Premis kedua: Manusia Pencipta Sejarah

Premis kedua: Manusia Pencipta Sejarah

Premis kedua Manusia Pencipta Sejarah

Eksistensi manusia sepanjang hidupnya berada

dalam posisi yang mengharuskan agar menciptakan sejarah. Tindakan sejarah yang pertama ialah memproduksi cara untuk memuaskan kebutuhan, yakni produksi untuk kehidupan material. Tindakan ini adalah kondisi yang fundamental, di mana sejak ribuan tahun lalu sampai hari ini, setiap hari dan jam, memberikan waktu untuk keberlangsungan hidup. Kedua, tindakan sejarah untuk mencapai kepuasan atas kebutuhan pertama dan mendorong adanya kebutuhan baru selanjutnya. Ketiga, tindakan sejarah untuk menciptakan manusia baru, mereproduksi generasi baru, sehingga terbangun hubungan antara laki dengan perempuan, orang tua dengan anak, yakni keluarga dan relasi sosial di dalamnya. Keempat, tindakan sejarah untuk memproduksi tenagakerja dan tenaga prokreasi sebagai hubungan ganda, di satu pihak merupakan hubungan sosial dan di lain pihak merupakan sesuatu yang alami.

 

Kesadaran manusia diperoleh pula dari keterkaitan keempat aspek

tindakan sejarah tersebut. Manusia menyadari dirinya yang dinyatakan melalui bahasa. Bahasa adalah kesadaran praktis yang menyatakan manusia eksis untuk manusia lain, untuk dirinya sendiri, dan juga sebagai alat berhubungan dengan orang lain. Dengan demikian, tindakan sejarah menciptakan tiga momentum, yakni kekuatan produksi, keadaan masyarakat dan kesadaran, yang di dalam terdapat kontradiksi-kontradiksi[20].

 

Premis Ketiga: Kepemilikan Pribadi dan Komunisme

Kontradiksi berada di dalam pembagian kerja, baik secara alamiah di dalam keluarga maupun pemisahan masyarakat ke dalam keluarga yang saling berlawanan satu sama lain. Secara keseluruhan, kontradiksi dipicu oleh distribusi yang tidak adil, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, dalam hal kepemilikan. Pada tingkatan sederhana di dalam keluarga, kita mendapati isteri dan anak sebagai budak suami. Perbudakan dalam keluarga merupakan kepemilikan pertama, bahkan menjadi dasar hubungan ekonomis modern antara penguasa dan buruh. Kontradiksi juga dipicu oleh kepentingan yang berbeda antara individu, keluarga dan komunal.[21]

Kekuatan sosial merupakan kekuatan produksi yang berlipat-lipat yang tumbuh dari kerja bersama antara individu yang ditentukan oleh adanya pembagian kerja. Kerja bersama bukanlah kehendak yang disadari (voluntary) tetapi sesuatu yang alamiah, karena adanya alienasi. Alienasi karena adanya pembagian kerja, itulah dasar atau basis masalah manusia yang ditemukan oleh Marx. Seharusnya pekerjaan merupakan sarana manusia merealisasi diri, tetapi pada kenyataannya manusia malah mengalami keterasingan. Jawaban Marx adalah: penghapusan kepemilikan pribadi, dan menciptakan masyarakat komunis. Komunisme bukanlah keadaan yang dibangun, melainkan sebuah realitas ideal yang akan menyesuaikan diri. Marx menyebut komunisme sebagai gerakan nyata untuk menghapus keadaan saat ini, kondisi gerakan yang merupakan hasil dari premis yang eksis saat ini.

Baca Juga :