Syukron Najib, Spesialis Pembuat Miniatur Benda Seni dari Barang Bekas

Syukron Najib, Spesialis Pembuat Miniatur Benda Seni dari Barang Bekas

Syukron Najib, Spesialis Pembuat Miniatur Benda Seni dari Barang Bekas
Syukron Najib, Spesialis Pembuat Miniatur Benda Seni dari Barang Bekas

Hobi rupanya tidak hanya menjadi pengisi waktu luang. Sering kali juga menjadi pijakan pertama dalam memulai usaha. Misalnya, yang dilakukan Syukron Najib. Dari mengutak-atik barang bekas, dia bisa menghasilkan uang.

DITOLAK itu memang tidak enak rasanya. Tapi, gara-gara ditolak, sering kali muncul

motivasi tinggi untuk lebih baik. Penolakan yang diterima Syukron, 20, membuatnya menemukan ”cinta” pada seni kriya.
Syukron Najib, Spesialis Pembuat Miniatur Benda Seni dari Barang Bekas
5 Hal Tentang Syukron (Grafis: Rizky Janu/Jawa Pos/JawaPos.com)

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) itu merintis usaha miniatur unik dari hobinya mengutak-atik barang bekas. Tadinya dia hobi menggambar. Sayangnya, waktu SMP dia ditolak untuk mewakili sekolah dalam lomba menggambar. ”Gambarmu kurang bagus, bikin karya lain saja,” kata Syukron menirukan ucapan gurunya. Alhasil, dia justru melaju dalam perlombaan seni kriya setelahnya.

Langkah awal Syukron mempelajari seni kriya tidak lepas dari sang ayah, Subarno. Bersama Subarno, Syukron belajar membuat miniatur dari barang bekas alias rongsokan. Mulai botol bekas dan karet bekas sandal, sampai bungkus snack. Semua bahan tersebut diubahnya menjadi sebuah perahu layar. Karya itu pulalah yang membawa Syukron menyabet juara III di tingkat Kabupaten Pasuruan.

Percobaan pertama itu membuat dia tidak mau berhenti. Dia terus mengasah kemampuannya d

an membuat karya lain. Lantas, Syukron bergeser untuk mengolah kayu bekas mebel. Sambil mengingat-ingat pengalamannya tersebut, dia memperlihatkan sebuah dokar mini dari kayu yang telah dibuatnya. Memang terlihat persis aslinya. Dokar itu dibuat dari kayu bekas. ”Paling susah kalau menggergaji kayunya. Itu dulu ayah yang mengajari,” ungkapnya.

Hobi itu terus dirawat olehnya. Mengutak-atik bahan apa pun menjadi mainan pajangan yang punya nilai seni. Tapi, saat SMA, Syukron sempat vakum. Kesibukannya sebagai anak pondokan di SMA Darul Ulum Jombang menghentikan hobinya sejenak. Barulah setelah lepas dari SMA, dia kembali melanjutkan kreativitasnya itu.

Selama di UINSA, Syukron merasa ”gatal” untuk mengumpulkan kembali barang bekas. Korek bensol

rusak jadi sasarannya untuk dikumpulkan. Awalnya, lanjut dia, korek itu sekadar disimpan. ”Tapi pas diamati, kayaknya lekuk-lekuknya pas kalau diubah jadi vespa,” katanya.

Kreativitas Syukron yang terhenti tiga tahun rupanya tidak hilang sepenuhnya. Hanya dalam waktu 30 menit, sebuah miniatur mungil berbentuk vespa antik terwujud. ”Cuma ditekuk-tekuk. Semua isi di dalamnya dikeluarin,” terangnya.

Tidak hanya membuat miniatur vespa, dia juga membuat perahu dari karet sandal. Dia sering melihat perahu khas Pasuruan di pantai yang tidak jauh dari rumahnya. ”(Rumahku) hanya 1 kilometer dari pantai. Saya suka cari ide ke situ,” imbuhnya. Lalu, ada pula miniatur kursi yang dibuatnya dari kaleng susu bekas dan peci miliknya yang rusak. Ada pula miniatur sepeda dua dimensi dari barang-barang bekas yang disimpannya di laci. ”Suka ngumpulin aja. Eh, pas muncul idenya, langsung dibikin,” ujarnya.

 

Sumber :

https://www.storeboard.com/blogs/education/definition-of-text-review-and-examples/965580