Perhitungan Untuk Perencanaan Kebutuhan Benih dan Persemaian

Perhitungan Untuk Perencanaan Kebutuhan Benih dan Persemaian

Perhitungan Untuk Perencanaan Kebutuhan Benih dan Persemaian
Perhitungan Untuk Perencanaan Kebutuhan Benih dan Persemaian

Problema dalam Persemaian

Benih di bedengan tabur berkait dengan :

  1. % kemurnian benih
  2. % kerusakan benih
  3. Viabilitas benih /daya kecambah
  4. % kadar air benih (untuk benih ortodoks sekitar 8 – 14 %)
  5. Batas 80 %

Di bedeng sapih/persemaian :

  1. Kematian semai
  2. Kerusakan semai akibat kurang baik dalam pemeliharaan (baik oleh serangan hama dan penyakit atau sebab lain)

Di Tempat Penimbunan Semai (TPS)/pool semai sementara :

  1. Kematian semai
  2. Kerusakan (stress akibat transportasi)

Di lapangan :

  1. Jarak tanam
  2. Kematian semai (kesalahan penanganan bibit, dll.)

 

Pengertian

 

  1. Viabilitas benih = daya kecambah, yaitu kemampuan benih untuk berkecambah sampai akhir waktu perkecambahan, yaitu perbandingan antara jumlah benih yang berkecambah dengan jumlah benih yang dikecambahkan yang biasanya dinyatakan dalam %.
  2. Kemurnian benih = suatu angka yang menunjukkan perbandingan antara jumlah berat benih murni (bebas dari kotoran dan atau spesies/varietas lain) dengan jumlah berat sampel  yang diuji seluruhnya, yang dinyatakan dalam %.
  3. Kematian semai  di persemaian adalah semai-semai yang mati setelah semai disapih di bedengan sapih, atau dengan kata lain semai-semai yang mati di bedengan sapihan termasuk juga semai yang kualitasnya jelek sehingga tidak diperhitungkan.
  4. Kerusakan semai dalam transportasi, yaitu kerusakan pada semai yang diakibatkan adanya proses pengangkutan dari persemaian ke TPS maupun ke Lapangan atau bahkan pada waktu dibawa ke lobang tanam.
  5. Kematian semai di TPS (Tempat Penimbunan/Penampungan Semai) adalah kematian semai akibat kurangnya perawatan /kurang hati-hati setelah semai di drop ke lokasi TPS.
  6. Kematian semai di lapangan adalah kematian semai setelah semai ditanam di lapangan. Penyebabnya antara lain oleh kekurang hati-hatian pada waktu proses penanaman, waktu tanamnya kurang tepat atau bisa saja disebabkan  oleh serangan hama/penyakit.
  7. Semai yang ditanam pertama kali di lapangan = yaitu semai yang ditanam sesuai dengan jarak tanamnya (yang ditanam riil di lapangan). Jumlah ini diharapkan sebagai tanaman yang akan hidup terus (100%). Atau dengan kata lain sama dengan luas kawasan efektif yang akan ditanami dibagi dengan jarak tanamnya.
  8. Semai siap tanam adalah semai yang berdasarkan hasil penilaian dari aspek mutu semai, pantas untuk ditanam di lapangan. Jadi semai-semai tersebut telah memenuhi standar mutu bibit dan bisa dikirim ke lapangan untuk ditanam. Jadi pada kelompok semai tersebut telah dilakukan seleksi bibit.
  9. Batas 80 % yaitu saat atau waktu dimana 80 %  dari  benih yang  berkecambah  itu tercapai.  Batas 80% perlu diketahui karena dapat digunakan untuk meramal atau memperkirakan kapan pengelola harus menabur benih agar semai yang diproduksi umurnya sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, juga  dapat diketahui bahwa semai yang berkecambah setelah batas 80 % biasanya kualitasnya jelek, vigoritasnya rendah, dan bila ditanam di lapangan mungkin akan kerdil serta mudah terserang hama dan penyakit.
  10. Luas persemaian.

Luas persemaian dibagi dua, yaitu Luas persemaian efektif dan luas persemaian seluruhnya/total.
Luas persemaian efektif adalah jumlah luas bedeng tabur dan jumlah luas bedeng sapih.
Bila dibandingkan dengan luas persemaian total, maka luas persemaian efektif adalah berkisar sekitar 60 % dari luas persemaian total, atau

  • Luas Persemaian total = 100/60 X luas persemaian efektif. (atau) 100/60 x Jumlah luas(bedeng tabur + bedeng sapih).

Kenapa luas persemaian ≠ 100 %,  karena yang sekitar 40 % digunakan untuk jalan pemeriksaan, jalan antar bedengan, bangunan sarana penunjang persemaian dll.

Mengapa Diperlukan?

Mengapa kita perlu mengetahui perencanaan kebutuhan benih ?  karena sering terjadi permasalahan kegagalan di bidang penanaman hanya karena kekurangan bibit. Untuk mengatasi kemungkinan terjadinya kekurangan stok bibit,   mereka biasanya menambah stok bibit sebanyak 20 % dari bibit yang akan ditanam. Angka 20 % adalah untuk memperkirakan / estimasi kebutuhan bahan sulaman (jadi hanya berdasarkan pengalaman semata). Sedangkan jumlah bibit yang dipakai pedoman adalah jumlah bibit yang ditanam untuk pertama kali atau yang diharapkan akan hidup terus.

Contoh Persemaian
Sumber Gambar : http://pengertian-definisi.blogspot.co.id

Contoh soal

Saudara diberi tugas untuk merehabilitasi lahan seluas 500 ha. Luas efektif yang bisa dan mungkin ditanami hanya 80 % dari kawasan hutan tersebut (yang 20 %  dipergunakan untuk jalan pemeriksaan, alur, sungai dan lahan becek/berbatu). Jenis yang akan ditanam adalah sengon (Paraserianthes falcataria).

Bila diketahui:
a. Jarak tanam yang ditetapkan 2 x 2,5 m
b. Jumlah benih sengon per kg nya : 40.000 butir.
c. Kemurnian benih : 90 %, viabilitas benih : 80 %, batas 80 % dicapai pada hari ke 20
d. Kematian semai di persemaian 10 %, Pengangkutan semai dilakukan tanggal 20 Desember 2007, tepat semai berumur sekitar 4 bulan.
e. Kerusakan semai pada waktu dibawa ke lapangan : 10 %
f. Kematian semai di Lapangan : 10 %.

Pertanyaan

a. Berapa kg benih yang diperlukan untuk kegiatan  tersebut ?
b. Berapa semai siap tanam yang harus disiapkan di persemaian ?
c. Berapa jumlah semai yang pertama kali ditanam di lapangan ?
d. Kapan benih harus ditabur agar pada tanggal pengangkutan ke lapangan semai tepat berumur 4 bulan ?
e. Berapa luas persemaian bila ukuran bedengan tabur 5 x 1 m dan setiap bedeng tabur mampu menampung benih 2 ons, dan ukuran bedeng sapih 5 x 1 m dan setiap bedeng sapih dapat menampung semai sebanyak 500 batang ?

Jawaban Soal

A. Cara pertama (alternatif satu)

Sebagai dasar perhitungan adalah jumlah tanaman riil di lapangan, yaitu sebanyak tanaman yang jumlahnya sesuai dengan jarak tanamnya.

a. Semai yang ditanam pertama kali adalah semai yang ditanam sesuai dengan jarak tanamnya, yaitu = 80/100 x 500 x 10.000 : (2,5 x 2) = 800.000 batang semai.
b. Jumlah benih yang diperlukan adalah = 800.000 : (% jadi x % semai yang bagus di transportasi x % hidup semai di persemaian x % viabilitas benih x % kemurnian benih)    =
800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100 x 80/100 x 90/100) =
800.000: ( 0,9 x 0,9 x 0,9 x 0,8 x 0,9) =1.524.157,903 butir benih.→ (1
kg = 40.000 butir) jadi kebutuhan benih = 1.524.157,903 : 40.000 =
38,10394758 kg atau dibulatkan = 38,104 kg.

c. Semai siap tanam = adalah semai yang pantas dan memenuhi standar penilaian bibit yang masih ada di persemaian. Jadi unsur yang masuk dalam soal ini adalah semai yang ditanam pertama kali dibagi dengan (% hidup di lapangan x %  semai yang bagus pada waktu dalam transportasi) = 800.000 : (90/100 x 90/100) = 987.654, 321 batang.
d. Tanggal 20 Desember 2004, semai tepat umur 4 bulan,  artinya, kita harus memperhitungkan batas 80 %, ( dalam soal ini diketahui pada hari ke 20) sehingga, benih harus ditabur pada tanggal 1 Agustus 2004.
e. Kemampuan bedeng tabur menampung benih 2 ons, kita punya benih sebanyak 38,104 kg = 381, 04 ons. Jadi kita memerlukan bedengan sebanyak = 381,04 : 2 = 190,5197 bedeng. Ukuran bedengan adalah 5 m x 1 m = ( 5 m2).
Jadi jumlah luas bedeng tabur = 190,5197 x 5 m2 = 952,599 m2

Jumlah bedengan sapih adalah ditetapkan berdasarkan pada  semai yang disapih = 800.000 : (% hidup di lapangan x % semai yang bagus x % hidup di persemaian) = 800.000 : (90/100 x 90/100 x 90/100) = 1.097.393,69 batang.

Bila dihitung dari benih yang disiapkan (berdasarkan hitungan jawaban titik a)  =   38,104 x 40.000 x (% kemurnian benih x % viabilitas benih) = 38, 104 x 40.000 x (90/100 x 80/100) = 1.097.393,69 batang.

Jumlah bedeng sapih = jumlah semai yang disapih : 500
= 1.097.393,69 /500 = 2194,79 bedeng
Luas bedeng sapih  = 5 m2 , maka jumlah luas bedeng sapih
= 2194,79 x 5 m2 = 10.973,94 m2

Luas persemaian total = 100/60 (Jumlah luas bedeng sapih + jumlah luas bedeng tabur)  = 100/60 x (10.973,94 + 952,599)
=  19. 877,56 m2 (=1,99 ha).

B. Cara kedua

Cara kedua adalah dihitung berdasarkan dengan jumlah benih per kg nya, untuk tumbuh menjadi semai. Caranya adalah  sebagai berikut:

1 kg benih = 40.000 butir. Maka dengan angka-angka yang diketahui pada soal, akan dapat dihitung dari 1 kg benih akan menjadi berapa tanaman yang hidup.

= 40.000 x % kemurnian x % viabilitas benih x % hidup di persemaian x % semai yang bagus pada waktu dalam transportasi x % hidup di lapangan = 20.995.2 batang.

Bila kita harus menghasilkan tanaman yang hidup terus adalah 800.000 batang,  maka  benih yang diperlukan adalah

= 800.000 batang : 20.995,2 batang  x 1 kg = 38, 104 kg.

Atau bila kita balik :

Kita mempunyai benih = 38, 104 kg, bila setiap kg bisa menjadi semai yang hidup terus = 20.995,2 batang, maka dari benih tersebut akan dihasilkan tanaman hidup sebanyak

= 38,104 x 20.995,2 batang = 800.001 batang (dibulatkan)

Bila per hektar lahan perlu tanaman 2000 batang (10.000 m2 : (2,5  x 2 ) m2 , maka luas lahan yang bisa ditanami

= 800.001 : 2000 = 400 ha. (dibulatkan)

dan seterusnya.

 

Baca Artikel Lainnya: