Revolusi Tiongkok

Revolusi Tiongkok

“Belajarlah hingga ke Negeri Tiongkok”, kamu pasti pernah mendengar kutipan itu, ‘kan, Squad? Pepatah itu terlihat gara-gara Tiongkok sudah diakui sebagai “pusat dunia” sejak zaman dulu. Meski Tiongkok sudah jadi “negara besar” sejak lama, bukan berarti Tiongkok tidak pernah di dalam situasi terpuruk. Masa-masa terjadinya revolusi Tiongkok bisa saja jadi tidak benar satu masa jelek yang pernah dialami Tiongkok. Kita cari mengetahui yuk bagaimana Revolusi Tiongkok berjalan dan apa penyebabnya!

Latar Belakang Revolusi Tiongkok

Latar belakang terjadinya Revolusi Tiongkok disebabkan berasal dari aspek internal negara Tiongkok dan aspek eksternal. Ini dia penyebab-penyebabnya:

Perlawanan atas dominasi asing

A. Perang Candu I dan II

Kedatangan bangsa-bangsa Barat awalnya di awali bersama dengan perdagangan. Kamu ingat apa yang diperjualbelikan di Indonesia? Yap, bener banget, rempah. Keadaan ini berlainan bersama dengan Tiongkok, gara-gara yang jadi komoditi adalah opium! Komoditas ini dipilih gara-gara mendatangkan keuntungan yang besar bagi Inggris. Sebetulnya, konsumsi bahan ini sudah dilarang oleh Kaisar gara-gara mengundang pengaruh yang buruk. Meski begitu, pihak Inggris tetap memaksa untuk memperjualbelikan komoditas ini. Duh, kok maksa, sih… Akhirnya, Kaisar menentukan untuk menghentikan perdagangan tidak sehat itu.

Akibat larangan tersebut, Inggris berikan perlawanan bersama dengan mengirim armada angkatan laut dan berhasil menguasai kota pelabuhan Hongkong, Kanton, Xiamen, Ningbo, Fuzhou, dan Shanghai. Tiongkok-pun terpaksa mengakui kelebihan Inggris bersama dengan diberi tanda tangan Perjanjian Nanking terhadap 1842.

Ternyata perangnya tidak berhenti hingga di situ. Pada 1856-1860 berjalan Perang Candu II antara Dinasti Qing bersama dengan Inggris, Amerika Serikat, dan Prancis. Penyebabnya gara-gara bangsa barat berambisi untuk memperluas wilayah kekuasaan ke Tiongkok. Penyebab lainnya adalah gara-gara Tiongkok menghentikan kapal The Arrow punya Inggris. Untuk mengakhiri perang, muncullah perjanjian Treaty of Nanjing terhadap Juni 1858.

B. Invasi Jepang

Tahukah kamu terkecuali Tiongkok dan Jepang terlibat di dalam perang sepanjang setahun? Tepatnya 1894-1895, perang ini disebabkan gara-gara Pemberontakan Tonghak. Perlu jadi catatan, pemberontakan ini berjalan di Korea, bukan Tiongkok, Squad.

Pemberontakan dijalankan oleh petani-petani Korea yang marah dan pengikut agama Donghak, suatu agama panteisme yang dipandang sebagai ideologi politik. Mereka marah gara-gara dibikin hukum palsu bagi mereka untuk membangun waduk, padahal tujuannya hanya untuk meraih pajak. Akhirnya, para petani mengamuk dan pemerintah Korea yang kecemasan berharap dukungan terhadap Dinasti Qing (Tiongkok).

Setelah Tiongkok mengirimkan bantuan, Jepang marah gara-gara posisi Jepang pas itu tengah menguasai Semenanjung Korea. Tiongkok diakui tidak menjunjung Jepang gara-gara mengirim dukungan untuk Korea tanpa berharap izin Jepang. Akhirnya perang tidak sanggup dihindari. Tiongkok mengalami kekalahan di dalam perang ini dan perlu diberi tanda tangan Perjanjian Shimonoseki terhadap 19 Maret 1895. Akibatnya, Tiongkok perlu menyerahkan Pulau Formosa (Taiwan) kepada Jepang.

Masuknya Dominasi Asing

Masuknya paham-paham baru layaknya nasionalisme dan liberalisme memunculkan kaum terpelajar. Salah satunya adalah Dr. Sun Yat Sen (1866-1925).

Perlawanan berasal dari Dalam

Selain menghadapi perlawanan atas dominasi asing, Tiongkok perlu menghadapi perlawanan berasal dari dalam, yaitu rakyatnya sendiri. Di antaranya adalah:

– pemberontakan Taiping (1850-1864), merupakan perang saudara di Tiongkok yang berjalan berasal dari th. 1850 hingga 1864. Terjadi antara Dinasti Qing yang dipimpin oleh suku Manchu dan gerakan milenarianisme Kristen berasal dari Kerajaan Surgawi Perdamaian.

– Pemberontakan Nian (1853-1868), merupakan pemberontakan senjata. Meski gagal menjatuhkan Dinasti Qing, pemberontakan ini sebabkan kekacauan di dalam beraneka aspek.

– Pemberontakan Panthay (1855-1873), adalah gerakan separatis yang terdiri berasal dari suku Hui dan Muslim Tiongkok yang menentang Dinasti Qing di Yunnan barat daya. Gerakan ini terlihat sebagai anggota berasal dari gelombang ketidakpuasan etnis.

– Gerakan Boxer (1900-1901), merupakan pemberontakan terhadap kekuasaan asing di sektor perdagangan, politik, agama, dan teknologi. Boxer mengawali aksinya sebagai gerakan antiasing, antiimperialis, dan merupakan pergerakan berdasarkan petani di Tiongkok utara. Mereka menyerang orang asing yang membangun jalur kereta api dan melanggar Feng Shui, dan juga orang Kristen yang diakui bertanggung jawab untuk dominasi asing di Tiongkok.

Proses Terjadinya Revolusi Tiongkok

Proses Revolusi Tiongkok berjalan terhadap 11 Oktober 1911 dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen dan berhasil meruntuhkan Dinasti Qing. Revolusi ini berjalan gara-gara rakyat kecewa bersama dengan kepemimpinan Dinasti Qing, layaknya kekalahan perang atas bangsa Barat, ketidakcakapan kaisar-kaisar di dalam memimpin, serta penderitaan rakyat yang makin lama berat sebabkan revolusi tak terhindarkan lagi.

Pada 1 Januari 1912, Dr. Sun Yat Sen diangkat sebagai presiden dan Republik Tiongkok diakui terasa berdiri terhadap tanggal tersebut. Dr. Sun Yat Sen mengundurkan diri dan mendirikan partai Kuo Min Tang lantas digantikan oleh Yuan Shih Kai terhadap 12 Februari 1912. Masa pemerintahan Yuan Shih Kai tak berjalan lama gara-gara th. 1916 ia meninggal dunia.

Pemerintah kembali dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen, namun hanya hingga th. 1924. Kedudukannya digantikan Chiang Kai Shek dan berhasil mempersatukan Tiongkok anggota utara dan selatan. Sayangnya, masa pemerintahannya perlu menghadapi perlawanan berasal dari Mao Zedong yang berpaham komunis. Mao Zedong berhasil memenangkan perlawanan agar terhadap 1949 ia mendirikan Republik Rakyat Tiongkok yang berpaham komunis namun Chiang Kai Shek mendirikan negara Taiwan. Akibatnya, mengetahui komunis makin lama berkembang, terlebih di Asia.

Akibat berasal dari peristiwa-peristiwa di atas, pada akhirnya Tiongkok belajar melalui Revolusi Tiongkok.

Baca Juga :

RUU Kekerasan Seksual, PR Besar Bagi DPR yang Harus Tuntas

RUU Kekerasan Seksual, PR Besar Bagi DPR yang Harus Tuntas – Kekerasan seksual menjadi perhatian utama semua mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda. PPI Belanda di Den Haag menyusun advokasi sebagai bidang eksklusif yang nantinya tidak hanya konsentrasi mengurus masalah legal, tapi pun kesejahteraan mahasiswa Indonesia di Belanda.

Perbincangan tentang advokasi tersebut mengemuka usai diskusi ‘Kekerasan Seksual dalam Mitigasi, Trauma dan Sorotan Media’ di Bookstore Cafe, Den Haag, Sabtu (17/11/2018). Hadir pada diskusi itu perwakilan media Erasmus Rotterdam, Peer Consular Student dari ISS, praktisi gender, serta jurnalis.

Diaz LA Ichsan, mahasiswa S-2 tahun kesatu di Development Study Justice Perspective ISS Den Haag, menuliskan bahwa isu pemerkosaan yang diusung PPI Belanda ini berangkat dari perbandingan isu pemerkosaan sejumlah waktu kemudian di Rotterdam dan maraknya kekerasan seksual di Indonesia.

“Kita tidak membicarakan ini menurut isu, namun lebih ke pemikiran risiko dari isu tersebut. Kita jadikan isu tersebut sebagai momentum, laksana RUU kekerasan seksual yang masih mandeg di DPR. Adanya tidak sedikit isu kekerasan seksual ini mestinya jadi momentum DPR guna menyelesaikannya, tidak boleh sampai menantikan ada korban lagi.

Diaz menyadari, bahwa ternyata tidak sedikit kampus di Belanda yang bahkan tidak memiliki kepandaian untuk menangani masalah kekerasan seksual ini. Salah satu kampus, yaitu ISS, melulu punya public relation (PR) counselor, yang begitu terdapat mahasiswa merasakan masalah kekerasan seksual barulah dapat mendiskusikannya.

“Di Indonesia juga belum terdapat kesadaran itu. Ini yang inginkan kami soroti. Bagi tingkat SMA justeru ada Permendikbud yang dapat menangani urusan ini, namun di level perguruan tinggi justeru tidak ada,” kata Diaz.

Fathimah Sulistyowati, mahasiswi PhD fakultas kedokteran spesialis Endokrinologi di Leiden University mengakui, bahwa sekitar ini isu kekerasan seksual yang dirasakan perempuan ingin menjadikan korban yang ikut disalahkan. Untuk mahasiswi Indonesia di Belanda, terutama andai dikaitkan isu Rotterdam, mesti punya keperdulian tinggi dengan permasalahan itu.

“Tapi, nafas yang mau anda bawa itu ialah kekerasan seksual bukan sesuatu yang jauh ke ranah legal, tersebut jauh banget. Kita mengarahkan supaya mahasiswa dan mahasiswi bisa melakukan sesuatu. Kasus Rotterdam tersebut pelajaran bukan cuma guna anak Indonesia tentunya, namun bahkan masyarakat Belanda sendiri sehingga tidak saja mahasiswa Indonesia yang bergerak, tapi pun masyarakat Rotterdam juga protes, dan buat dukungan guna korban dan polisi supaya mengusut permasalahan itu,” ujar Fathimah.

Dia berujar, semua mahasiswa di PPI Belanda sepakat supaya identitas korban tidak dibuka. Perspektif itulah yang menurut keterangan dari Fathimah akan ditunjukkan ke media, bahwa victim atau korban bukanlah bungkus yang bagus guna pemberitaan.

Terkait upaya itulah, Ketua PPI Belanda, Atika Almira, menuliskan bahwa kesepakatan untuk memblokir identitas korban dan tidak menjadikan korban sebagai “bungkus” perkabaran media sebagai lanjutan guna memperkuat kesebelasan advokasi PPI Belanda.

Mahasiswi tahun kesatu yang tengah menempuh S-2 di Urban Management and Development Erasmus University Rotterdam ini menegaskan bahwa PPI bakal menularkan upaya-upaya tersebut. Dia bercita-cita pergerakan yang dilaksanakan PPI dari lingkungan akademis dapat menjadi satu pencerahan.

“Harus anda tekankan bahwa perbuatan kita bakal mempengaruhi situasi korban, anda tak dapat membedah permasalahan dari subyektifitas korban. Nah, berangkat dari sejumlah kasus di Indonesia seminggu lagi pun akan terdapat acara berhubungan kekerasan terhadap perempuan, dan terdapat hari HAM Sedunia sampai-sampai kami bakal mambuat buat diskusi lagi. Isu-isu kekerasaan terhadap wanita masih paling tabu di kalangan orang Indonesia sampai-sampai harus jadi fokus kami pun di sini,” tambah Atika.

Terkait bidang advokasi, lanjut Atika, destinasi awalnya ialah sebagai wahana untuk semua mahasiswa atau mahasiswi untuk dapat melapor. Dari situ upaya selanjutnya ialah memberikan keperdulian terhadap korban supaya korbant tidak merasa sendiri.

“Ketakutan soal permasalahan Rotterdam tersebut ada, namun sebegai obrolan salah satu kaum wanita saja. Sekarang mahasiswi dan mahasiswa Indonesia telah saling mengingatkan guna tidak kembali malam-malam sendirian, dan masuk lokasi tinggal pintu mesti tertutup secara benar. Bukan fobia sih, namun lebih waspada. Kita tidak perlu fobia kuliah di Belanda melulu lantaran permasalahan itu,” kata Atika.

“Lebih dari itu, kami hendak membentuk awareness soal social movement yang baru bahwa permasalahan kekerasan seksual dapat diselesaikan bersama-sama. Kita inginkan dorong DPR supaya menyelesaikan ulasan penghapusan RUU kekerasan seksual dan aturan-aturan turunannya. Itu PR besar DPR,”

Selengkapnya: bahasainggris.co.id

Wapres Sebut Kegagalan Tes CPNS Terkait Gap Besar Pada Pendidikan

Wapres Sebut Kegagalan Tes CPNS Terkait Gap Besar Pada Pendidikan – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyatakan tidak sedikit peserta yang tidak berhasil tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun ini lantaran terdapat kesenjangan edukasi di Indonesia.

Sebanyak 1,8 juta orang yang mengekor Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) melulu sekitar delapan persen atau 100 ribu orang yang lolos.

Hal ini dikatakan JK saat menyerahkan sambutan dalam acara Tempo Economic Briefing di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (14/11).

“Saya baru menerima laporan dari Menpan RB hasil ujian masuk PNS. Terjadi perbedaan antara yang terbaik dan terbelakang, dengan kata lain pendidikan kita merasakan gap yang besar antara Jawa dan non-Jawa,” ujar JK.

Meski tak melafalkan secara mendetail data peserta CPNS yang lolos dari Jawa atau luar Jawa, JK menyaksikan kecenderungan lebih tidak sedikit peserta dari luar Jawa yang tak lolos CPNS.

Berkaca dari seleksi CPNS 2017, peserta dari luar Jawa memang tidak sedikit yang tak lolos tes. Kemenpan RB saat tersebut menyatakan peserta yang lolos seleksi administrasi di Jawa rata-rata lebih dari 20 persen. Sementara luar Jawa tak hingga lima persen.

“Jadi anda harus berjuang tingkatkan itu. Bukan melulu lewat teknologi, tapi pun mendidik orang untuk dapat ikuti ini,” katanya.

Kemenpan RB sebelumnya menyinggung tingkat kelulusan pada etape SKD di CPNS 2018 melulu di angka 10 persen ketika data yang masuk sudah menjangkau 60 persen.

Rendahnya tingkat kelulusan ini masih digodok oleh panitia seleksi nasional yang bakal dilanjutkan dengan perumusan Peraturan Menpan RB.

Tak menutup bisa jadi standar kelulusan tes CPNS tersebut akan diturunkan. Saat ini nilai ambang batas berada pada angka 298.

Tes CPNS di kementerian dan lembaga pusat, peserta yang lulus menjangkau 21,28 persen. Lalu guna tingkat pemerintah daerah, di Indonesia Barat 3,81 persen, Indonesia Tengah 1,33 persen, dan Indonesia Timur 0,17 persen.

Selengkapnya: sekolahan.co.id

Tipe Guru dalam Mendisiplinkan Siswa

Tipe Guru dalam Mendisiplinkan Siswa

Tipe Guru dalam Mendisiplinkan Siswa
Tipe Guru dalam Mendisiplinkan Siswa

 

Disiplin kelas, tata tertib kelas,  pengendalian kelas, man

ajemen kelas atau apapun namanya, merupakan hal yang amat krusial bagi seorang guru. Apabila seorang guru tidak mampu memelihara disiplin dalam kelas maka kemungkinan proses pembelajaran akan mengalami kegagalan. Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar yang kondusif.

Sebagai agen sosialisasi (socialization agent), guru hendaknya membelajarkan siswa  tentang berbagai perilaku yang sesuai dengan tuntutan situasi. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi  dengan siswa, guru menyampaikan berbagai pesan kepada siswa agar dapat berperilaku sesuai dengan situasi yang diharapkan di kelas.
Terdapat 4 (empat)  hal penting untuk mencapai kesuksesan di kelas:
  1. Guru perlu merencanakan secara matang pendekatan individual dalam mendisiplinkan siswa.
  2. Guru harus memahami secara baik berbagai teori disiplin, beserta asumsi yang mendasarinya.
  3. Guru memahami nilai-nilai dan filsafat pendidikan yang diyakininya.
  4. Guru  harus mampu menentukan pendekatan disiplin yang sejalan dengan keyakinan siswanya, sehingga tidak menimbulkan kebingungan siswa dan konflik personal.
Sesungguhnya, banyak teori  tentang disiplin yang bisa kita terapkan, salah-satunya adalah  teori Inner Discipline yang digagas oleh Barbara Coloroso. Dalam upaya mendisiplinkan siswa di kelas (sekolah), Coloroso mengemukakan 3 (tiga) kategori guru (dalam tulisan ini saya menggunakan istilah tipe guru), yaitu: (1) Brickwall  Teacher (Guru Tembok Bata); (2) Jellyfish Teacher  (Guru Ubur-ubur); dan (3) Backbone Teacher (Guru Tulang Punggung). Berikut ini disampaikan penjelasan singkat dari ketiga tipe tersebut:

  1. Guru Tembok Bata (Brickwall  Teacher). Guru tipe ini berusaha membatasi dan mengendalikan siswa secara ketat,  menganggap siswa sebagai bawahan dan kerap menghina siswa. Disini tidak ada wilayah abu-abu, yang ada hanyalah dikhotomi antara hitam dan putih. Guru tipe ini mengoperasikan tugas dalam suasana ketakutan, melalui aturan tetap dan kaku, menekankan ketepatan waktu, kebersihan dan ketertiban.  Dalam proses pembelajaran sering mematahkan kehendak siswa, menekankan ritual dan hafalan, lebih mengandalkan pada kompetisi dan mengajarkan tentang  apa yang harus dipikirkan daripada bagaimana berpikir (what to think rather than how to think). Guru Tembok Bata (Brickwall  Teacher) kurang memberi kepercayaan kepada siswa untuk mengembangkan Inner Discipline-nya.
  2. Guru Ubur-ubur (Jellyfish Teacher). Berbanding terbalik dengan Guru Tembok Bata, guru tipe yang kedua ini sama sekali tidak memiliki ketegasan dan cenderung lemah dalam mengelola kelas, sehingga memungkinkan terjadinya kekacauan dan anarki di kelas.  Tidak memiliki aturan dan struktur yang jelas, serta seringkali menetapkan  aturan dan hukuman yang tidak konsisten. Guru tipe ini cenderung menggunakan ancaman dan emosional serta meremehkan proses pembelajaran. Sama halnya dengan tipe guru Tembok Bata (Brickwall  Teacher),  guru tipe yang kedua ini  juga tidak memperhatikan kebutuhan siswa akan pengembangan kemampuan Inner Discipline-nya.
  3. Guru Tulang Punggung (Backbone Teacher). Guru tipe  ketiga  ini adalah guru yang senantiasa berusaha memberikan dukungan dan menyediakan struktur yang diperlukan siswa untuk menyadari keunikan dan mengenal diri yang sejatinya. Proses pembelajaran berlangsung secara demokratis dengan aturan yang sederhana tetapi jelas. Guru tipe yang ketiga ini selalu berusaha mendukung siswa untuk melakukan kegiatan yang kreatif, konstruktif dan bertanggung jawab, memotivasi siswa agar  dapat melakukan semua hal yang mereka miliki bisa. Guru Tulang Punggung (Backbone Teacher) berupaya membelajarkan siswa bagaimana berpikir dan memperoleh kepercayaan terhadap diri sendiri maupun  orang lain. Pada Guru Tulang Punggung (Backbone Teacher) inilah memungkinkan terjadinya pengembangan Inner Discipline siswa.

 

Coloroso berkeyakinan bahwa dalam berhubungan dengan siswa, seorang guru seyogyanya dapat membantu siswa untuk mengembangkan Inner Discipline-nya. Dalam arti, membantu siswa agar mampu menunjukkan perilaku yang kreatif, konstruktif, kooperatif, dan bertanggung jawab, tanpa harus diatur dan dikendalikan orang lain. Siswa dibelajarkan untuk menerima masalah yang dimiikinya, mengambil tanggung jawab penuh atas masalah perilakunya  dan dapat mengambil  tindakan yang tepat untuk mengatasinya, bukan atas dasar rasa takut tetapi berdasarkan pemahaman dan kesadaran bahwa memang itulah hal yang benar untuk dilakukan (it is the right thing to do).
Teori Inner Discipline meyakini bahwa setiap siswa pada dasarnya terhormat, oleh karena itu sudah sepatutnya mereka menerima perlakuan secara terhormat dan setiap saat dapat diperlakukan dengan tanpa harus melukai kehormatan dirinya. Langkah-langkah penerapan Inner Discipline dikembangkan dalam 6 (enam) tahapan, yaitu:  (1) identifikasi dan mendefinisikan masalah; (2) menentukan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya; (3) mengevaluasi pilihan-pilihan yang tersedia; (4) memilih salah satu pilihan yang ada; (5)  membuat sebuah rencana dan melaksanakannya; (6) melakukan retrospeksi, dengan mengevaluasi ulang masalah dan solusi yang dijalankan.
Menurut Coloso, keenam langkah ini telah mencakup 3 R  tentang Disiplin, yaitu: (1) Restitusi: memperbaiki kerusakan perilaku dan kepribadian  yang dialami siswa ; (2) Resolusi: menentukan cara untuk tidak membiarkan perilaku itu terjadi lagi atau dengan kata lain siswa dapat menerima apa yang yang telah dilakukannya dan memulai hal baru;  dan (3) Rekonsiliasi: proses penyembuhan, siswa dibelajarkan untuk menghormati rencana restitusi yang telah disepakati,  dan berkomitmen untuk berbuat sesuai dengan resolusi.
Menjadi Guru Tulang Punggung (Backbone Teacher) yang mampu mengimplementasikan Inner Discipline sebagaimana disarankan oleh Coloso tentu bukan hal yang mudah, apalagi bagi guru-guru yang sudah kadung menjadi menjadi Guru Tembok Bata atau Guru Ubur-ubur,  tetapi barangkali itulah pilihan yang paling memungkinkan dalam konteks pendidikan saat ini, yang mengedepankan proses pemanusiaan manusia.
Bagaimana pendapat Anda?

Smart Library, Tingkatkan Mutu Pendidikan Melalui Minat Baca

Smart Library, Tingkatkan Mutu Pendidikan Melalui Minat Baca

Salah satu indikator capaian mutu edukasi dapat disaksikan dari keterampilan akademik siswa. Ukuran akademik ini dapat disaksikan dalam penguasaan mereka di bidang matematika, sains, dan keterampilan membaca.

Seiring pertumbuhan teknologi dan karakter menarik generasi milenial, diperlukan terobosan untuk unik minat generasi muda dalam urusan belajar dan pun membaca.

Smart Library bisa menjadi di antara inovasi guna menumbuhkan minat tersebut. Smart Library merupakan software perpustakaan digital yang mempermudah masyarakat, terutama komunitas di sekolah dalam mengakses informasi.

Harapannya, melalui software yang diangkat Gramedia Digital Nusantara ini bisa mendorong minat baca, menambah kompetensi dan bobot dalam bidang pendidikan.

Nilai positif

Smart Library Karawang menjadi di antara kota yang mengaplikasikan Smart Library untuk menambah mutu pendidikan. Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana akan merealisasikan Smart Library guna 157 SMP di kabupaten Karawang.

Hal ini dikatakan Bupati dalam acara Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMP Kabupaten Karawang, Senin (24/9/2018). “Saya sepakat sebab di era digitalisasi ini suka tidak suka mesti memakai teknologi informasi,” kata Bupati.

Ia menuliskan Smart Library yang diinisiasi pihak Gramedia mempunyai nilai positif. Cellica Nurrachadiana bercita-cita dengan kehadiran Smart Library dapat menambah mutu edukasi di kabupaten Karawang, terutama di tingkat SMP.

Tidak melulu itu, ia juga bercita-cita pengetahuan anak didik bisa lebih berkembang dan lulus sekolah dengan nilai lebih baik.

Akses konten digital berkualitas

Berdasarkan pelajaran.id keterangan dari  Bupati Karawang ini bukan hal susah untuk merealisasikan Smart Library ke sekolah-sekolah di Karawang menilik di masing-masing sekolah sudah mempunyai unit komputer.

“Saya rasa ini peluang baik. Tinggal anda bicarakan bagaimana teknisnya. Apakah dana PMMS dapat digunakan atau tidak, dan bagaimana respon teman-teman kepala sekolah. Atau 500 akun dulu, kan dapat dishare untuk yang memerlukan,” katanya.

Pihak Gramedia, diwakili Irawan Sukma, Vice General Manager, menuliskan bahwa dalam rangka penambahan minat baca dan literasi digital maka PT Gramedia berkolaborasi dengan Gramedia Digital Nusantara mengembangkan sebuah software yang dapat dipakai secara cuma-cuma oleh masyarakat Indonesia.

Aplikasi Smart Library akan mempermudah masyarakat mengakses konten digital berbobot | berbobot | berkualitas dan bermutu. Konten digital ini dapat berupa eBook, eNewspaper dan eMagazine.

Meningkatkan minat baca dan mutu edukasi

“Sebuah kebesaran bisa berkolaborasi dengan Pemkab Karawang guna mewujudkan cita – cita luhur bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Semoga inisiatif ini dapat disambut baik oleh masyarakat Karawang dan pun Kabupaten lainnya di Indonesia,” katanya.

Dalam peluang yang sama Sarjito, VP Business and Relation Gramedia Digital Nusantara mengucapkan saat ini Gramedia Digital telah berkolaborasi dengan lebih dari 700 penerbit di Indonesia dan luar negeri.

Konten-konten tersebut sekarang dapat dinikmati dengan gampang mealui smartphone. Diharapkan dengan konten yang semakin kaya dan berkualitas akan menambah minat baca dan membetulkan mutu edukasi Indonesia.

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Cara Belajar Siswa Aktif
Cara Belajar Siswa Aktif

Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa.

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.


Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:

  1. Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
  2. Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
  3. Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap

Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.


Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.

Bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :

  • Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
  • Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
  • Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
  • Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
  • Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.

b. Dimensi Guru

  • Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
  • Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
  • Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
  • Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
  • Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.

c. Dimensi Program

  • Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
  • Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
  • Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

d. Dimensi situasi belajar-mengajar

  • Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
  • Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH
PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH
Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk madrasah. Madrasah sudah mempunyai prinsip bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman, jadi kalau ada madrasah kurang bersih maka kita patut bertanya imannya itu seperti apa? Komunitas madrasah pada umumnya melek norma agama yang salah satunya adalah menekankan pentingnya gaya hidup sehat, bersih, indah dan teratur. Oleh karena itu madrasah perlu menemukan model pembentukan lingkungan sehat, yang didukung dengan pengetahuan teknis, dan akses informasi tentang kesehatan yang memadai.


Pengertian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ”Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri, M. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head, heart, hand dan health).
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas.

Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah

Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat, meningkatkan keteramplan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan.

Sasaran Usaha Kesehatan Sekolah

Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer, guru pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA, termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.

Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah, karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan, bukan hanya pendidikan.
Ada tiga kualitas sumber daya manusia, yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan, kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya, dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008, dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Semakin maju perekonomiannya, maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah, maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi.

 


Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dibangun bersama dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah, maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, yang berlangsung selagi ini, budaya literasi sudah jadi ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia, seiring bersama dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, lebih-lebih di bidang digital.

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kegiatan masyarakat, lebih-lebih kaum muda, memakai internet lebih banyak sebagai layanan hiburan. Padahal, pendidikan berbasis budaya literasi, termasuk literasi digital, merupakan keliru satu aspek penting yang mesti diterapkan di sekolah fungsi memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Walaupun demikian, penguasaan literasi yang tinggi pastinya tidak boleh melupakan aspek sosiokultural, gara-gara literasi merupakan anggota dari kultur atau budaya manusia.

Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia, ditengarai belum mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi, atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kapabilitas analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif. Hal ini tergambar bahwa di sekolah, terkandung dikotomi pada studi membaca (learning to read) dan membaca untuk studi (reading to learn). Kegiatan membaca belum beroleh perhatian yang mendalam, lebih-lebih di mata pelajaran non-bahasa. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif, adaptif dan produktif, guru kurang memakai teks materi pelajaran untuk mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi tersebut.

Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kami gara-gara pengetahuan diperoleh lewat membaca. Oleh gara-gara itu, keterampilan ini mesti dikuasai peserta didik bersama dengan baik sejak dini.

Rendahnya keterampilan berikut perlihatkan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilakukan di sekolah sepanjang ini termasuk perlihatkan bahwa sekolah belum berfaedah sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan seluruh warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai anggota dari ekosistem pendidikan.

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kesibukan di dalam gerakan berikut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum saat selagi studi dimulai”. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik dan juga menambah keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, bersifat kearifan lokal, nasional, dan international yang disampaikan cocok langkah perkembangan peserta didik. ruangguru.co.id

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, menjadi dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat termasuk menjadi komponen penting dalam GLS.

Desain Induk ini disusun fungsi memberi petunjuk strategis bagi kesibukan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Pelaksanaan GLS dapat melibatkan unit kerja perihal di Kemendikbud dan termasuk pihak-pihak lain yang pikirkan terhadap pentingnya literasi. Kerja mirip seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan sangat dibutuhkan untuk laksanakan gerakan bersama dengan yang terintegrasi dan efektif.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Implementasi Program Literasi
Implementasi program literasi digital di Sekolah dikehendaki mampu mendorong gerakan membaca pada peserta didik dan warga Sekolah lainnya dalam Mendukung Keterampilan Abad 21, sebagaimana dijelaskan pemakaian komputer mampu membantu 4C (Zoraini:2014), The Four Cs of 21st Century Skills, yaitu:

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Critical Thinker. Untuk menjadi seorang critical thinker, peserta didik didorong untuk berpikir parah dan mampu memecahkan kasus bersama langkah diberi persoalan dalam pembelajaran, dipancing bertanya, dan berusaha melacak pemecahan kasus bersama melacak bermacam Info melalui internet.
Communicator. Dalam mempersiapkan tenaga kerja yang mampu menjadi komunikator, maka peserta didik dilatih untuk menyadari dan mengkomunikasikan ide. Setelah menyadari apa yang dipelajari, peserta didik didorong untuk membagikan ide-ide yang udah menjadi gagasangagasan sebagaimana apa yang udah diperolehnya melalui kegiatan berliterasi.
Collaborator. Kemampuan bekerja serupa amat dibutuhkan dalam laksanakan pekerjaan bersama orang lain. Oleh karena itu, bersama literasi digital peserta didik dilatih untuk bekerja serupa bersama orang lain, kelompok lain, bidang lain, bersama langkah sharing Info dan pengalaman melalui media komputer.
Creator. Lulusan sekolah tidak hanya disiapkan menjadi tenaga kerja resmi yang akan bekerja kepada orang lain, akan namun terhitung disiapkan menjadi wirausahawan. Oleh karenanya, kekuatan menjadi creator amat dibutuhkan untuk membuahkan pekerjaan bersama mutu tinggi. Pekerjaan selanjutnya mampu berupa barang, jasa, kreasi, yang berdaya kegunaan tinggi, praktis, sederhana dan mudah digunakan, dll.
Agar Gerakan membaca pada bagian pembiasaan di Sekolah mampu terjadi bersama baik dan lancar, bebarapa rancangan basic berkenaan membaca kudu dimengerti terlebih dahulu oleh para guru dan manajemen Sekolah.

Konsep Gerakan Membaca Mandiri
Dalam pembelajaran bahasa, kegiatan membaca independen dikenal bersama banyak istilah, andaikan Sustained Silent Reading (SSR), Drop

Everything plus Read (DEAR), dan Free Voluntary Reading.

Adapun target kegiatan gerakan membaca independen adalah:

1) tingkatkan kekuatan pemahaman membaca;
2) tingkatkan rasa cinta baca;
3) tingkatkan waktu membaca untuk kesenangan di luar jam pelajaran sekolah;
4) tingkatkan penilaian diri sendiri sebagai pembaca yang baik; dan
5) menumbuhkan pemakaian bermacam sumber bacaan.

Membaca independen bukanlah program pembelajaran membaca yang menjadi anggota berasal dari kurikulum pembelajaran bahasa. Meskipun begitu, penyediaan buku bacaan mampu didesain untuk membantu tema-tema yang dibahas dalam pembelajaran formal. Dengan demikian, membaca independen mampu berfaedah sebagai sarana memberikan ilmu basic tambahan kepada peserta didik.

Tujuan membaca independen adalah untuk mengembangkan rasa cinta membaca dan merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah.

Program ini dinilai efisien untuk pembaca awal, bukan bagi yang udah terbiasa membaca. Berdasarkan frekuensi pelaksanaan, membaca dalam waktu singkat namun sering (15 menit/hari) akan lebih efisien daripada waktu yang panjang namun bersama frekuensi yang lebih jarang (1 jam/1 minggu).

Dalam membaca mandiri, tiap peserta didik mampu membaca buku apa pun sesuai minat mereka (buku yang baik yang berterima secara etika dan moral). Peserta didik yang mengikuti program membaca bebas dikehendaki akan konsisten membaca waktu program udah berakhir. Membaca independen udah terbukti berhasil tingkatkan kekuatan membaca dan keterikatan pada buku di banyak negara.

Kaidah Gerakan Membaca Mandiri
Pelaksanakan membaca independen sebaiknya disesuaikan bersama situasi dan situasi di sekolah, terhitung budaya yang melingkupinya. Ada delapan segi penting yang kudu diperhatikan supaya membaca independen berhasil. Janice Pilgreen (2000) memberikan anjuran untuk keberhasilan membaca mandiri. Berdasarkan pengalamannya laksanakan membaca independen atau SSR selama bertahun-tahun dan hasil berasal dari bermacam penelitian, Pilgreen merumuskan 8 segi yang kudu ada untuk menanggung keberhasilan program, yaitu sebagai berikut.

1) Akses pada buku

Akses pada buku dimaknai penyediaan bermacam model buku komersial, majalah, komik, koran, dan materi bacaan lain di area kelas. Untuk itu, dibutuhkan terdapatnya sudut baca di tiap tiap kelas yang mampu dipergunakan untuk memajang dan menaruh materi bacaan dimaksud.

2) Daya Tarik buku

Buku yang ada kudu menarik, terdiri berasal dari bermacam model tema, topik, dan genre, sesuai bersama minat peserta didik. Selain itu, tingkat keterbacaan terhitung kudu disesuaikan bersama kekuatan dan umur peserta didik. Untuk itu, peserta didik kudu dilibatkan dalam penentuan genre buku yang di sediakan di area baca. Dalam pelaksanaan kegiatan membaca, peserta didik bebas pilih sendiri buku yang disukai.

3) Lingkungan yang kondusif

Kegiatan membaca dalam hati membutuhkan lingkungan kelas yang menyenangkan, santai, tidak kaku, dan tenang. Lingkungan yang kondusif

bisa dibangun bersama menempatkan poster-poster berkenaan pentingnya membaca, pengaturan daerah duduk dan/atau sudut baca.

4) Dorongan untuk membaca

Peserta didik akan lebih bersemangat untuk membaca andaikan guru dan staf di sekolah terhitung menjadi semisal yang baik. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif guru sebagai model. Guru kudu turut membaca pada waktu kegiatan membaca independen berlangsung. Bentuk dorongan lain adalah kegunaan pustakawan atau staf pendukung dalam memberikan anjuran kepada peserta didik dalam perihal penentuan buku bacaan yang sesuai bersama minat.

5) Waktu khusus untuk membaca

Perlu ada waktu khusus yang ditetapkan sebagai waktu membaca, andaikan 15 menit tiap tiap hari, sesuai bersama Permendikbud Nomor 23 tahun 2015. Kegiatan membaca dalam waktu, namun sering dan berkala terbukti lebih efisien daripada satu waktu yang panjang namun jarang (misalnya 1 jam/ minggu pada hari tertentu). Kunci keberhasilan program membaca independen ini bukan pada jumlah jam dan menit membaca, namun keajegan dan frekuensi kegiatan. Hal ini penting untuk membangun kebiasaan membaca.

6) Tidak ada tagihan tugas

Kegiatan membaca dalam hati diarahkan untuk membaca menyenangkan. Bentuk tugas layaknya isikan lembar catatan buku yang dibaca dan tanggapan personal berkenaan buku yang dibaca terhitung dibikin sebagai pilihan (tidak diwajibkan). Pemberian tugas layaknya mengakibatkan ringkasan cerita akan menghalau cii-ciri kegiatan membaca menyenangkan. Pertanyaan yang sering nampak berasal dari guru-guru di sekolah-sekolah yang udah mempraktikkan membaca independen di Indonesia adalah: “bagaimana mengukur peningkatan kekuatan membaca peserta didik andaikan tidak ada tugas atau tagihannya?” Perlu dimengerti bahwa independen tidak sama bersama program literasi lain layaknya yang disebutkan di atas. Membaca mandiri, bukanlah kegiatan kelas untuk memberikan asesmen pada peserta didik.

Tujuannya murni untuk memberikan peluang pada peserta didik nikmati waktu membaca buku apa pun yang mereka sukai, bukan untuk dinilai oleh guru. Itulah sebabnya bentuk tagihan layaknya mengakibatkan ringkasan atau reviu buku, kuis, dan latihan soal pemahaman wacana dihindari demi ‘kenikmatan’ membaca. Yang lebih penting lagi, guru terhitung turut membaca pada waktu yang sama. Sehingga, perihal ini direkomendasi dilakukan pada Tahap Pembiasaan.

Meskipun demikian, tugas-tugas yang mengenai bersama kekuatan membaca kudu menjadi anggota berasal dari kurikulum di pembelajaran bhs membutuhkan penanganan tersendiri dalam kegiatan akademik. Hal ini akan dilakukan pada bagian pembelajaran.

7) Kegiatan tindak lanjut

Meskipun tidak boleh ada tugas, kegiatan tindak lanjut direkomendasi untuk dilakukan di kelas secara berkala, andaikan seminggu atau dua minggu sekali. Bentuk kegiatan tindak lanjut mampu berupa sharing cerita berkenaan buku yang udah dibaca dan diskusi singkat bersama rekan berkenaan buku masingmasing.

8) Pelatihan staf

Kegiatan membaca dalam hati memang sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya. Meskipun begitu, guru dan staf sekolah kudu mempunyai pemahaman yang cocok berkenaan target dan metodologi kegiatan ini. Staf sekolah kudu menyadari kajian-kajian ilmiah yang pernah dilakukan untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan ini. Dengan begitu, kegiatan membaca dalam hati mampu terjadi bersama baik dan dapat dukungan oleh partisipasi aktif

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES
FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

Aristoteles (384-322 SM) adalah murid terkemuka Plato (427-348 SM), seorang tokoh pemikir idealis. Meski demikian, ia tidak sependapat dengan gurunya yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea Yang Baik dan bahwa hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea Yang Baik tersebut. Menurut Aristoteles, kehidupan yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Dari realitas inderawi kongkret inilah akal budi manusia mengabstraksikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba empiris yang digunakan Aristoteles ini, kita akan mencoba membahas konsep-konsepnya tentang moral.


Teleologis

Pembahasan etika biasanya dibedakan antara etika deontologis dan teleologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah. Misalnya, bahwa dusta adalah tidak benar secara etis, entah baik atau buruk akibatnya.
Sebaliknya, teleologis menyatakan bahwa tindakan bersifat netral; baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik. Etika Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengkaitkan tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.

Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak Universalistik, tetapi bisa dikata egoistik, karena lebih menekankan dampak bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya. Idomonia Sebagai Ukuran Baik Buruk (pain) dan tidak adanya kesenangan. Sementara itu, menurut Agustinus, kebahagiaan adalah menyatunya rasa cinta kasih manusia dalam Tuhan. Dalam pandangan Agustinus, tujuan hidup manusia adalah persatuan diri dengan Tuhan. Sedang dalam pandangan Stoa, kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menahan dorongan nafsu (self sufficiency) dengan cara menyatukan diri dan tunduk pada hukum alam. Jelasnya, kebahagian Stoa terletak pada kemampuan seseorang untuk meminjam istilah Jawa “menerima ing pandum”. Menerima apa yang menjadi bagiannya.


Bagaimana konsep kebahagiaan Aristoteles? Menurut Aristoteles, kebahagiaan manusia terdapat pada aktivitas yang khusus dan mengarah pada kesempurnaanya. Apa aktivitas khusus pada manusia yang mengarah pada kesempurnaanya? Menurut Aristoteles, potensi khas manusia yang membedakan dari binatang atau makhluk lain adalah akal budi dan spiritualitasnya. Tidak ada satupun mahluk hidup selain manusia yang mempunyai potensi ini. Karena itu, aktivitas dan aktualitas manusia yang bisa mengarahkan pada kebahagiaan adalah semua bentuk aktivitas yang melibatkan bagian jiwa yang berakal budi. Namun, karena manusia hidup dalam alam dunia dan masyarakat, maka aktualisasi dari akal budi tersebut bukan semata-mata diarahkan pada Yang Maha Budi dan Idea, tetapi juga diarahkan pada kehidupan konkrit melalui partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Tegasnya, kebahagiaan tercapai dengan cara memaksimalkan potensi diri untuk memandang realitas ruhani di satu sisi, dan aktif dalam berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat disisi yang lain.


Ini sama yang dirumuskan Erich Fromm, bahwa kebahagiaan tidak terletak atas apa yang kita miliki (having) tapi lebih pada kemampuan aktualisasi diri (being). Yaitu, kemampuan menyatakan dan menjadikan potensi-potensi yang dimiliki atau “mimpi-mimpi” menjadi kenyataan. Dengan demikian, jika kebahagiaan Epicuras dan John S. Mill terletak pada kemampuan lari dari rasa sakit, kebahagiaan Agustinus terjadi dalam Tuhan dan Stoa dalam alam, kebahagiaan Aristoteles terletak pada diri manusia sendiri, pada aktivitasnya untuk mengembangkan potensi-potensi hakikinya untuk menjadi sempurna.

Namun demikian, aktivitas menuju kebahagiaan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Aristoteles, aktivitas yang menyebabkan kebahagiaan harus dijalankan menurut asas “keutamaan”. Hanya aktivitas yang disertai keutamaan yang dapat membuat manusia bahagia. Di samping itu, aktivitas tersebut mesti dilakukan secara stabil, dalam jangka waktu yang panjang, bukan hanya sporadis. Jelasnya, dilakukan secara istiqamah.


Aktualisasi Diri Sebagai Kebahagiaan

Bagaimana aktualisasi diri bisa dinilai sebagai kebahagiaan? Dalam pandangan Aristoteles, aktualisasi diri yang dinilai sebagai kebahagiaan adalah aktualisasi yang mengakibatkan kesempurnaan pada yang bersangkutan. Kesempurnaan mata adalah melihat, kesempurnaan makhluk hidup adalah mengembangkan psikhisnya, dan kesempurnaan manusia adalah aktualisasi dari kemungkinan tertinggi yang hanya terdapat pada manusia; akal budi dan ruhaninya. Dengan demikian, kebahagiaan manusia sama dengan menjalankan aktivitas yang spesifik baginya, yaitu mengembangkan pemikiran dan spiritualitas. Bagi manusia, kebahagiaan adalah memandang kebanaran.


Akan tetapi, kebenaran yang harus dipandang tersebut tidak hanya yang ada pada alam Idea sebagaimana dikatakan Plato. Benar bahwa manusia mengandung dimensi-dimensi ruhani dari alam transendent, tetapi ia juga mengandung wadag yang inderawi; begitu pula, ia bukan pula wadag tetapi juga mengandung nilai ruhani. Manusia adalah paduan dimensi ruhani dan duniawi. Karena itu, kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai dengan cara bertindak (aktif) mengaktualisasikan potensi atau nilai-nilai luhur manusia yang berasal alam transendent dalam kehidupan nyata, riil.
Mengapa harus aktif? Menurut Aristoteles, manusia menjadi bahagia bukan dengan cara pasif menikmati sesuatu, atau bahwa segala yang diinginkan tersedia, melainkan dengan cara aktif. Dengan bertindak ia menjadi nyata. Hanya dengan perbuatan manusia menyatakan diri, ia menjadi riel. Sesuatu yang hidup bermutu tidak tercapai melalui nikmat pasif, melainkan melalui hidup yang aktif. Manusia bahagia dalam merealisasikan atau mengembangkan potensi-potensi dirinya. Selain itu, aktualisasi aktif dalam merealisasikan dan mengembangkan potensi khas manusia tersebut harus dilakukan menurut aturan keutamaan.


Hanya aktivitas yang disertai keutamaan (aretê) yang membuat manusia menjadi bahagia. Dan yang penting, tindakan maksimal atas potensi-potensi diri tersebut tidak terjadi secara sporadis atau berkala, tetapi terjadi dalam jangka waktu yang lama. Jelasnya, dilakukan secara istiqamah, langgeng.
Dengan demikian jelas bahwa kebahagiaan yang dalam etika Aristoteles digunakan sebagai tolok ukur baik buruknya sebuah tindakan terletak pada kemampuan yang bersangkutan dalam mengaktualisasikan potensi-potensi khas dirinya. Semakin seseorang mampu mengaktualisasikan potensi khasnya, yang tentu disertai keutamaan, maka semakin dinilai baiklah tindakannya, karena itu berarti semakin mengarah kepada kebahagiaan.


Keutamaan
Aristoteles melukiskan keutamaan moral sebagai suatu sikap watak yang memungkinkan manusia untuk memilih jalan tengah antara dua kutub ekstrem yang berlawanan. Sebagai contoh, dalam belanja, pengeluaran terlalu banyak disebut boros, terlalu hemat disebut kikir. Diantara dua kutub ini, keutamaan adalah mengambil jalan tengah; tidak boros juga tidak kikir yang disebut “murah hati”. Yang perlu dicatat, bagi Aristoteles, keutamaan baru menjelma sebagai keutamaan yang sungguh-sungguh setelah yang bersangkutan mempunyai sikap tetap dalam menempuh jalan tengah tersebut.


Bukan sekedar terjadi dalam beberapa kasus. Juga bahwa jalan tengah tidak dapat ditentukan dengan cara yang sama untuk semua orang. Artinya, apa yang dimaksud jalan tengah ini sangat subjektif, bukan objektif.Jika subjektif, bagaimana keutamaan bisa tentukan? Adakah norma-norma untuk itu? Menurut Aristoteles, rasio menetapkan pertengahan (keutamaan) tersebut dan harus menentukannya sebagaimana orang yang bijakasana dalam bidang praktis menentukan keutamaan. Aristoteles menganggap bahwa keutamaan bukan persoalan theori, tapi praktek. Seorang sarjana yang mengerti theori moral belum tentu bisa berlaku sesuai keutamaan moral, tapi orang yang mempunyai kebijaksanaan praktis (phronesis) mampu menentukan masalah ini, berdasarkan pertimbangan konkrit. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com