Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dibangun bersama dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah, maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang terus menerus dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, yang berlangsung selagi ini, budaya literasi sudah jadi ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia, seiring bersama dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, lebih-lebih di bidang digital.

Mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Kegiatan masyarakat, lebih-lebih kaum muda, memakai internet lebih banyak sebagai layanan hiburan. Padahal, pendidikan berbasis budaya literasi, termasuk literasi digital, merupakan keliru satu aspek penting yang mesti diterapkan di sekolah fungsi memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Walaupun demikian, penguasaan literasi yang tinggi pastinya tidak boleh melupakan aspek sosiokultural, gara-gara literasi merupakan anggota dari kultur atau budaya manusia.

Pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia, ditengarai belum mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi, atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kapabilitas analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif. Hal ini tergambar bahwa di sekolah, terkandung dikotomi pada studi membaca (learning to read) dan membaca untuk studi (reading to learn). Kegiatan membaca belum beroleh perhatian yang mendalam, lebih-lebih di mata pelajaran non-bahasa. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif, adaptif dan produktif, guru kurang memakai teks materi pelajaran untuk mengembangkan kapabilitas berpikir tinggi tersebut.

Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan kami gara-gara pengetahuan diperoleh lewat membaca. Oleh gara-gara itu, keterampilan ini mesti dikuasai peserta didik bersama dengan baik sejak dini.

Rendahnya keterampilan berikut perlihatkan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan. Praktik pendidikan yang dilakukan di sekolah sepanjang ini termasuk perlihatkan bahwa sekolah belum berfaedah sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan seluruh warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat.

Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai anggota dari ekosistem pendidikan.

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kesibukan di dalam gerakan berikut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum saat selagi studi dimulai”. Kegiatan ini dilakukan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik dan juga menambah keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, bersifat kearifan lokal, nasional, dan international yang disampaikan cocok langkah perkembangan peserta didik. ruangguru.co.id

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, menjadi dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta didik dan masyarakat termasuk menjadi komponen penting dalam GLS.

Desain Induk ini disusun fungsi memberi petunjuk strategis bagi kesibukan literasi di lingkungan satuan pendidikan dasar dan menengah. Pelaksanaan GLS dapat melibatkan unit kerja perihal di Kemendikbud dan termasuk pihak-pihak lain yang pikirkan terhadap pentingnya literasi. Kerja mirip seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan sangat dibutuhkan untuk laksanakan gerakan bersama dengan yang terintegrasi dan efektif.