pengertian taubat nasuha

Pengertian Taubat

Taubat berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali. Menurut istilah, taubat adalah kembali dari perbuatan dosa dan salah kepada perbuatan yang terpuji. Adapun secara terminologis, Imam an-Nawawi mengatakan, taubat adalah raja’a ‘an al-itsmi (kembali dari dosa) (Syarah Shahih Muslim, XVII/59). Dengan kata lain, taubat adalah kembali dari meninggalkan segala perbuatan tercela (dosa) untuk melakukan perbuatan yang terpuji (‘Atha, 1993).
Taubat tersebut adalah suatu keniscayaan bagi manusia, sebab tidak satu pun anak keturunan Adam AS di dunia ini yang tidak luput dari berbuat dosa. Semua manusia, pasti pernah melakukan berdosa. Hanya para nabi dan malaikat saja yang luput dari dosa dan maksiyat. Manusia yang baik bukan orang yang tidak berdosa, melainkan manusia yang jika berdosa dia melakukan taubat.

2. Pengertian Raja’

Pengertian raja’ secara bahasa, berasal dari bahasa arab, yaitu “rojaun” yang berarti harapan atau berharap. Raja’ adalah perasaan hati yang senang karena menanti sesuatu yang diinginkan dan disenangi. Secara terminologi, raja’ diartikan sebagai suatu sikap mental optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Ilahi yang disediakan bagi hamba-hambaNya yang shaleh.
Imam Qusyairy memberikan pengertian raja’ sebagai keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Sebagaimana halnya khauf berkaitan dengan apa yang akan terjadi di masa datang.
Raja’ termasuk akhlakul karimah terhadap Allah SWT, yang manfaatnya dapat mempertebal iman dan mendekatkan diri kapada Allah SWT. Muslim yang mengharapkan ampunan Allah, berarti ia mengakui bahwa Allah itu maha Pengampun. Muslim yang mengharapkan agar Allah melimpahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, berarti ia meyakini bahwa Allah itu maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Recent Posts

adab menjenguk orang sakit akidah akhlak

ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Diantara sekian banyak amal shaleh yang ditekankan oleh syari’at kita serta dijanjikan bagi para pelakunya dengan ganjaran yang besar ialah menjenguk orang sakit. Yang paling jelas adalah sebuah sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Bara’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan:
« أَمَرَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ أَمَرَنَا بِاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَعِيَادَةِ الْمَرِيضِ وَإِجَابَةِ الدَّاعِي وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ وَرَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perkara: ‘Beliau memerintahkan kami supaya mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang terdhalimi, membantu melepas (kafarah) sumpah, menjawab salam dan mendo’akan orang yang bersin”. HR Bukhari no: 1239. Muslim no: 2066.

Adab bagi yang menjenguk:

Sunah yang dianjurkan bagi orang yang sedang menjenguk ialah mendo’akan orang yang sedang sakit dengan rahmat dan ampunan, penghapus dosa, keselamatan dan kesembuhan. Salah satu do’a beliau ialah seperti yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Adalah kebiasaan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila datang pada orang yang sedang sakit beliau mendo’akan orang tersebut dengan do’a: “Hilangkanlah sakit, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan -Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”. HR Bukhari no: 5675. Muslim no: 2191.

Dalam menjenguk orang sakit ada beberapa pelajaran yang bisa kita raih diantaranya:

Pertama: Pahala yang besar dari Allah azza wa jalla, sebagaimana telah lewat penjelasannya dalam hadits-hadits terdahulu.
Kedua: Akan menguatkan kondisi si sakit dikarenakan dikunjungi oleh orang yang dicintainya.
Ketiga: Mendo’akan pada orang yang sakit. Atau merasa kehilangan kabar tentangnya sehingga hal tersebut tidak mungkin bisa diketahui kecuali bila dirinya datang menjenguknya.
Keempat: Mengingatkan bagi pengunjung akan nikmat Allah Shubhanahu wa ta’alla yang sangat besar padanya yaitu nikmat sehat, dimana hal tersebut tidak diperoleh sama saudaranya.
Kelima: Mengajak untuk masuk ke dalam Islam jika yang dijenguknya adalah non muslim.
Keenam: Terkadang dirinya bisa menyarankan bagi si sakit untuk mengkonsumsi obat tertentu yang telah ia ketahui, sehingga hal tersebut memberi manfaat untuknya dan dirinya.
Ketujuh: Memasukan rasa senang pada hati orang yang sedang sakit dengan menyebutkan kabar gembira padanya.
Kedelapan: Akan menumbuhkan rasa saling menyayangi, mencintai serta mengasihi dilingkungan muslim. Yaitu dengan cara memotivasi orang yang sedang sakit sehingga dirinya serta keluarganya merasa tidak sendirian merasakan musibah yang sedang dideritanya, bersama-sama merasakan beban dan musibahnya.


Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/

nama nabi ulul azmi

Rasul-rasul Ulul Azmi dan Mu’jizatnya

Ulul Azmi artinya seorang Rasul Allah yang memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Dari 25 Rasul Allah yang meraih derajat Rasul Ulul Azmi ada lima.

Rasul-rasul yang meraih derajat Ulul Azmi tersebut yaitu:

Nabi Nuh AS
Nabi Ibrahim AS
Nabi Musa AS
Nabi Isa AS
Nabi Muhammad AS
Mu’jizat Nabi-nabi Ulul Azmi
Yang dimaksud dengan Rasul Ulul Azmi adalah para Rasul yang mempunyai keistimewaan atau kelebihan, serta tabah dalam menghadapi cobaan.
Mu’jizat adalah semacam kejadian atau kepandaian yang luar biasa pada diri seorang Nabi atau Rasul, yang datangnya dari Allah SWT.
Mu’jizat Nabi Nuh AS
Kemampuan membuat perahu
Ketika perahu Nabi Nuh dibakar oleh umatnya tidak bisa terbakar
Dengan perahu itu pula, Nabi Nuh dan pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari bencana banjir
Mu’jizat Nabi Ibrahim AS
Ketika masih bayi ibu jarinya bisa mengeluarkan madu
Peristiwa penyembelihan Ismail, yang kemudian digantikan gibas (domba)
Ketika dibakar oleh Raja Namrud, tidak terbakar.
Mu’jizat Nabi Musa AS
Tongkat yang dimilikinya bisa berubah menjadi ular yang besar, sehingga bisa mengalahkan ular ciptaan tukang sihir Raja Fir’aun
Dengan tongkat itu pula Nabi Musa bisa membelah lautan, ketika Nabi Musa dan pengikutnya di kejar-kejar oleh Fir’aun dan tentaranya.
Ketika pengikut Nabi Musa kehausan, tongkat beliau dipukulkan ke batu, kemudian memancar- kan air untuk di minum.
Mu’jizat Nabi Isa AS
Bisa berbicara ketika masih bayi
Menjadikan burung dari tanah
Dapat menyembuhkan penyakit-penyakit yang sulit disembuhkan, seperti lepra, buta dan lain-lain
Dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal atas ijin Allah.
Mu’jizat Nabi Muhammad SAW
Dengan menunjukkan telunjukknya, beliau bisa membelah bulan dan merapatkannya kembali
Ketika umatnya kekurangan air, dari sela-sela jari beliau dapat mengeluarkan air yang cukup untuk di minum dan untuk berwudlu oleh banyak orang
Peristiwa Isra’ Mi’raj, jakni diperjalankannya Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian naik ke Sidratul Muntaha
Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang paling besar bagi Nabi Muhammad SAW. Karena Al-Quran sangat universal di sepanjang zaman, yang memuat berbagai hal yang menyangkut kehidupan seluruh makhluq, baik di dunia maupun di akhirat, juga berbagai macam ilmu pengetahuan.


Sumber: https://pengajar.co.id/jasa-penulis-artikel/

macam-macam santri

Keberagamaan Santri Jawa

Greag Fealy dalam artikelnya mencatat bahwa variasi tradisi santri jawa populer yang terus dikokohkan dikalangan mereka adalah praktik-praktik lokal, seperti ritual lingkaran hidup, ritual slametan, ziarah kubur, muludan, tahlil dan sebagainya. Greag Fealy hanya mengambil satu sempel yaitu praktik ziarah kubur.
Ziarah kubur telah diajarkan oleh Nabi Muhammad yang menganjurkan untuk berziarah kubur walaupun sebelumnya dilarang karena dikhawatirkan merusak akidah umat yang masih rentan. Ziarah kubur dalam Islam faedahnya antara lain agar mengingatkan kepada orang yang hidup akan kematian sehingga dapat diambil peajaran darinya selain itu juga mempunyai tempat tersendiri di dalam kultur Jawa, yaitu kebiasaan orang Jawa yang selalu menaruh hormat kepada leluhur-leluhurnya. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, seperti datangnya bulan Ramadan, berziarah ke makam leluhur menjadi bagian integral tradisi orang jawa yang disebut megengan, yaitu ritual khusus untuk mempersiapkan diri (raga) dalam rangka memasuki bulan suci Ramadan. Bulan suci Ramadan yang penuh “rahmat dan ampunan” dalam ajaran Islam tidak bisa diraih jika tidak dengan jiwa-raga yang bersih, salah satunya dengan cara memohon maaf kepada para leluhur melalui tradisi ziarah kubur.[3]
Menurut Clifford Greetz, secara geografis golongan santri biasanya berada dalam wilayah disekitar pesisir pulau Jawa, yang menjadi titik tolak penyebaran Islam yang berasal dari Timur Tengah. Pemahaman mereka terhadap Islam cukup mendalam bahkan dalam pengamalan tergadap syari’at Islam lebih murni. Itu sebabnya banyak muncul pesantren disepanjang pantura pulau Jawa. Dengan demikian, santri kategorinya adalah orang yang melaksanakan kewajiban agama secara cermat dan teratur, dalam hal ini juga sesuai apabila disematkan pada masyarakat yang bermata pencaharian sebagai pedagang karena interaksinya dengan dunia luar sangat intens. Clifford Greetz menggambarkan bahwa inilah masyarakat Islam yang tinggal di Jawa yang memadukan Islam dengan budaya lokal.[4]

E. Kesimpulan

Santri adalah peserta didik yang belajar atau menuntut ilmu di pesantren. Pola kehidupan pesantren termenifestasikan dalam istilah “pancajiwa” yang didalamnya memuat “lima jiwa” yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri yaitu meliputi: Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Kemandirian, Jiwa Ukhuwah Islamiah, Jiwa Kebebasan. Bagi kaum santri dalam beribadah lebih pada penghayatan nilai-nilai ketuhanan tidak hanya ikut-ikutan dan lebih bertoleran dalam menghadapi berbagai macam perbedaan/persoalan dalam kaitannya dengan peribadatan.

Recent Posts

skripsi tentang santri

Pengertian Santri

Istilah santri pada mulanya dipakai untuk menyebut murid yang mengikuti pendidikan Islam. Istilah ini merupakan perubahan bentuk dari kata shastri (seorang ahli kitab suci Hindu). Kata Shastri diturunkan dari kata shastra yang berarti kitab suci atau karya keagamaan atau karya ilmiah.[1]
Santri adalah peserta didik yang belajar atau menuntut ilmu di pesantren. Jumlah santri biasanya menjadi tolak ukur sejauh mana pesantren telah bertumbuh kembang. Manfred Ziemek mengklarifikasikan istilah santri ini kedalam dua kategori, yaitu santri mukim (santri yang bertempat tinggal di pesantren) dan santri kalong (santri yang bertempat tinggal diluar pesantren yang mengunjungi pesantren secara teratur untuk belajar agama).

C. Pola Kehidupan di Pesantren

Pola kehidupan pesantren termenifestasikan dalam istilah “pancajiwa” yang didalamnya memuat “lima jiwa” yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri. Kelima jiwa ini adalah sebagai berikut :
a. Jiwa Keikhlasan
Jiwa ini tergambarkan dalam ungkapan “sepi ing pamrih”, yaitu perasaan semata-mata untuk beribadah yang sama sekali tidak termotivasi oleh keinginan keuntungan-keuntungan tertentu. Jiwa ini terdapat dalam diri kiai dan jajaran ustadz yang disegani oleh santri dan jiwa santri yang menaati-suasana yang didorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa hormat.
b. Jiwa Kesederhanaan
Kehidupan di pesantren diliputi suasana kesederhanaan yang bersahaja yang mengandung kekuatan unsur kekuatan hati, ketabahan, dan pengendalian diri didalam menghadapi berbagai macam rintangan hidup sehingga dapat membentuk mental dan karakter dan membentuk jiwa yang besar, berani, dan pantang mundur dalam segala keadaan.
c. Jiwa Kemandirian
Seorang santri bukan berarti harus belajar mengurus keperluan sendiri, melainkan telah menjadi menjadi semacam prinsip bahwa sedari awal pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak pernah menyandarkan kelangsungan hidup dan perkembangannya pada bantuan dan belas kasihan orang lain, kebanyakan pesantren dirintis oleh kiai dengan hanya mengandalkan dukungan dari para santri dan masyarakat sekitar.
d. Jiwa Ukhuwah Islamiah
Suasana kehidupan di pesantren selalu diliputi semangat persaudaraan yang sangat akrab sehingga susah senang dilalui bersama, tidak ada pembatas antara mereka meskipun sejatinya mereka berbeda-beda dalam berbagai hal.
e. Jiwa Kebebasan
Para santri diberi kebebasan dalam memilih jalan hidup kelak di tengah masyarakat. Mereka bebas menentukan masa depan dengan berbekal pendidikan selama berada di pesantren.[2]


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

sejarah perkembangan tasawuf abad 5

Jurnal Tokoh Sufi Abad V dan Gerakan Pembaharuan Tasawuf

Al-Qur’an dan As-sunnah.

Pembahasan :
Dalam perkembangan tasawuf abad ke-lima sendiri dipengaruhi oleh perkembangan sebelumnya. Dimana pada saat kematian al-Hallaj di atas tiang kayu menimbulkan kesan yang tidak baik terhadap pandadangan tasawuf waktu itu.[1] Setelah beliau menjalani hukum mati pada tahun 922 M. Tahun-bertahun bertambahlah perbedan antara pandangan ilmu fiqih dengan tasawuh hingga puncaknya pada abad ke-lima yang membahas permasalahan mtafisika yang tinggi. Pada waktu itu terkenal tujuan dari tasawuf yaitu mencapai kebahagian jiwa dengan mencari tuhan.
Abad ke-empat berkembang tiga ilmu dalam Islam, yaitu ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fiqih. Dan berkembanglah pada waktu itu Madzhab Isma’illyah suatu Mazdhab yang mengembangkan ideologi mengagungkan keturunan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya ke atas singgah sana kerajaan. Dalam Madzhab ini terkenal akan ajaranya yang keras dalam kaum syi’ah. Yang dipercayai bahwa adanya 12 imam ghaib yang mendiami suatu bukit bernama Ridwan, yang di tunggu kehadirannya. Kepercayaan tersebut memiliki pengertian sama dengan kaum sufi yang meyakini adanya “wali-ullah” sebagai kekasih Allah Swt.
Pada waktu itu ada beberapa sufi yang menjalankan ajaran tasawuf yang dalam upaya membangun mental-spiritual mendekatkan diri kepada Allah Swt, bahkan pula untuk menyatukan dirinya dengan sang pencipta. Dalam pengajaran ini menggunakan pengasingan diri yang lebih cenderung mempunyai kesan anti sosial. Dan abad ke-tiga dan ke-empat munculah dua kelompok dalam pengajaran tasawuf. Golongan pertama adalah orang yang memiliki paham moderat, yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits. Yang menganut pentingnya akan moralitas. Sedangkan golongan yang kedua lebih cenderung ke arah yang menjauhkan diri dari segala hiruk-piruk akan kehidupan sosial dan anti sosial. Menekan ke arah kefana-an (menghilang dengan tuhan). Dengan sifat anti sosial tersebut yang menghambat atau menolak sama sekali dari pembaharuan yang ada dan tidak mengikuti perkembangan yang ada, sehingga pada waktu itu perkembangan Islam mengalami kemunduran dan di dahului oleh perkembangan Barat.
Melihat beberapa pristiwa tersebut akhirnya timbulah kesadaran akan pengajaran tasawuf yang kurang tepat, sehingga pada abad ke-lima lahirlah tasawuf sunni yang penyandarannya pada Al-qur’an dan As-sunnah. Dinamakan sunni karena tasawuf ini di dasarkan kepada Sunnah Rosulullah dan para sahabat. Lalu munculah imam al-Ghazali pelopor dari ajaran ini. Imam al-Ghazali hanya meneriman tasawuf bedasar pada Al-Qur’an dan As-sunnah serta bertujuan sektisme (zuhud), kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Pengetahuan tentang kajian tasawuf yang mendalam. Disisi lain, beiau juga melancarkan kritikan tajam terhadap para filosof, kaum muktazilah dan batiniyah. Al-Ghazali berhasil menggunakan prinsip-prinsip tasawuf moderat, yang seiring dengan aliran Ahlussunnaah wal jama’ah yang bertentangan dengan prinsip Al-Hallaj dan Al-Bustami, terutama tentang karakter manusia.[2]
Tokoh lainnya yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf pada abad ke-lima adalah Al-Qusyairi yang dengan bukunya yang bejudul Ar-Risalah Al-Qursyairi yang mengembalikan pemahaman tasawuf ke Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau menentang tentang ajaran yang mengajarkan syathahat, yang memadukan antra sifat-sifat tuhannya yang terdahulu dengan sifat-sifat manusia yang baru.
Abu Isma’il Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan Al-Harawi. Sama dengan Al-Qusayari beliau juga berlandaskan kepada Ahlussunnah wal Jama’ah dan bahkan beliau dikenal sebagai pengasas pembaheuan dalam tasawuf dan menentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapan seperti Albustami dan Al-Hallaj.


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Alasan-alasan Penjualan

Alasan-alasan PenjualanAlasan-alasan Penjualan

Yang dimasud alasan penjualan adalah faktor-faktor yang dapat dikemukakan oleh penjual kepada calon pembeli mengenai barang-barang yang akan dijual. Misalnya, mengenai mutunya, manfaatnya, nilai ekonominya, dan sebagainya.

 

Setiap perbuatan yang menunjukkan hal-hal yang menyenangkan calon pembeli itu disebut alas an-alasan penjualan. Misalnya, penjual mengatakan bahwa sarung ini tidak luntur. Setelah calon pembeli mendengar, menjadi sadar akan nilai dan keuntungan yang mungkin nanti diperolehnya bila membeli barang tersebut. Jika alasan penjual itu dapat sesuai dengan barang yang terjual, maka tentu calon pembeli dapat menjadi langganan kita.

 

Recent Posts

Manfaat Ilmu Menjual

Manfaat Ilmu MenjualManfaat Ilmu Menjual

Menjual adalah suatu masalah perorangan yang sifanya kreatif. Pekerjaan menjual, memerlukan keahlian yang tak mungkin diganti dengan mesin. Dengan memiliki ilmu menjual, penjual dapat melakukan tugas lebih lancar dengan langganan-langganannya.

 

Jadi, manfaat ilmu menjual antara lain :

  1. Membantu penjual dalam melakukan kegiatan dagang.
  2. Membantu penjual dalam mengatasi segala macam rintangan yang timbul,
  3. Membantu penjual dalam mengatasi persaingan baik dalam negeri maupun luar negeri/
  4. Memajukan perdagangan.

  1. Ruang Lingkup Kegiatan Penjualan
  2. Hukum Penjualan

Telah kita ketahui bahwa ilmu menjual adalah seni hidup. Jadi, dalam artinya tersirat makna bahwa setiap penukaran sesuatu kepada orang lain dapat disebut jual beli. Untuk ini, maka kita perlu memperhatikan hukum penjualan yang prosesnya seperti dibawh ini :

  1. Tiap-tiap orang adalah penjual,
  2. jual beli adalah pertukaran antara dua jenis benda, pikiran, tenaga, jasa, kepandaian, cita-cita dan sebagainya.
  3. Orang mau membeli sesuatu barang sebab berpendapat, bahwa barang yang akan dimilikinya itu lebih berharga daripada uang yang akan dikeluarkannya.

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/07/08/jasa-penulis-artikel/

 

SENI MENJUAL

SENI MENJUALSENI MENJUAL

Seni menjual adalah suatu usaha untuk mencapai hasil yang diinginkan dengan cara atau jalan menggunakan kepandaiaan ilmu menjual, sedangkan ilmu menjual adalah suatu kemampuan atau kecakapan untuk mempengaruhi orang-orang (konsumen) supaya mau membeli produk-produk yang kita tawarkan baik jasa maupun dagang agar dapat saling menguntungkan.

Objek ilmu menjual terdiri dari 2 yaitu penjual dan produk yang dijual (berbentuk jasa maupun barang olahan). Tujuan dasar program pejualan suatu perusahaan adalah melakukan penjualan yang menguntungkan atas nama perusahaan. Strategi dan rencana penjualan diimplementasikan untuk membantu tercapainya tujuan penjualan, misalnya program periklanan dapat diimplementasikan untuk membantu meningkatkan volume penjualan produk atau jasa tertentu. Maksud dan tujuan ilmu menjual sendiri yaitu untuk merealisasikan kemampuan dalam seni menjual yang meliputi kepandaian menjual jasa maupun produk kepada para calon konsumen. Sedangkan fungsi ilmu menjual adalah untuk membantu dalam kegiatan pelaksanaan kegiatan usaha. Profesi penjual bukan hanya sebagai tugas sampingan, tetapi harus sebagai pekerjaan yang menghasilkan dan merupakan karir dalam hidup yang menantang.

Sumber :

http://dewi_marisa12u.staff.ipb.ac.id/2020/07/12/jasa-penulisan-artikel/

 

untuk menghadapi aksi pki dalam bidang pertanian nu mendirikan

Langkah NU Menghadapi G30S/PKI

Proses pengambilan sikap untuk itu terjadi seperti ini, persis pada pagi-pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 itu, Pucuk Pimpinan Gerakan Pemuda ANSOR sedang menyelenggarakan
rapat pleno lengkap di Jakarta. Pada awalnya semua pihak termasuk PP Ansor masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dan siapa pelakukanya. Saat itu juga dilakukan usaha untuk mengumpulkan berbagai keterangan tentang situasi yang
sebenarnya, maka pada siang harinya, setelah mendengarkan Pengumuman tentang susunan dan personalia Dewan Revolusi yang diumumkan oleh Letnan Kolonel Untung, situasi menjadi sedikit terang siapa pelakuknya dan apa tujuannya, yang tidak jauh yang didukan oleh Ansor dan kalangan NU pada umumnya, mengingat pemanasan dan persiapan yang dilakukan PKI sudah cukup lama.

Saat itulah PP Gerakan Pemuda Ansor menyelenggarakan rapat kilat dan mengambil kesimpulan dengan tegas dan yakin bahwa:

(1) Apa yang dilakukan oleh “Gerakan 30 September” adalah

suatu perebutan kekuasaan negara; (2) Bahwa telah jatuh
beberapa korban terdiri dari Perwira-Perwira Tinggi Angkatan Darat yjang telah diculik dan dibunuh oleh “Gerakan 30 September” adalah didalangi dan dilaksanakan oleh PKI, sehingga perebutan kekuasaan Negara pada hari itu pada hakekatnya dilancarkan oleh gerombolan PKI. Pada 1 Oktober 1965 jam 14.30 itu pula PP Gerakan Pemuda ANSOR mengeluarkan suatu pernyataan yang sama dengan yang dikeluarkan PBNU, walaupun tidak berhubungan satu sama lain, karena situasi rawan tidak memungkinkan keduanaya bertemu saat itu6. Rupanya seluruh jajaran pengurus NU di daerah baik di wilayah maupun di cabang juga mengadakan petemuan di tempat masing-masing. Walaupun tanpa komunikasi satu sama lain, tetapi melihat situasi pemanasan sebelumnya, maka mereka sepakat bahwa PKI-lah yang melakukan kudeta itu. Sebagai contoh pertemuan di rumah Kiai Sofyan Ketua PCNU Trenggalek dalam pertemuan itu ditegaskan bahwa pelaku penculikan para jenderal adalah PKI. Kalangan militer sendiri juga belum mendapatkan gambaran yang pasti siapa pelaku Gerakan itu Letnan Suyatno Komandan Koramil Kampak yang datang tengah malam pada pertemuan itu juga baru menduga pelaku Kudeta adalah PKI. Karena itu dia menyaraknan para Kiai untuk waspada karena tidak menutup kemungkinan PKI akan melakukan serangan pada ulama NU7.
Mengingat gawatnya situasi maka PP-GP Ansor menyerukan kepada anggota PP-GP Ansor, agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan menghimbau untuk sementara waktu tidak tinggal di rumah. Kemudian rapat yang semula di Jakarta pusat itu tidak aman, maka dicari tempat yang lebih aman di pinggiran kota yaitu di Klender. Dari persembunyian itulah PP Ansor memantau perkembangan situasi dan memberikan instruksi lebih lanjut kepada pimpinan Wilayah dan Cabang NU seluruh Indonesia.

Recent Posts