Ilusi Kaum Idealis Jerman

Ilusi Kaum Idealis Jerman

Ilusi Kaum Idealis Jerman
Ilusi Kaum Idealis Jerman

Pada bagian pertama naskah The German Ideology

Marx menggambarkan secara kritis realitas filosof dalam hubungannya dengan realitas Jerman. Ia memulai dengan mengkritik cara penafsiran sejarah sebelumnya di Jerman, di mana kekacauan kerajaan-kerajaan selalu melahirkan dari dalamnya muncul seorang pahlawan yang asalnya tak diketahui namun memenangkan kekacauan situasi. Dalam kekacauan Jerman dan perubahan-perubahan industri pada masa itu, pahlawan yang muncul adalah kaum Hegelian Muda Kanan yang menyandang gaya hidup kaum borjuasi. Marx menyebut kaum Hegelian Muda ini begitu sarkastis, yakni charlatanry –orang yang mengaku-aku mempunyai pengetahuan dan kemampuan menjelaskan segala sesuatu secara panjang lebar seperti penjual obat.[14] Gerakan kaum Hegelian Muda ini, menurut Marx bagaikan tragedi-komedi (tragicomic) yang berlawanan dengan ilusi kepahlawanan, karena mereka hanya memajukan diri sendiri.

 

Pada bagian ini Marx juga mengkritik agama

yang sibuk mencari setan sebagai musuh bersama (archenemy), dan para filosof juga berkutat di sini. Dominasi agama (dalam konteks ini Protestan) yang terberi telah menjiwai politik, moral manusia, hukum, bahkan menciptakan manusia ideal sebagai “yang religius”. Jika ada dari kaum Hegelian Muda yang mengkritik hal ini, menurut Marx, kritik mereka hanya melawan omong kosong. Marx mengatakan kaum Hegelian Muda ini hanya berilusi di dalam kesadarannya telah melakukan perubahan, tetapi sekali lagi, Jerman tidak pernah berubah dari kekacauan politik-ekonominya.

 

Kritik Feuerbach terhadap Hegel

membuka mata Marx terhadap kenyataan manusia yang inderawi dan menjadi titik tolak pemikiran materialismenya. Jika agama adalah perealisasian hakekat manusia dalam angan-angan saja, maka ada tanda bukti bahwa manusia belum berhasil merealisasi hakekatnya. Jika Feuerbach mengatakan agama telah mengasingkan manusia dari dirinya, maka menurut Marx, agama hanya tanda keterasingan manusia, tetapi bukan dasarnya. Lalu di manakah dasar atau basisnya? Marx menjawab dengan mengajukan tiga premis yang diperoleh dari keadaan masyarakat, sebagai berikut:

Sumber : http://devitameliani.blog.unesa.ac.id/makna-proklamasi-bagi-indonesia