Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Cara Belajar Siswa Aktif
Cara Belajar Siswa Aktif

Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa.

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.


Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:

  1. Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan
  2. Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan
  3. Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap

Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.


Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu.

Bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :

  • Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.
  • Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.
  • Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.
  • Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.
  • Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.

b. Dimensi Guru

  • Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.
  • Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.
  • Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.
  • Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.
  • Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.

c. Dimensi Program

  • Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.
  • Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.
  • Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

d. Dimensi situasi belajar-mengajar

  • Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.
  • Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH

PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH
PENINGKATAN IMPLEMENTASI PROGRAM UKS DI MADRASAH
Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas. Salah satu upaya yang strategis untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia adalah dengan pendidikan. Kualitas pendidikan berkaitan erat dengan sumber daya manusia yang berkualitas pula. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah yang memiliki jasmani dan rokhani yang sehat. Upaya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan sehat antara lain dengan melaksanakan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Program UKS dilaksanakan pada semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk madrasah. Madrasah sudah mempunyai prinsip bahwa kebersihan itu adalah bagian dari iman, jadi kalau ada madrasah kurang bersih maka kita patut bertanya imannya itu seperti apa? Komunitas madrasah pada umumnya melek norma agama yang salah satunya adalah menekankan pentingnya gaya hidup sehat, bersih, indah dan teratur. Oleh karena itu madrasah perlu menemukan model pembentukan lingkungan sehat, yang didukung dengan pengetahuan teknis, dan akses informasi tentang kesehatan yang memadai.


Pengertian Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

Hidup sehat seperti yang didefinisikan oleh badan kesehatan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan kesehatan jiwa adalah keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, mental, intelektual, emosional, dan sosial yang optimal dari seseorang. Dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1992 pasal 45 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa ”Kesehatan Sekolah” diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh dan berkembang secara harmonis dan optimal sehingga diharapkan dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Sumantri, M. (2007) peserta didik itu harus sehat dan orang tua memperhatikan lingkungan yang sehat dan makan makanan yang bergizi, sehingga akan tercapai manusia soleh, berilmu dan sehat (SIS). Dalam proses belajar dan pembelajaran materi pembelajaran berorientasi pada head, heart dan hand, yaitu berkaitan dengan pengetahuan, sikap/nilai dan keterampilan. Namun masih diperlukan faktor kesehatan (health) sehingga peserta didik memiliki 4 H (head, heart, hand dan health).
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah usaha untuk membina dan mengembangkan kebiasaan dan perilaku hidup sehat pada peserta didik usia sekolah yang dilakukan secara menyeluruh (komprehensif) dan terpadu (integrative). Untuk optimalisasi program UKS perlu ditingkatkan peran serta peserta didik sebagai subjek dan bukan hanya objek. Dengan UKS ini diharapkan mampu menanamkan sikap dan perilaku hidup sehat pada dirinya sendiri dan mampu menolong orang lain. Dari pengertian ini maka UKS dikenal pula dengan child to child programme. Program dari anak, oleh anak, dan untuk anak untuk menciptakan anak yang berkualitas.

Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah

Secara umum UKS bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik. Selain itu juga menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas. Sedangkan secara khusus tujuan UKS adalah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat, meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan membentuk perilaku masyarakat sekolah yang sehat dan mandiri. Di samping itu juga meningkatkan peran serta peserta didik dalam usaha peningkatan kesehatan di sekolah dan rumah tangga serta lingkungan masyarakat, meningkatkan keteramplan hidup sehat agar mampu melindungi diri dari pengaruh buruk lingkungan.

Sasaran Usaha Kesehatan Sekolah

Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi peserta didik sebagai sasaran primer, guru pamong belajar/tutor orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan serta TP UKS di setiap jenjang sebagai sasaran sekunder. Sedangkan sasaran tertier adalah lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah/TK/RA sampai SLTA/MA, termasuk satuan pendidikan luar sekolah dan perguruan tinggi agama serta pondok pesantren beserta lingkungannya. Sasaran lainnya adalah sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan. Sasaran tertier lainnya adalah lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sekitar sekolah.

Untuk belajar dengan efektif peserta didik sebagai sasaran UKS memerlukan kesehatan yang baik. Kesehatan menunjukkan keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Kesehatan bagi peserta didik merupakan sangat menentukan keberhasilan belajarnya di sekolah, karena dengan kesehatan itu peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara terus menerus. Kalau peserta didik tidak sehat bagaimana bisa belajar dengan baik. Oleh karena itu kita mencermati konsep yang dikemukakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahwa salah satu indikator kualitas sumber daya manusia itu adalah kesehatan, bukan hanya pendidikan.
Ada tiga kualitas sumber daya manusia, yaitu pendidikan yang berkaitan dengan berapa lama mengikuti pendidikan, kesehatan yang berkaitan sumber daya manusianya, dan ekonomi yang berkaitan dengan daya beli. Untuk tingkat ekonomi Indonesia masih berada pada urutan atau ranking yang sangat rendah yaitu 108 pada tahun 2008, dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Kemajuan ekonomi suatu bangsa biasanya berkorelasi dengan tingkat kesehatan masyarakatnya. Semakin maju perekonomiannya, maka bangsa itu semakin baik pula tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, jika tingkat ekonomi masih berada di urutan yang rendah, maka tingkat kesehatan masyarakat pada umumnya belum sesuai dengan harapan. Begitu pula dengan sumber daya manusianya yang diharapkan berkualitas masih memerlukan proses dan usaha yang lebih keras lagi.

 


Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dibangun bersama dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah, maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, yang berlangsung selagi ini, budaya literasi sudah jadi ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia, seiring bersama dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, lebih-lebih di bidang digital.

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kegiatan masyarakat, lebih-lebih kaum muda, memakai internet lebih banyak sebagai layanan hiburan. Padahal, pendidikan berbasis budaya literasi, termasuk literasi digital, merupakan keliru satu aspek penting yang mesti diterapkan di sekolah fungsi memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Walaupun demikian, penguasaan literasi yang tinggi pastinya tidak boleh melupakan aspek sosiokultural, gara-gara literasi merupakan anggota dari kultur atau budaya manusia.

Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia, ditengarai belum mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi, atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kapabilitas analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif. Hal ini tergambar bahwa di sekolah, terkandung dikotomi pada studi membaca (learning to read) dan membaca untuk studi (reading to learn). Kegiatan membaca belum beroleh perhatian yang mendalam, lebih-lebih di mata pelajaran non-bahasa. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif, adaptif dan produktif, guru kurang memakai teks materi pelajaran untuk mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi tersebut.

Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kami gara-gara pengetahuan diperoleh lewat membaca. Oleh gara-gara itu, keterampilan ini mesti dikuasai peserta didik bersama dengan baik sejak dini.

Rendahnya keterampilan berikut perlihatkan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilakukan di sekolah sepanjang ini termasuk perlihatkan bahwa sekolah belum berfaedah sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan seluruh warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai anggota dari ekosistem pendidikan.

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kesibukan di dalam gerakan berikut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum saat selagi studi dimulai”. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik dan juga menambah keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, bersifat kearifan lokal, nasional, dan international yang disampaikan cocok langkah perkembangan peserta didik. ruangguru.co.id

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, menjadi dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat termasuk menjadi komponen penting dalam GLS.

Desain Induk ini disusun fungsi memberi petunjuk strategis bagi kesibukan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Pelaksanaan GLS dapat melibatkan unit kerja perihal di Kemendikbud dan termasuk pihak-pihak lain yang pikirkan terhadap pentingnya literasi. Kerja mirip seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan sangat dibutuhkan untuk laksanakan gerakan bersama dengan yang terintegrasi dan efektif.

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Implementasi Program Literasi
Implementasi program literasi digital di Sekolah dikehendaki mampu mendorong gerakan membaca pada peserta didik dan warga Sekolah lainnya dalam Mendukung Keterampilan Abad 21, sebagaimana dijelaskan pemakaian komputer mampu membantu 4C (Zoraini:2014), The Four Cs of 21st Century Skills, yaitu:

Implementasi Gerakan Literasi Sekolah

Critical Thinker. Untuk menjadi seorang critical thinker, peserta didik didorong untuk berpikir parah dan mampu memecahkan kasus bersama langkah diberi persoalan dalam pembelajaran, dipancing bertanya, dan berusaha melacak pemecahan kasus bersama melacak bermacam Info melalui internet.
Communicator. Dalam mempersiapkan tenaga kerja yang mampu menjadi komunikator, maka peserta didik dilatih untuk menyadari dan mengkomunikasikan ide. Setelah menyadari apa yang dipelajari, peserta didik didorong untuk membagikan ide-ide yang udah menjadi gagasangagasan sebagaimana apa yang udah diperolehnya melalui kegiatan berliterasi.
Collaborator. Kemampuan bekerja serupa amat dibutuhkan dalam laksanakan pekerjaan bersama orang lain. Oleh karena itu, bersama literasi digital peserta didik dilatih untuk bekerja serupa bersama orang lain, kelompok lain, bidang lain, bersama langkah sharing Info dan pengalaman melalui media komputer.
Creator. Lulusan sekolah tidak hanya disiapkan menjadi tenaga kerja resmi yang akan bekerja kepada orang lain, akan namun terhitung disiapkan menjadi wirausahawan. Oleh karenanya, kekuatan menjadi creator amat dibutuhkan untuk membuahkan pekerjaan bersama mutu tinggi. Pekerjaan selanjutnya mampu berupa barang, jasa, kreasi, yang berdaya kegunaan tinggi, praktis, sederhana dan mudah digunakan, dll.
Agar Gerakan membaca pada bagian pembiasaan di Sekolah mampu terjadi bersama baik dan lancar, bebarapa rancangan basic berkenaan membaca kudu dimengerti terlebih dahulu oleh para guru dan manajemen Sekolah.

Konsep Gerakan Membaca Mandiri
Dalam pembelajaran bahasa, kegiatan membaca independen dikenal bersama banyak istilah, andaikan Sustained Silent Reading (SSR), Drop

Everything plus Read (DEAR), dan Free Voluntary Reading.

Adapun target kegiatan gerakan membaca independen adalah:

1) tingkatkan kekuatan pemahaman membaca;
2) tingkatkan rasa cinta baca;
3) tingkatkan waktu membaca untuk kesenangan di luar jam pelajaran sekolah;
4) tingkatkan penilaian diri sendiri sebagai pembaca yang baik; dan
5) menumbuhkan pemakaian bermacam sumber bacaan.

Membaca independen bukanlah program pembelajaran membaca yang menjadi anggota berasal dari kurikulum pembelajaran bahasa. Meskipun begitu, penyediaan buku bacaan mampu didesain untuk membantu tema-tema yang dibahas dalam pembelajaran formal. Dengan demikian, membaca independen mampu berfaedah sebagai sarana memberikan ilmu basic tambahan kepada peserta didik.

Tujuan membaca independen adalah untuk mengembangkan rasa cinta membaca dan merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah.

Program ini dinilai efisien untuk pembaca awal, bukan bagi yang udah terbiasa membaca. Berdasarkan frekuensi pelaksanaan, membaca dalam waktu singkat namun sering (15 menit/hari) akan lebih efisien daripada waktu yang panjang namun bersama frekuensi yang lebih jarang (1 jam/1 minggu).

Dalam membaca mandiri, tiap peserta didik mampu membaca buku apa pun sesuai minat mereka (buku yang baik yang berterima secara etika dan moral). Peserta didik yang mengikuti program membaca bebas dikehendaki akan konsisten membaca waktu program udah berakhir. Membaca independen udah terbukti berhasil tingkatkan kekuatan membaca dan keterikatan pada buku di banyak negara.

Kaidah Gerakan Membaca Mandiri
Pelaksanakan membaca independen sebaiknya disesuaikan bersama situasi dan situasi di sekolah, terhitung budaya yang melingkupinya. Ada delapan segi penting yang kudu diperhatikan supaya membaca independen berhasil. Janice Pilgreen (2000) memberikan anjuran untuk keberhasilan membaca mandiri. Berdasarkan pengalamannya laksanakan membaca independen atau SSR selama bertahun-tahun dan hasil berasal dari bermacam penelitian, Pilgreen merumuskan 8 segi yang kudu ada untuk menanggung keberhasilan program, yaitu sebagai berikut.

1) Akses pada buku

Akses pada buku dimaknai penyediaan bermacam model buku komersial, majalah, komik, koran, dan materi bacaan lain di area kelas. Untuk itu, dibutuhkan terdapatnya sudut baca di tiap tiap kelas yang mampu dipergunakan untuk memajang dan menaruh materi bacaan dimaksud.

2) Daya Tarik buku

Buku yang ada kudu menarik, terdiri berasal dari bermacam model tema, topik, dan genre, sesuai bersama minat peserta didik. Selain itu, tingkat keterbacaan terhitung kudu disesuaikan bersama kekuatan dan umur peserta didik. Untuk itu, peserta didik kudu dilibatkan dalam penentuan genre buku yang di sediakan di area baca. Dalam pelaksanaan kegiatan membaca, peserta didik bebas pilih sendiri buku yang disukai.

3) Lingkungan yang kondusif

Kegiatan membaca dalam hati membutuhkan lingkungan kelas yang menyenangkan, santai, tidak kaku, dan tenang. Lingkungan yang kondusif

bisa dibangun bersama menempatkan poster-poster berkenaan pentingnya membaca, pengaturan daerah duduk dan/atau sudut baca.

4) Dorongan untuk membaca

Peserta didik akan lebih bersemangat untuk membaca andaikan guru dan staf di sekolah terhitung menjadi semisal yang baik. Untuk itu, dibutuhkan peran aktif guru sebagai model. Guru kudu turut membaca pada waktu kegiatan membaca independen berlangsung. Bentuk dorongan lain adalah kegunaan pustakawan atau staf pendukung dalam memberikan anjuran kepada peserta didik dalam perihal penentuan buku bacaan yang sesuai bersama minat.

5) Waktu khusus untuk membaca

Perlu ada waktu khusus yang ditetapkan sebagai waktu membaca, andaikan 15 menit tiap tiap hari, sesuai bersama Permendikbud Nomor 23 tahun 2015. Kegiatan membaca dalam waktu, namun sering dan berkala terbukti lebih efisien daripada satu waktu yang panjang namun jarang (misalnya 1 jam/ minggu pada hari tertentu). Kunci keberhasilan program membaca independen ini bukan pada jumlah jam dan menit membaca, namun keajegan dan frekuensi kegiatan. Hal ini penting untuk membangun kebiasaan membaca.

6) Tidak ada tagihan tugas

Kegiatan membaca dalam hati diarahkan untuk membaca menyenangkan. Bentuk tugas layaknya isikan lembar catatan buku yang dibaca dan tanggapan personal berkenaan buku yang dibaca terhitung dibikin sebagai pilihan (tidak diwajibkan). Pemberian tugas layaknya mengakibatkan ringkasan cerita akan menghalau cii-ciri kegiatan membaca menyenangkan. Pertanyaan yang sering nampak berasal dari guru-guru di sekolah-sekolah yang udah mempraktikkan membaca independen di Indonesia adalah: “bagaimana mengukur peningkatan kekuatan membaca peserta didik andaikan tidak ada tugas atau tagihannya?” Perlu dimengerti bahwa independen tidak sama bersama program literasi lain layaknya yang disebutkan di atas. Membaca mandiri, bukanlah kegiatan kelas untuk memberikan asesmen pada peserta didik.

Tujuannya murni untuk memberikan peluang pada peserta didik nikmati waktu membaca buku apa pun yang mereka sukai, bukan untuk dinilai oleh guru. Itulah sebabnya bentuk tagihan layaknya mengakibatkan ringkasan atau reviu buku, kuis, dan latihan soal pemahaman wacana dihindari demi ‘kenikmatan’ membaca. Yang lebih penting lagi, guru terhitung turut membaca pada waktu yang sama. Sehingga, perihal ini direkomendasi dilakukan pada Tahap Pembiasaan.

Meskipun demikian, tugas-tugas yang mengenai bersama kekuatan membaca kudu menjadi anggota berasal dari kurikulum di pembelajaran bhs membutuhkan penanganan tersendiri dalam kegiatan akademik. Hal ini akan dilakukan pada bagian pembelajaran.

7) Kegiatan tindak lanjut

Meskipun tidak boleh ada tugas, kegiatan tindak lanjut direkomendasi untuk dilakukan di kelas secara berkala, andaikan seminggu atau dua minggu sekali. Bentuk kegiatan tindak lanjut mampu berupa sharing cerita berkenaan buku yang udah dibaca dan diskusi singkat bersama rekan berkenaan buku masingmasing.

8) Pelatihan staf

Kegiatan membaca dalam hati memang sederhana dan tidak membutuhkan banyak biaya. Meskipun begitu, guru dan staf sekolah kudu mempunyai pemahaman yang cocok berkenaan target dan metodologi kegiatan ini. Staf sekolah kudu menyadari kajian-kajian ilmiah yang pernah dilakukan untuk memperkuat pelaksanaan kegiatan ini. Dengan begitu, kegiatan membaca dalam hati mampu terjadi bersama baik dan dapat dukungan oleh partisipasi aktif

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES
FILSAFAT MORAL MENURUT ARISTOTELES

Aristoteles (384-322 SM) adalah murid terkemuka Plato (427-348 SM), seorang tokoh pemikir idealis. Meski demikian, ia tidak sependapat dengan gurunya yang menyatakan bahwa manusia telah mengenal idea Yang Baik dan bahwa hidup yang baik bisa tercapai dengan kontemplasi dengan idea Yang Baik tersebut. Menurut Aristoteles, kehidupan yang baik justru harus dicari dan bertolak dari realitas manusia sendiri. Dari realitas inderawi kongkret inilah akal budi manusia mengabstraksikan apa yang disebut kebaikan. Berangkat dari pendekatan yang serba empiris yang digunakan Aristoteles ini, kita akan mencoba membahas konsep-konsepnya tentang moral.


Teleologis

Pembahasan etika biasanya dibedakan antara etika deontologis dan teleologis. Deontologis menyatakan bahwa kualitas etis tindakan tidak berhubungan dengan akibat tindakan, tetapi bertumpu pada tindakan itu sendiri, benar atau salah. Misalnya, bahwa dusta adalah tidak benar secara etis, entah baik atau buruk akibatnya.
Sebaliknya, teleologis menyatakan bahwa tindakan bersifat netral; baru dinilai benar atau salah setelah melihat akibat atau tujuannya. Sebuah tindakan dinilai benar jika akibatnya baik, salah jika akibatnya tidak baik. Etika Aristoteles termasuk teleologis, karena ia mengkaitkan tindakan dengan dampak atau tujuan tertentu; kebahagiaan. Tindakan dinilai baik sejauh mengarah pada kebahagiaan dan salah jika mencegah kebahagiaan.

Kebahagiaan siapa? Kebahagiaan si pelaku. Karena itu, etika Aristoteles tidak Universalistik, tetapi bisa dikata egoistik, karena lebih menekankan dampak bagi pelaku, bukan dampaknya pada orang umumnya. Idomonia Sebagai Ukuran Baik Buruk (pain) dan tidak adanya kesenangan. Sementara itu, menurut Agustinus, kebahagiaan adalah menyatunya rasa cinta kasih manusia dalam Tuhan. Dalam pandangan Agustinus, tujuan hidup manusia adalah persatuan diri dengan Tuhan. Sedang dalam pandangan Stoa, kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menahan dorongan nafsu (self sufficiency) dengan cara menyatukan diri dan tunduk pada hukum alam. Jelasnya, kebahagian Stoa terletak pada kemampuan seseorang untuk meminjam istilah Jawa “menerima ing pandum”. Menerima apa yang menjadi bagiannya.


Bagaimana konsep kebahagiaan Aristoteles? Menurut Aristoteles, kebahagiaan manusia terdapat pada aktivitas yang khusus dan mengarah pada kesempurnaanya. Apa aktivitas khusus pada manusia yang mengarah pada kesempurnaanya? Menurut Aristoteles, potensi khas manusia yang membedakan dari binatang atau makhluk lain adalah akal budi dan spiritualitasnya. Tidak ada satupun mahluk hidup selain manusia yang mempunyai potensi ini. Karena itu, aktivitas dan aktualitas manusia yang bisa mengarahkan pada kebahagiaan adalah semua bentuk aktivitas yang melibatkan bagian jiwa yang berakal budi. Namun, karena manusia hidup dalam alam dunia dan masyarakat, maka aktualisasi dari akal budi tersebut bukan semata-mata diarahkan pada Yang Maha Budi dan Idea, tetapi juga diarahkan pada kehidupan konkrit melalui partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Tegasnya, kebahagiaan tercapai dengan cara memaksimalkan potensi diri untuk memandang realitas ruhani di satu sisi, dan aktif dalam berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat disisi yang lain.


Ini sama yang dirumuskan Erich Fromm, bahwa kebahagiaan tidak terletak atas apa yang kita miliki (having) tapi lebih pada kemampuan aktualisasi diri (being). Yaitu, kemampuan menyatakan dan menjadikan potensi-potensi yang dimiliki atau “mimpi-mimpi” menjadi kenyataan. Dengan demikian, jika kebahagiaan Epicuras dan John S. Mill terletak pada kemampuan lari dari rasa sakit, kebahagiaan Agustinus terjadi dalam Tuhan dan Stoa dalam alam, kebahagiaan Aristoteles terletak pada diri manusia sendiri, pada aktivitasnya untuk mengembangkan potensi-potensi hakikinya untuk menjadi sempurna.

Namun demikian, aktivitas menuju kebahagiaan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Aristoteles, aktivitas yang menyebabkan kebahagiaan harus dijalankan menurut asas “keutamaan”. Hanya aktivitas yang disertai keutamaan yang dapat membuat manusia bahagia. Di samping itu, aktivitas tersebut mesti dilakukan secara stabil, dalam jangka waktu yang panjang, bukan hanya sporadis. Jelasnya, dilakukan secara istiqamah.


Aktualisasi Diri Sebagai Kebahagiaan

Bagaimana aktualisasi diri bisa dinilai sebagai kebahagiaan? Dalam pandangan Aristoteles, aktualisasi diri yang dinilai sebagai kebahagiaan adalah aktualisasi yang mengakibatkan kesempurnaan pada yang bersangkutan. Kesempurnaan mata adalah melihat, kesempurnaan makhluk hidup adalah mengembangkan psikhisnya, dan kesempurnaan manusia adalah aktualisasi dari kemungkinan tertinggi yang hanya terdapat pada manusia; akal budi dan ruhaninya. Dengan demikian, kebahagiaan manusia sama dengan menjalankan aktivitas yang spesifik baginya, yaitu mengembangkan pemikiran dan spiritualitas. Bagi manusia, kebahagiaan adalah memandang kebanaran.


Akan tetapi, kebenaran yang harus dipandang tersebut tidak hanya yang ada pada alam Idea sebagaimana dikatakan Plato. Benar bahwa manusia mengandung dimensi-dimensi ruhani dari alam transendent, tetapi ia juga mengandung wadag yang inderawi; begitu pula, ia bukan pula wadag tetapi juga mengandung nilai ruhani. Manusia adalah paduan dimensi ruhani dan duniawi. Karena itu, kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai dengan cara bertindak (aktif) mengaktualisasikan potensi atau nilai-nilai luhur manusia yang berasal alam transendent dalam kehidupan nyata, riil.
Mengapa harus aktif? Menurut Aristoteles, manusia menjadi bahagia bukan dengan cara pasif menikmati sesuatu, atau bahwa segala yang diinginkan tersedia, melainkan dengan cara aktif. Dengan bertindak ia menjadi nyata. Hanya dengan perbuatan manusia menyatakan diri, ia menjadi riel. Sesuatu yang hidup bermutu tidak tercapai melalui nikmat pasif, melainkan melalui hidup yang aktif. Manusia bahagia dalam merealisasikan atau mengembangkan potensi-potensi dirinya. Selain itu, aktualisasi aktif dalam merealisasikan dan mengembangkan potensi khas manusia tersebut harus dilakukan menurut aturan keutamaan.


Hanya aktivitas yang disertai keutamaan (aretê) yang membuat manusia menjadi bahagia. Dan yang penting, tindakan maksimal atas potensi-potensi diri tersebut tidak terjadi secara sporadis atau berkala, tetapi terjadi dalam jangka waktu yang lama. Jelasnya, dilakukan secara istiqamah, langgeng.
Dengan demikian jelas bahwa kebahagiaan yang dalam etika Aristoteles digunakan sebagai tolok ukur baik buruknya sebuah tindakan terletak pada kemampuan yang bersangkutan dalam mengaktualisasikan potensi-potensi khas dirinya. Semakin seseorang mampu mengaktualisasikan potensi khasnya, yang tentu disertai keutamaan, maka semakin dinilai baiklah tindakannya, karena itu berarti semakin mengarah kepada kebahagiaan.


Keutamaan
Aristoteles melukiskan keutamaan moral sebagai suatu sikap watak yang memungkinkan manusia untuk memilih jalan tengah antara dua kutub ekstrem yang berlawanan. Sebagai contoh, dalam belanja, pengeluaran terlalu banyak disebut boros, terlalu hemat disebut kikir. Diantara dua kutub ini, keutamaan adalah mengambil jalan tengah; tidak boros juga tidak kikir yang disebut “murah hati”. Yang perlu dicatat, bagi Aristoteles, keutamaan baru menjelma sebagai keutamaan yang sungguh-sungguh setelah yang bersangkutan mempunyai sikap tetap dalam menempuh jalan tengah tersebut.


Bukan sekedar terjadi dalam beberapa kasus. Juga bahwa jalan tengah tidak dapat ditentukan dengan cara yang sama untuk semua orang. Artinya, apa yang dimaksud jalan tengah ini sangat subjektif, bukan objektif.Jika subjektif, bagaimana keutamaan bisa tentukan? Adakah norma-norma untuk itu? Menurut Aristoteles, rasio menetapkan pertengahan (keutamaan) tersebut dan harus menentukannya sebagaimana orang yang bijakasana dalam bidang praktis menentukan keutamaan. Aristoteles menganggap bahwa keutamaan bukan persoalan theori, tapi praktek. Seorang sarjana yang mengerti theori moral belum tentu bisa berlaku sesuai keutamaan moral, tapi orang yang mempunyai kebijaksanaan praktis (phronesis) mampu menentukan masalah ini, berdasarkan pertimbangan konkrit. Referensi :  www.kuliahbahasainggris.com

Cara Mendidik Anak di Usia Dini Menurut Para Ahli yang Baik dan Benar

Mendidik anak di usia dini menurut para ahli atau pun yang umumnya lebih dikenal dengan istilah pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan yang umumnya ditempuh sebelum jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Hal yang demikian ini adalah salah satu bentuk upaya yang dilakukan para orangtua dengan tujuan untuk pembinaan pada rangsangan pendidikan usia 0 hingga 6 tahun.

Cara Mendidik Anak di Usia Dini Menurut Para Ahli yang Baik dan Benar
Cara Mendidik Anak di Usia Dini Menurut Para Ahli yang Baik dan Benar

Selain hal tersebut juga bertujuan untuk membantu perkembangan sih anak secara rohani dan juga jasmani supaya sih anak alami kesiapan yang cukup pada saat memasuki pendidikan yang lebih lanjut lagi, baik secara formal, non formal, atau pun informal.

Cara Mendidik Anak di Usia Dini Menurut Para Ahli yang Baik dan Benar

Tak hanya itu saja, pendidikan anak usia dini menurut para ahli ini merupakan salah satu bentuk dari pendidikan yang lebih utamakan pada peletakan dasar yang arahkan kepada pertumbuhan dan perkembangannya seperti dengan perkembangan fisik, perkembangan moral, agama, dan perkembangan kecerdasaan atau pun kognitif.

Pemberian pendidikan anak usia dini

Selian dengan yang sudah kami singgung di atas, hal yang juga tak kalah pentingnya adalah perkembangan sosio emosional atau sikap emosi dari segi bahasa serta komunikasi. Hal tersebut sesuai dengan tahapan perkembangan berdasar kelompok usia yang nantinya akan dilalui oleh anak usia dini.

Pemberian pendidikan anak usia dini jika menurut para ahli ini akhirnya memunculkan berbagai karakteristik dari sih anak usia dini tersebut, diantara pribadi yang unik, imajinasi, suka fantasi, mempunyai keingintahuan yang cukup besar, mempunyai sisi egosentris besar, masa paling potensial untuk belajar, mempunyai tingkatan konsentrasi yang pendek, serta sebagai bagian dari makhluk social. Dengan mengetahui karakteristik pada anak maka diharapkan orangtua bisa membentuk kepribadian sih anak jadi pribadi yang baik nantinya saat dia dewasa.

Pendidikan yang ideal dan baik seharusnya sudah dilakukan sejak dia lahir hingga jadi dewasa dengan cara menggunakan pendekatan secara alamiah. Pendidikan anak pada usia dini ini menurut para ahli lebih menganjurkan supaya orangtuanya memberi kebebasan sesuai bakat yang dimiliki oleh anak. Sehingga dengan demikian anak nantinya akan dapat menjadi dirinya sendiri serta mengeluarkan potensi yang dia miliki secara maksimal. Selain hal tersebut pendidikan agama tersebut juga merupakan salah satu hal yang memiliki peranan penting dan harus dilakukan di mana pun anak Anda berada.

Tujuan utama diberikan pendidikan anak usia dini ini sendiri adalah untuk bisa menciptakan anak Indonesia dengan kualitas baik dan bisa tumbuh serta berkembang berdasarkan tingkatan perkembangannya, sehingga anak akan mempunyai cukup kesiapan untuk bisa hadapi kehidupan di masa dewasanya kelak.

Demikian cara mendidik anak di usia dini menurut para hali yang baik dan benar. Semoga saja informasinya bermanfaat. Sumber : www.sekolahbahasainggris.com

Tips Jitu Mendidik Anak Agar Tak Jadi Individu Materialistis

Mendidik anak sekarang ini pastinya mempunyai tantangan tersendiri, sebab sekarang orang lebih banyak ukur kebahagian dan juga kesuksesan tersebut dengan materi. Anda haruslah lebih berhati-hati lagi pada saat memilih cara mendidik anak. Biat Anda bisa saja ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak, akan tetapi tanpa Anda dasari justru mendidiknya jadi anak materialistis.

Tips Jitu Mendidik Anak Agar Tak Jadi Individu Materialistis
Tips Jitu Mendidik Anak Agar Tak Jadi Individu Materialistis

 

Oleh karena itulah, menjadi tugas orangtua untuk bisa menanamkan pemahaman pada anak bahwasannya karakter moral, konstribusi terhadap lingkungan, dan juga kualitas hubungannya akan jauh lebih bernilai lagi daripada materi yang bisa didapatkan.

Dengan kata lainnya, orangtua harus bisa menyakinkan anaknya bahwasannya identitas mereka tidak didasarkan kepada apa yang telah mereka miliki, tapi kepada siapa mereka. Orangtua harus mempelajari sejumlah cara bagaimana membesarkan anak tanpa menjadikan mereka jadi individu yang materialistis. Ini cara atau tips jitunya.

Tips mendidik anak agar tak jadi individu materialistis

Batasi anak menonton tv

Ini merupakan aturan yang paling sering disebut para ahli. Ada baiknya anak tak menonton lebih dari 2 jam di setiap harinya. Selain dengan sejumlah program yang telah dibuat banyak yang tak sesuai dengan usia anak, iklan yang telah muncul diantara program tersebut sering menarik perhatian anak serta pada akhirnya menjadikan mereka menginginkannya. Cara lainnya yang bisa Anda lakukan adalah mengalihkan perhatian anak ketika jeda iklan. Jika tidak, jelaskan pada anak Anda mengenai teknik pemasaran yang umumnya dipergunakan dalam iklan atau pun tonton acara yang tak ada iklannya.

Katakan tidak saat anak Anda ingin beli benda yang diinginkan

Tidaklah tindakan tepat untuk selalu memberi apa saja yang anak Anda inginkan. Lagipula Anda tak selalu mendapat apa yang diinginkan di dalam hidup ini bukan? Jadi, mengatakan tidak atau pun menolak untuk membelikan benda-benda yang anak Anda ingin bukan hal yang salah.

Berikan hadiah tanpa memberi pada anak

Sesekali sebaiknya juga latih anak untuk tak membeli hadiah bagi anggota keluarga. Hal yang demikian ini akan mendorong anak untuk lebih kreatif di dalam membuat hadiah tanpa keluarkan uang, contohnya membuat kartu, poster, atau pun puisi yang gambarkan rasa sayang mereka bagi para penerima hadiah.

Latih kesadaran anak untuk menyumbang

Anda tak harus memaksa anak untuk menyumbangkan benda kesayangan. Anda bisa jadi contoh baik dengan cara menyumbangkan barang sendiri untuk kegiatan amal serta jelaskan alasan Anda untuk melakukan hal tersebut. setelah itu biarkan anak Anda tahu bahwasannya mereka bisa mendonasikan barang-barang pula.

Demikianlah informasi tentang tips jitu mendidik anak agar tak jadi individu materialistis. Semoga bisa bermanfaat. sumber : www.dosenpendidikan.com

Manfaat Filsafat Dalam Pendidikan

Cabang ilmu dalam dunia pendidikan memang ada banyak sekali yang perlu dipelajari. Dan sekarang ini masing – masing cabang ilmu dapat dipelajari dengan gelar dan program ilmu yang berbeda – beda. Salah satu cabang ilmu pendidikan yang juga sangat penting adalah filsafat.

Manfaat Filsafat Dalam Pendidikan
Manfaat Filsafat Dalam Pendidikan

Filsafat sendiri memiliki arti cinta pada ilmu hikmah. Dan dalam perkembangannya memang filsafat ada banyak manfaatnya dalam dunia pendidikan. Seiring berjalannya waktu, pengertian dari ilmu filsafat juga ikut berkembang. Ada yang berpendapat bahwa filsafat merupakan pekerjaan yang muncul dari pemikiran, ada yang mengartikan filsafat sebagai suatu konsep dasar guna mengenal kehidupan dan masih banyak lagi. Dengan semakin banyak perkembangan tentang hakikat dan juga ilmu filsafat juga filsafat kemudian tak jarang dikaitkan dalam dunia pendidikan karena pendidikan filsafat ini memang suatu pendidikan yang sangat baik dalam penerapannya Apa saja manfaat filsafat?

Manfaat Filsafat Dalam Pendidikan

Filsafat mengajarkan melihat sesuatu secara multi dimensi

Ilmu filsafat memang ilmu yang sangat penting karena dengan pendidikan ilmu filsafat kita akan dapat menilai dan juga memahami segala sesuatunya tidak hanya dari permukaan saja dan tak hanya juga dari sesuatu yang terpancar dimata melainkan jauh lebih dalam dan jauh lebih luas.

Filsafat mengajarkan tentang diri sendiri dan dunia

Memang akan ada banyak manfaat dari filsafat. Dan salah satu manfaat dari filsafat yaitu akan dapat membantu dalam memahami diri dan juga sekeliling. Dengan filsafat bahkan setiap pertanyaan tentang alam ada jawabannya dan dapat dipelajari.

Filsafat membantu mengasah hati dan pikiran lebih kritis

Manfaat lain dengan pendidikan filsafat adalah kita akan dapat menerima segala sesuatunya tanpa lebih dulu tahu maksud dari pemberian yang kita terima. Dengan demikian kita akan bisa menjadi seseorang yang berpikir ke depan dan punya pola pemikiran yang lebih kritis.

Filsafat akan membuka cakrawala berpikir yang baru

Ide – ide yang jauh lebih kreatif dalam pemecahan setiap persoalan lewat nalar secara logis akan didapatkan. Bahkan dengan pendidikan filsafat tindakan beserta pemikiran yang koheren serta argumen dan asumsi yang lebih kritis akan kita dapatkan. Cara berpikir yang lebih rasional juga akan menjadi suatu kelebihan dari pendidikan filsafat.

Filsafat membantu pemikiran lebih mendasar

Jika seringkali kita berpikir atas sesuatu dari covernya saja atau dari yang dilihat atau dari yang didengar saja. Maka kali ini dengan pendidikan filsafat kita akan bisa berpikir jauh lebih kritis bahkan sampai aspek yang mendasar sekalipun.

Demikian sedikit informasi tentang Manfaat Filsafat Dalam Pendidikan. Semoga informasi diatas menjadi informasi yang bermanfaat dan membuat kita semakin paham tentang arti penting pendidikan filsafat. sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/contoh-surat-kuasa/