pentingnya kesadaran masyarakat dengan sinergi antar riset dan pemanfaatan hasil riset, juga pengasuhan petani di pusat-pusat hortikultura, dukungan fasilitas dan infrastruktur, pengembangan sistem dan data akurat dan informasi, serta efisiensi market system,” kata Prof. Slamet.

Sementara itu, Dr. Awang Maharijaya, Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika,

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (LPPM IPB) menyampaikan pentingnya kesadaran masyarakat akan berbagai manfaat kualitas pangan untuk kehidupan lebih baik. Dr. Awang menjelaskan berbagai peranan hortikultura yang tidak hanya untuk konsumsi.

“Peran hortikultura penting untuk peningkatan income, membuka lapangan pekerjaan, peningkatan GDP nasional. Tidak hanya itu peran hortikultura juga sangat bermanfaat bagi lingkungan yang lebih baik dan mempercantik lingkungan perkotaan,” kata Dr. Awang.

Dalam acara yang dihadiri akademisi, peneliti, hortikulturist serta pembuat

kebijakan ini dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI), PKHT IPB dengan Japanese Society for Horticultural Science (JSHS) yang ditandatangani oleh Prof. Slamet Susanto, Dr. Awang Maharijaya, President of Japanese Society for Horticultural Science, Prof. Sanesuki Kawabata, dan Prof. Masayoshi Shigyo dari Yamaguchi University, Japan.

Hadir presenter dari University of Tokyo, Saneyuki Kawabata and Motoyuki Ishimori, Prof. Sobir (Vice President of SABRAO), Prof. Ming-Tsair Chan dari Academia Sinica Agricultural Biotechnology Research Center, Taiwan, Mr. Thunya Taychasinpitak dari Royal Project Foundation, Kasetsart University, Thailand dan Mr. Rahmansyah Dermawan dari Shandong Academy and Agricultural Sciences, Tiongkok. (dh/ris)

 

Sumber :

https://www.sudoway.id/